Incredible India

What do you expect to see from a very famous country like India?

For sure Taj will come first, I did it too with this same silly pose as others do as well

…and India Gate

the next billion people of world’s population are from this region only

so Bajaj must be able to carry up to 12 people inside 

Despite of this density, people are very religious, pilgrimage take place almost everywhere

animal like cow, monkey, and many more are worshiped, they roam freely on street

many people become vegetarian, so mustard plantation like this become very important diet source

…but don’t worry for meat eater, this “Havemore” restaurant serve the best chicken dish in India, it lies downtown Delhi just few hundred metres from embassies complex

Technologically, India is stepping ahead, this defence exhibition at Pargati Maidan reveal some of it

this tol tag is fully automatic…and they claim the system was made in India, unlike e-toll card in Jakarta which still needs human supervision

The sophisticated and efficient Delhi Metro makes KRL Commuter Jabodetabek looks very-very silly. Their train runs every 5-10 minutes, here 50 minute delay is common. Thanks to Surinder Gulia (left) and Kaneshwaran (right) who join me on this ride.

Just like “3 idiot” movie, this Innova is our ride mostly during trip in India. This type of car is very common in along with Suzuki Maruti (called as Karimun in Indonesia), but no any Avanza seen here.

This tractor also very popular due to its versatility in carrying fertilizer up to kids to school. You can easily find these kind even in Delhi main road.

This high school boys not only wearing same uniform as in here, but also love to “nongkrong” sitting on street separator as we can see in any city of Indonesia. I feel homy.

Believe me, you can easily find Gudang Garam cigarette Made in Kediri – Indonesia in one of street vendor like this

Unlike those who mosty come to Jakarta, Indian people in India itself are very friendly, especially kids. They really make us feel like a real touris by waving their hand very enthusiastic.

 

Okay, from this window view of my Guest House room in Gurgaon I finish my journey report to India. Hopefully there will be exciting photos coming shortly in this blog. Bye for now. Cheers!

 

 

 

Tagged , , , , , , , , , ,

Berilah Kami Rejeki pada Hari Ini

Hari ini 6 tahun yang lalu saya mulai hari pertama saya bekerja di kantor setelah lulus kuliah beberapa bulan sebelumnya. Semenjak itu belum pernah benar-benar berhenti, hanya berpindah-pindah tempat kerja. Senang rasanya bisa makan dan hidup dari hasil bekerja sendiri sampai keterusan kecanduan duit. Kalau misal anda mengamati tulisan-tulisan saya sebelumnya tampak saya ini pro-duit sekali bahkan tidak jarang yang secara implisit orang-orang menyebut saya tamak. Saya tidak ingin meluruskan apa pun pandangan orang, hanya saja saya punya pemikiran lain soal duit.

Awalnya adalah berbalas status di twitter  bersama kawan-kawan lama yaitu Sidik, Oming, dan Momon. Kami membicarakan rejeki dan hubungannya dengan kekekalan energi. Setelah beberapa hari saya renungkan memang energi dan rejeki agak beda. Energi bersifat tetap dan hanya dapat dipindah atau dialih-wujudkan. Sementara itu rejeki selalu diciptakan, baik dengan ekstraksi terhadap alam, pembiakan tanaman dan hewan, atau efisiensi sistem kerja, namun keberadaanya tidak pernah dirasakan cukup oleh manusia.

Sedikit berpikir kenapa saya bertahan begitu lama dalam perburuan uang semata, ke manakah tujuan hidup sebenarnya? Tidakkah cukup saya memakan kebutuhan saya dalam sehari saja? Seperti falsafah para pengojek yang biasa pulang setelah mendapat duit cepek. Apakah karena saya tidak pernah berdoa Bapa Kami sehingga tidak pernah mencukupkan rejeki pada hari ini?

Buddhist monk accepting food in his begging bowl during alms - lonely planet

Sistem manusia tempat saya hidup di dalamnya telah sedemikian kompleks. Jaminan kesehatan, pendidikan, pergaulan, perjodohan hingga per-gadget-an menciptakan berbagai kebutuhan baru yang sebelumnya tidak pernah ada. Sayangnya saya mengamininya dan dengan bahagia turut serta dalam arus perburuan harta gaya manusia baru.

