Tuesday,22 July 2008
Sebelah Kita di Perjalanan
Ketika kita bepergian menggunakan angkutan umum biasanya kita dipaksa berduaan dengan orang yang benar-benar asing di sebelah kita. Seketika orang itu menjadi bagian tak terpisahkan dari kita karena seringkali memang sialnya kursi dibuat amat sempit sehingga si dia nempel terus ke kita kadang selama ber jam-jam.
Seringkali saya kurang memperhatikan teman sebelah saya karena saya sibuk membaca atau aktivitas lainnya namun beberapa ada yang cukup menarik untuk dilewatkan begitu saja tanpa mengobrol. Kebanyakan orang-orang yang saya temui itu menyenangkan, hampir tak ada yang benar-benar menjengkelkan atau bahkan membikin masalah. Orang-orang itu antara lain adalah:
1. Ibu-ibu merokok [kereta bisnis]
Pertama kali saya pergi sendirian ke Jakarta adalah untuk wawancara kerja. Pulangnya saya ambil kereta bisnis yang tinggal satu-satunya belum berangkat. Sebelah saya adalah ibu-ibu setengah tua yang selalu merokok, memesan makanan hanya dari restorasi dan seringkali mengeluh akan berbagai hal. Bukan cuma sekali saya bertemu wanita perokok, tapi yang satu ini benar-benar mengesankan bahwa dia dulunya kurang beres.
2. Mas-mas Sumatra [bis kota]
Waktu itu saya SMP di Jogja, sering pulang sekolah menggunakan bis kota. Pernah berjumpa seorang mas-mas (mungkin abang atau uda tepatnya) dengan logat Sumatra entah bagian mana bercerita terus dengan semangat soal kuliahnya, ceweknya, bisnisnya, dan keluarganya di Sumatra. Akhirnya dia menwarkan rokok pula kepada saya. Kalau saya yang 26 tahun ini diperlakukan begitu tentu asik sekali merokok bersama tapi dulu saya anak SMP lha kok diajak curhat ngalor-ngidul urusan orang dewasa plus ditawari rokok.
3. Gadis Solo [kereta eksekutif]
Dekat-dekat hari paskah saya pulang ke Jogja dengan Argo Dwipangga jurusan Solo. Sebelah saya adalah mbak-mbak asal Solo dengan gayanya yang super halus. Sempat dia bilang kalau dari pagi belum sarapan tapi selama di kereta dia hanya makan buah dan buah terus, jatah makan pun hanya disentunya sedikit. Entah kenapa mbak ini sebenarnya tidak terlalu cantik tapi gaya halusnya itu memang Solo banget sehingga berkesan.
4. Gadis Kampung Sebelah [bis kota ]
Pulang sekolah SMP dulu paling sering pakai jalur 2 yang mana di Pojok Beteng Wetan saya harus berganti jalur 15 supaya bisa turun pas di depan rumah. Tapi entah kenapa sering ada barengan cewek dari sekolah saya juga yang memang lumayan manis meskipun teman saya Andre pernah bilang kakinya seperti gebuk maling. Nah kalau pas bareng cewek itu apalagi kalau sebelahan saya tidak berganti jalur 15 melainkan terus ikut jalur 2 sampai Prawirotaman. Kami harus melanjutkan jalan kaki sehingga ada kesempatan ngobrol meskipun sedikit karena rumahnya dekat tempat kami turun sementara rumah saya masih beberapa ratus meter lagi ke arah barat. Demi sebuah obrolan menyenangkan dengan cewek kampung sebelah saya rela ekstra jalan kaki panas-panas.
5. Bapak-bapak Pegawai Pelabuhan Tanjung Priok [bis malam]
Suatu ketika saya naik bis malam Lorena dari Jogja ke Jakarta, sampai di Jombor naik seorang bapak agak tua yang ramah. Bis lewat jalur selatan dan melintasi kampung Sedayu. “Riyin kula nek apel dugi riki lho mas, numpak vespa dalane blethok-blethok nganti koplinge pedhot“, kata si bapak dalam bahasa kromo asal-asalan. Sayangnya akhirnya gadis yang dulu beliau apeli itu memilih juragan colt angkutan pasir karena sama-sama beragama Katolik daripada dirinya yang beragama Islam. Lalu lagu Ebiet G. Ade diperdengarkan oleh sopir dan si bapak itu tampak sekali kalau tenggelam dalam nostalgia masa lalu. Ternyata romantika puluhan tahun silam gampang sekali ya terkenang lagi.