Andai saya lebih sederhana, mungkin lebih bisa membahagiakan diri sendiri dan orang banyak.

Sekadar perenungan akhir tahun.

Tangerang Selatan, 20 Desember 2011

Ditulis di bawah pengaruh anggur Four Seasons yang pahit dan asam yang dibeli di duty free airport Delhi.

Tagged , , ,

Selangkah ke Nusa Tenggara Timur

Perjalanan baru selalu menantang. Pengalaman baru menanti di suatu tempat nun jauh di sana. Cita-cita bekerja di lapangan yang saya idam-idamkan sejak 5 tahun yang lalu kesampaian juga. 

Ceritanya sekalian nganyari Nikon pocket, gambarnya lumayan dan tinggal jepret, cocok untuk saya yang kurang berbakat memegang SLR mahal. Berikut ini cerita fotonya:

Dari Jakarta subuh, belum sarapan. Ma’em brongkos sama teh poci dulu saat transit di Juanda, Surabaya.

Tiba di Kupang nan gersang, ibukota Nusa Tengga Timur yang terletak di Pulau Timor bagian barat

Bunderan H.I. nya Kupang, sepertinya begitu karena bepergian ke arah mana pun hampir selalu lewat bunderan ini.

Menuju Labuan Bajo di Pulau Flores keesokan harinya dengan pesawat troublesome MA-60 bikinan Cina yang dioperasikan Merpati. Mari berdoa “Selamet…Selamet…Sego liwet anget-anget, Amin.”

Tiba dengan selamat di Labuan Bajo, kota terdekat dengan Pulau Komodo yang kemaren sempet ribut-ribut soal New7wonder. Padahal ya menurut saya daripada sibuk ngurusin poling SMS mendingan besarkan ini Bandara Komodo, perbanyak penerbangannya, dan perbaiki terminal terutama toiletnya. Semua orang yang keluar toilet mukanya seperti menahan muntah terutama ibu-ibu bule.

Hotel Jayakarta Labuan Bajo, sayang cuma survei coverage GSM indoor saja, tidak menginap di sini.

Sisi hijau Pulau Flores. Flores memang lebih hijau dibanding bagian lain provinsi NTT.

Bule jauh-jauh kemari hanya ingin motret sawah, yo gantian tak potret lah.

Angkot di kota Ruteng yang rata-rata “dilindungi” oleh Yesus atau Bunda Maria.

Proyek pembangkit tenaga panas bumi Ulumbu, konon kini sudah beroperasi menyuplai listrik ke seluruh Flores, makin stabil deh.

Jauh-jauh ke Flores ternyata kena macet , gara-garanya sama juga dengan macet Semanggi, perbaikan jalan yang tidak kelar-kelar.

Kota Bajawa yang sejuk dan rapi, pusat perdagangan kopi Flores di zaman Belanda

Terminal Bandara Hasan Aroeboesman di Kota Ende yang kasihan banget, lebih mirip tempat pelelangan ikan asin.

Orang Jawa-lah yang menguasai binsis per-warung-an di mana-mana.

Nampang dulu di Pantai Wailiti, Maumere

Tidak di KRL, tidak di angkot. Tidak di Jakarta, tidak di Maumere. Orang Indonesia hobinya naik ke atap. Sebenarnya salah siapa kalau kita mendapati angkutan umum di mana-mana tidak layak?

Saatnya pulang, siap-siap terbang dari Bandara Frans Seda Maumere.

Tunggu cerita foto berikutnya dari tempat-tepat yang berbeda.

Tagged , , , , ,

Rumah di Masa Kecil

Pertama kali saya menghembuskan nafas di dunia hampir tiga puluh tahun yang lalu adalah di rumah sakit. Sesudah itu di rumah kontrakan kami di daerah Pabuaran, Cibinong, Bogor. Kesemuanya tidak ada dalam ingatan saya.
Karena kasihan, nenek membeli sebidang tanah untuk putra semata wayangnya yaitu bapak saya di kampung Nyencle seberang kampung Pabuaran yang dipisahkan oleh jalan raya Bogor dan Kali Baru. Sesudah rumah di atas tanah kami sendiri berdiri, di situlah saya mulai mengingat peristiwa-peristiwa masa kecil yang saya kenang dengan cukup indah. Berkat upaya nenek dan kedua orang tua dalam mewujudkan lingkungan rumah yang asri, syukurlah saya memiliki masa kecil yang patut dikenang. Sampai sekarang kalau saya membaca buku dan di dalamnya ada definisi mengenai rumah maka rumah di kampung Nyencle itulah yang ada di kepala saya. Mulai dari rumah Nyai Ontosoroh di Wonocolo dalam buku Bumi Manusia karya Pramoedya hingga rumah Menteri Aleksei Aleksandrovich Karenin dalam buku Anna Karenina karya Leo Tolstoy saya gambarkan dengan rumah masa kecil saya, bukan yang lain. Bukan karena bagusnya rumah itu namun rumah itu lengkap bagi saya. Yang terpenting tidak satu sisi tembok pun dari rumah kami bersinggungan dengan tembok tetangga seperti rumah kreditan sepuluh tahun yang saat ini saya huni.

Sketsa Sebuah Rumah

 

Di sisi barat memang tanah kami hanya bersisa sedikit dan langsung berbatasan dengan halaman milik Pak Karso, seorang tuan tanah asal Purworejo yang tinggal di Warung Buncit, Jakarta. Kelak Pak Karso ini pula yang mengakuisisi tanah kami dan “memaksa” kami sekeluarga pulang kampung ke Yogyakarta. Di situ ada pohon duren dimana terdapat kuntilanak dan soang milik Pok imah dari kisah “inception” yang pernah saya tulis sebelumnya.

Rumah kami menghadap selatan. Di depan rumah persis ada kolam ikan yang sewaktu TK saya gali sendiri dengan bantuan ibu yang lagi hamil besar adik bungsu. Semenjak TK saya punya visi ingin menjadi pengusaha kolam ikan seperti Bang Pendi tetangga kami di situ namun sampai setua ini hanya kolam itu saja progressnya. Di sebelah selatan ada kebun singkong dan berbagai tanaman lain milik Pak Tamin yang tinggal entah di mana namun sesekali mengunjungi kebunnya itu. Dia orang yang misterius, jarang bicara, namun seingat saya dia orang yang baik. Setidaknya seringkali saya diberi singkong bakar dari tangannya yang selalu mengenakan sarung walau sudah selesai menebang bambu. Di tengah kebunnya ada gubug kecil tempat beristirahat, anak-anak lain sering diusirnya kalau mengganggu tidur siangnya namun saya selalu diterima walaupun secara dingin.

Tidak ada konsep jalan dan tata kampung yang pada pemukiman Betawi tempat kami tinggal itu. Namun warga dari kampung Cimpaeun (agak  jauh di timur dan terpisah persawahan luas), yang ingin menuju jalan raya Bogor, biasanya melewati halaman depan rumah kami. Uniknya, pada waktu itu kampung Nyencle tempat kami tinggal adalah kampung Betawi sementara Cimpaeun yang terpisah tak sampai satu kilometer sudah berbahasa Sunda. Sekarang sih saya yakin bahasa gaul Jakarta atau justru Jawa lebih dominan di situ. Apalagi sawah yang memisahkan kedua kampung itu terakhir saya lihat sudah menjadi perumahan cluster yang hampir pasti dipenuhi pendatang.

Tanah kami agak luas di sisi timur. Di situlah kebun milik kami berada dengan berbagai pohon mulai kelapa, bambu, kecapi, kenari, kluwih, jambu bangkok dan sebagainya. Saat TK saya sudah bisa membaca dan kebetulan di perpustakaan ada buku bergambar yang menerangkan cara memanam jagung. Jagung yang hanya satu tongkol itu pun saya tanam hingga berhasil berbuah meskipun ompong-ompong. Sebelah timur berbatasan dengan selokan tempat favorit saya membuang hajat. Ibu selalu memarahi saya kalau download di situ, takut saya  hanyut katanya. Namun berjongkok di selokan lebih enak  daripada di WC rumah kami yang ventilasinya kurang baik.