6. Mas-mas Kebelet Kawin [bis malam]
Seorang mas-mas usia di atas 30 namun bertampang awal 20-an pernah menjadi sebelah saya di Kramat Jati jurusan Jogja-Jakarta. Dengan logat Purwokertonya dia seringkali menelpon kekasihnya. Saya sih tidak memperhatikan karena sibuk mendengarkan Mulan Jameela dari hape tapi tiba-tiba si mas nyeletuk, ” Bulan Juli besok saya Merid, Mas (kok semua orang pake istilah “merid” [married] ya, sok Inggris!). Saya ke Jogja lagi ngurus surat-surat di tempat mbakyunya cewek saya. Kita baru sebulan ketemu tapi karena umur saya udah 30 lebih dan cewek saya juga udah 29 kita langsung mau merid. Sayangnya orang tua saya kurang setuju karena ada perbedaan status. Saya kan kerja kantor sementara cewek saya cuma baby-sitter.” Nah loh, yang nomer 5 tadi beda agama sekarang beda status, Indonesia banget.
7. Gadis dari Angola [pesawat]
Pulang dari Johannesburg saya ambil Singapore Airlines demi merasakan apa yang dikatakan orang yaitu maskapai dengan layanan paling ramah, dan memang benar. Sebelah saya wanita dari Angola yang selalu menggigil, memakai kain khas negaranya sebagai selimut plus selimut dari pesawat. Kepada pramugara dia memesan teh sekaligus dua cangkir untuk mengusir dingin barangkali. Memang waktu itu sedang musim dingin di Afrika Selatan tapi saya yang asli negara tropis pun tidak terlalu menggigil. Ternyata wanita ini bertujuan ke Guangzhou China. Dia bekerja untuk LSM (NGO ) di China. Ternyata ada juga ya orang Angola jadi aktivis LSM di negara sebesar dan semaju China. Selama ini mungkin kita cuma mengira Afrika terutama Angola hanya menjadi objek penderita aktivitas per-LSM-an.
8. Pegawai Ayam Goreng Suharti [kereta bisnis]
Pria di sebelah saya itu semula saya kira marinir atau reserse menilik dari badannya yang tegap dan potongan cepak. Ternyata dia adalah pegawai rumah makan Ny. Suharti di daerah Mampang. Dari dia saya tahu bahwa rumah makan Suharti ada dua jenis yaitu yang bergambar foto adalah milik Ny.Suharti sendiri sementara Ny.Suharti bergambar ayam adalah milik mantan suaminya. Kok bisa ya sudah bercerai masih pakai nama istrinya?
9. Gadis “Penginjil” dari Kutoarjo [kereta bisnis]
Natal 2005 saya pulang ke Jogja setelah bekerja seminggu di Jakarta. Bukan karena Natal alasan utama saya pulang, namun karena baju dan barang2 yang saya masih banyak tertinggal di Jogja. Karena tiket kereta langsung ke Jogja habis kala liburan natal, saya ambil Sawunggalih Kutoarjo yang bisa saya lanjutkan dengan bus ke Jogja. Gadis sebelah saya cukup manis dan ramah, di tangannya ada Alkitab ukurang sedang yang kadang-kadang dia baca. Mangetahui saya orang Katolik segeralah dia berdakwah. Tidak mengganggu sih sebenarnya, tapi mengapa di mana pun termasuk di atas kereta, saudara-saudara kaum Protestan suka menceramahi orang Katolik yang memang kondang buta Alkitab. Untung dulu SD saya dan teman-teman pernah juara cerdas-cermat Alkitab jadi bisa nyambung sedikit.