Sebelah utara ada kuburan Mak Idup pemilik tanah terdahulu yang seperti umumnya orang Betawi dikubur di dekat rumah bukan di pemakaman desa. Bagi saya hal itu agak seram sehingga saya tidak berani ke ruang makan sendirian di waktu malam yang memang berbatasan dengan kuburan itu. Halaman kami lagi-lagi berbatasan dengan halaman Pak Karso. Di sisi itulah terdapat rumah penjaga tanah yaitu keluarga Ijan. Keluarga Ijan tidak memiliki anak sehingga mengangkat anak bernama Nasution (bukan orang batak, sekadar dinamai sesuai dengan Jenderal Besar A.H. Nasution). Mbah Ijan putri yang mengaku punya saudara di Suleman (Sleman) pernah mendatangi kami di Jogja setelah kami pindah. Kabarnya mencari saudaranya yang di Sleman itu namun tak kunjung ketemu. Belakangan kami mendapat kabar kalau Mbah Ijan meninggal karena tabrakan di jalan raya Bogor. Pak Ijan (Mbah Ijan kakung) adalah peminum kopi yang kuat meski seingat saya tidak merokok. Di rumah, bapak selalu melarang saya minum kopi, “ora pareng, isih cilik“, begitu saja katanya melarang. Namun di rumah Keluarga Ijan saya berbagi kopi, sebelum Pak Ijan minum dari gelas selalu ada sedikit yang dituang di cawan untuk saya dan jadilah saya peminum kopi hingga sekarang.
Belum lagi kenangan indah tentang bermain Tarzan-Tarzanan dengan berayun di pelepah pohon kelapa. Atau makan siang di sawah bersama teman sebaya dengan lauk ikan asin, sambal terasi dan petai goreng yang akhirnya menjadikan saya doyan makan segala jenis makanan. Di situ juga saya berlari jam 5 pagi dengan jaket karena ingin menjadi petinju hebat seperti Elyas Pical idola saya. Juga akibat larangan buang hajat di sungai saya jadi ingin menjadi orang kaya sehingga bisa memiliki WC yang nyaman, berventilasi baik, kalau perlu klosetnya terbuat dari emas. Itu semua membentuk diri saya kini dan sedikit pun tidak saya sesali.
Ampuni aku wahai masa kecilku karena tidak sanggup mengembalikan keindahan rumah dengan membeli rumah yang layak. Rumah yang saya tinggali kini langsung nempel dengan tetangga. Untung saja di belakang kompleks masih sedikit tersisa ruang terbuka Jalur Pipa Gas namun tetap saja tak seindah rumah masa kecil saya dulu.
Tapi bersyukur itu amat perlu, setidaknya kami mulai punya rumah sendiri. Kalau pun memang standar rumah ideal saya adalah Rumah di Masa Kecil saya seperti di atas mungkin saatnya kini bekerja lebih giat lagi agar memiliki rumah yang lebih baik. Saya ingin anak saya kelak punya ingatan sempurna tentang rumahnya di masa kecil. Amin
Tagged , , , , ,

Tiwul yang Dipolitisir

Koran kompas entah beberapa tahun yang lalu memuat gambar seorang papua berkoteka sedang menyantap nasi dengan lauk mi instan dan tahu goreng. Apa yang aneh?

Nasi, mi (mie) dan tahu kesemuanya adalah produk politik yang kontraproduktif.

Pasar Mulia, Puncak Jaya, Papua

Nasi adalah produk politik Jakarta di era Soeharto. Terutama bagi orang Maluku dan Papua yang akrab dengan sagu dan umbi-umbian lokal, nasi seolah dijejalkan secara paksa ke perut mereka agar mereka tergantung pada Jawa. Dengan menciptakan ketergantungan itu mereka akan memiliki lebih sedikit pilihan untuk merdeka. Bahkan Pak Harto sendiri kerap menyelipkan kampanye untuk makan nasi di sela pidatonya pada acara laporan khusus yang tayang tiap Rabu malam di TVRI. Makanan selain nasi putih seperti tiwul, singkong atau bulghur kerap ditertawakannya sebagai makanan masa perang. Ini sepele namun bangsa Indonesia yang umumnya memiliki gengsi jauh melampaui kecerdasannya segera menjauhi makanan pokok di luar nasi.