10. Ibu-ibu yang Bersaudarakan Pegawai Astra [kereta eksekutif]
Saya tidak terlalu memperhatikan sebelah saya karena sibuk membaca buku kumpulan esai Y.B Mangunwijaya tentang pendidikan. Tiba-tiba ibu-ibu di sebelah saya menanyakan apakah saya kuliah di Jogja. Saya jawab, “Oh mboten, kula rumiyin wonten UGM, lajeng ceker-ceker (cari duit) wonten Jakarta, lha sakmenika saweg nganggur“. “Lha mbok cobi ngalamar wonten Astra, kula wonten adik wonten Astra,” kata si Ibu. Dan dia menjelaskan gaji dan segala benefit bekerja di Astra dengan antusias termasuk kesempatan mendapatkan kredit mobil dengan harga murah. Memang saya akui betapa hebat HRD Astra dalam memikat calon karyawan, sampai-sampai punya adik di Astra memberikan kebanggan tersendiri. Masyarakat kebanyakan menganggap perusahaan itu sebagai salah satu lahan paling basah untuk bekerja. Anak UGM kebanyakan juga cuma tahu perusahaan minyak selain tentu saja Astra sebagai tempat favorit untuk bekerja.
11. Ibu-ibu Pegawai Departemen Agama [kereta bisnis]
Kebetulan kursi di ujung gerbong di set berhadapan. Saya adalah satu-satunya laki-laki di situ, lainnya ibu-ibu yang kesemuanya bekerja di Departemen Agama pusat. Mereka bercerita banyak sekali hal khas ibu-ibu mulai dari tips paling jitu menghilangkan sakit kepala, memasak lemper, sampai jam berapa kereta dari Bekasi ke jakarta tidak terlalu sesak. Yang paling berkesan adalah bekal makanan mereka yang menggunung seolah perjalanan berlangsung seminggu penuh. Beberapa kali saya ditawari namun saya tolak dengan alasan kesopanan, padahal pengen juga. Lalu salah satu dari ibu itu mengupaskan telur rebus dan menawarkan kepada saya. Dan dengan alasan kesopanan pula saya terima. (Loh piye to, sopan itu menerima atau menolak?) Garis batas antara sopan dan tidak sopan kadang sulit digambar, yang pasti telur rebus memang salah satu favorit saya.
12. Mas-mas dari Nagan Kulon [kereta eksekutif]
Sejak mengantri pembelian tiket di Gambir orang ini bicara terus berkomentar akan banyak hal dan saya hanya jawab “Nggih” tapi orang ini tak bisa berhenti mengoceh. Satpam stasiun berkeliling menanyakan jurusan pada antrian orang yang memang tidak maju-maju “Jogja atau Malang?”, kata satpam. Ketika satpam tiba di samping saya dan saya jawab “Jogja” dia menarik saya dan berkata “Mau tiket Gajayana harga Malang?”, kata satpam. “Mau! Dua ya pak,” kata mas-mas di belakang saya memotong. Jadilah saya naik kereta ke Jogja dengan harga Malang bersama mas-mas ceriwis dari Nagan Yogyakarta. Sampai di Stasiun Tugu Jogja masih tengah malam karena Gajayana memang harus bergegas jika ingin tiba di Malang pagi-pagi. Bersama mas-mas ceriwis tadi pula kami menyewa colt untuk menuju rumah karena memang preman stasiun tidak mengijinkan taksi resmi ber-argo masuk stasiun lewat tengah malam sampai pagi. Dan begitulah saya tiba di rumah dengan tiket pseudo-calo, bersama mas-mas ceriwis, dengan colt plat hitam.
Masih banyak sebenarnya pasangan saya di perjalanan, namun mungkin akan terlalu membosankan kalau saya ceritakan semuanya disamping memang beberapa sudah saya lupakan.
Kadang saya berharap sebelah saya adalah gadis manis yang menarik hati dan berlanjut ke perkenalan lalu kopi darat dan seterusnya atau seorang dengan ide bisnis menarik sehingga bisa bekerja sama di kemudian hari. Tapi bagaimanapun dekatnya teman seperjalanan kita mereka umumnya tetaplah orang asing. Jadi cukup cerita saja lah yang kita ambil dari mereka, selebihnya lupakan.
Anda punya cerita tentang teman perjalanan untuk dibagi? Silakan taruh di komentar.