Tanpa sadar, ketergantungan kita yang teramat besar akan beras membuat ketahanan pangan kita amat rentan. Sebagai lima besar penghasil beras dunia kita kerap kali mengimpor beras guna menyuapi 250 juta mulut yang hanya doyan nasi ini.

Mi (mie) – saya lebih suka penulisan yang pertama – juga produk politik dari Cina dan Amerika. Tahukah anda bahwa negara kita tidak pernah bisa memproduksi gandum sendiri? Gandum yang bernas dan kering memerlukan iklim kering namun dingin. Biji gandum perlu disebar saat akhir musim gugur, ia akan mati suri ketika musim dingin, mulai tumbuh di musim semi lalu dipanen saat musim panas. Di negara kita mana ada empat musim, belum lagi kelembaban udara yang tinggi menyebabkan gandum yang ditanam di kepulauan nusantara ini menjadi terlalu lembek untuk bisa dibikin mi atau roti. Amerika dan kini Cina terus mencekoki kita dengan gandum mereka. Bagi kita makan mi dan roti makin lazim saja dan makin menciptakan ketergantungan kita kepada negara-negara penghasil gandum.

Pertanian Gandum

Kedelai sebagai bahan dasar tahu adalah produk pertanian terbesar dari Amerika (kini juga Cina dan Brazil). Indonesia hanya memproduksi sejumlah kecil kedelai yang ada di pasar lokal kita. Tidak digalakannya pertanian kedelai di negara kita membuat saya yakin kalau memang konsumsi kedelai dipolitisir oleh negara-negara penghasilnya.

Tidak perlu bicara soal pesawat jet tempur dulu, perut kita ini sudah dipolitisir juga. Tanpa sadar kita sudah menjadi amat tergantung. Ah, peduli setan! Sebelum mulai mengetik tulisan ini saya baru saja menyantap Indomie goreng dan tempe juga kok.

***

Lebaran kemarin ibu saya dari Jogja berkunjung ke rumah kreditan 10 tahun kami di kampung Rawalele, Jombang, Ciputat (kalo lagi gengsi saya akan menyebut ancer-ancernya sebagai “Sebelah Nusaloka BSD” atau “Deketnya Villa Bintaro”) . Saya minta dioleh-olehi tepung tiwul mentah saja supaya tidak harus repot ke Jogja kalau hanya ingin makan tiwul. Tampak sepele bukan?

Tiwul

Ternyata mencari tepung gaplek (tiwul mentah) di Jogja kini amat sulit. Tidak seperti sepuluhan tahun yang lalu, tepung tiwul kini tidak ada di pasar dekat rumah seperti Gading atau pun Prawirotaman. Karena tidak ingin saya kecewa, ibu mencari tepung tiwul hingga ke pasar Prambanan – sekalian menjenguk nenek sih – namun ternyata juga tidak ada. Nenek saya pun akhirnya ikut turun tangan dalam perburuan tepung tiwul itu hingga heboh satu dusun karena memang biasa kalau di dusun itu masalah satu orang jadi hajat bersama.  Ternyata istri Pakde Wag(imin), seorang kerabat jauh kami, biasa menggiling tepung tiwul sendiri untuk usaha kue keringnya. Mendengar kehebohan nenek dalam mencari tepung langka tadi ia memberikan sebungkus plastik, sekadar untuk buah tangan katanya, tapi dibeli dalam jumlah besar tidak boleh karena ia sendiri amat membutuhkannya sementara di pasar sulit untuk mencarinya. Oalah, tiwul wae kok repot.

Sementara dengan mudahnya kita menemukan spaghetti San Remo asli Italia atau couscous buatan Perancis di carrefour atau giant, tiwul kini adalah barang langka.

***

Oalaha, Harto…Harto, tiwulku kok dipolitisir.

Selebihnya tentang ketahanan pangan:

http://sayappesisir.blogspot.com/2011/02/menilik-persoalan-pangan-di-indonesia.html

http://www.bkprn.org/depan.php?cat=16&&id=251

http://www.bpurwoko.staff.ugm.ac.id/2007/01/27/daerah-termahal-di-dunia/

Tagged , , , , , ,