Genk Pemuda Berprestasi

Kami tidak pernah mendeklarasikan pendirian genk apalagi sampai mendaftarkan badan hukum ke pemerintah. Kami hanya sekumpulan pemuda berprestasi luar biasa yang sering kumpul bersama.

Siapakah kami?

1. Anton Dewantoro

 

Pertama tentu saya mau menyombongkan diri dulu. Saya adalah pemuda berprestasi. Mantan orang paling pintar di kecamatan Mantrijeron, Yogyakarta kalau ditilik dari nilai Ebtanas. Artinya diantara 42,227 jiwa populasi Mantrijeron saya termasuk salah satu yang paling pintar.Satu diantara puluhan ribu, Coooy. Tapi tunggu, teman-teman genk saya prestasinya lebih mencengangkan lagi. [skala kecerdasan 1 : 40,000]

 

2. Yohanes Eko ‘Katak’

Kawan saya ini paling rajin, rapi, dan teratur. Pantas saja dia adalah mantan orang paling pintar se Kabupaten Bantul kalau dilihat lagi dari nilai Ebtanas. Dengan populasi 911,503 penduduk, artinya diantara hampir sejuta orang Bantul dia termasuk salah satu yang paling pintar. [skala kecerdasan 1 : 1,000,000]

 

 

3. Robi Pekujawang

Yang satu ini masuk UGM melalui jalur pemilihan bibit unggul daerah (PBUD) dari provinsi Nusa Tenggara Timur. Artinya dia adalah salah satu yang paling pintar diantara 4,679,316 orang dari propinsi yang memiliki prinsip sagat nerimo yakni Nanti Tuhan Tolong (NTT). Kenyataannya dia memang kawan yang memiliki kecerdasan alami paling menonjol diantara kami kalau ditilik dari kecepatannya menemukan kunci dan melodi gitar. [skala kecerdasan 1 : 4,500,000]

 

 

4. Teguh Prasetyo

Bagaimana rupa dan wujud seseorang yang pernah paling pintar diantara puluhan juta orang? Kawan saya yang sangat brilian ini kok bisa-bisanya disangka penjual DVD, bebek goreng, atau tambal ban oleh orang-orang yang kurang bertanggung jawab, dasar bangsa sinetron tidak bisa menghargai muka cerdas tapi ndeso. Padahal bayangkan saja anda ambil sampel acak 10 orang, dia hampir pasti yang paling pintar. Ambil 10 juta orang pun masih kemungkinan dia yang paling pintar, karena bahkan pernah terbukti dia adalah yang paling pintar diantara 32,380,687 orang di provinsi Jawa Tengah. Disamping memiliki kecerdasan alami dia juga pandai bergaul. [skala kecerdasan 1 : 32,000,000]

 

 

 

Tendensi Politik dan Agama 

Kebetulan memang KTP kami Katolik semua namun seingat saya bahkan sekali pun kami tidak pernah ke gereja bersama-sama. Disamping malas ke gereja kami juga tidak terkait ormas keagamaan ekstrim atau pun sebaliknya ikut LSM yang memperjuangkan “kerukunan” beragama. Jadi bisa disimpulkan kami berkumpul karena latar belakang pendidikan, profesi, dan prestasi kami semata.

Prestasi dan Aktivitas Kami di Masa Kini

Kalau kami, pemuda berprestasi, sedang kumpul di Jakarta biasanya kami main Play Station (PS) dari siang sampai menjelang malam di kos Katak di Kawasan Antar Bangsa Mega Kuningan. Kemudian malamnya minum-minum di Jalan Jaksa dengan mengundang beberapa kawan lagi untuk meramaikan suasana. Khas pemuda kampung banget kan? Gakpapa, kami gembira kok menjalaninya.

Soal gaji juga jangan dibayangkan kalau mantan orang-orang paling cerdas ini punya gaji fantastis. Yang terbesar diantara kami saat ini ‘hanya’ mengantongi sekitar 300 Euro per hari dengan berbagai macam potongan dari agen penyalur tenaga kerja. WTF!

Kehidupan Pribadi

Memang saat ini beberapa (semua) diantara kami sudah memiliki pasangan yang cukup cantik dan baik. Namun kehidupan asmara sebelumnya sebagai pemuda berprestasi bisa dibilang cukup mengenaskan. Serangkaian penolakan kami alami, dasar wanita Indonesia kebanyakan nonton sinetron tidak bisa menghargai kami yang memiliki Beautiful Mind.

Apalagi kalau standar infotainment diterapkan di sini, kenyataan bahwa belum ada diantara kami yang pernah pacaran dengan pedangdut atau pesinetron  maka bisa disimpulkan kami masih kalah jauh dari Bang Haji Rhoma Irama, Saipul Jamil, atau Aldi Bragi yang dangdut abis. Ter…Laa…Luuu

 

Kesimpulan

Masih banyak PR yang perlu kami kerjakan untuk tetap bisa menyandang gelar pemuda berprestasi.

Tagged , , , , , ,

Otonomi Daerah dan Kerepotan Rakyat

Saya lupa tepatnya siapakah yang menjadi penggagas otonomi daerah itu apakah Syarwan Hamid, mendagri kala itu, atau Ryaas Rasyid. Pastinya memang keberhasilan otonomi daerah itu agak kebablasan. Bukannya mencapai kemandirian daerah namun seringnya hanya menciptakan raja-raja kecil baru sembari memecah lingkup korupsi namun dalam skala yang lebih masif.

Lagi-lagi perjalanan keliling NTT yang sudah lebih dari 6 bulan berselang menggelitik saya untuk menulis. Di kantor Telkomsel regional Kupang kami memetakan pengembangan jaringan mereka. Salah satu ibu yang menjadi manajer perluasan jaringan operator terbesar itu menceritakan bahwa kini untuk mendapatkan izin pemerintah setempat agak rumit karena pemecahan beberapa kabupaten. Beberapa urusan masih ditangani dinas di kabupaten induk, sementara beberapa perizinan harus melewati kantor bupati baru. Permasalahan birokrasi ini menambah beban pengembangan jaringan sementara masyarakat di banyak wilayah NTT sudah amat merindukan untuk dijangkau oleh sinyal telepon genggam.

Pulau Sumba yang dulu hanya terbagi atas Sumba Barat dan Sumba Timur kini memiliki dua kabupaten baru yakni Sumba Tengah dan Sumba Barat Daya. Di Pulau Flores, kabupaten Manggarai langsung dipecah tiga menjadi Manggarai Barat, Manggarai, dan Manggarai Timur. Bahkan ada wacana untuk membuat Flores menjadi propinsi sendiri terpisah dari NTT. Akronim Flobamora (FLOres, sumBA, tiMOr, Rote, Alor) yang menjadi identitas kebanggan mereka – dan bahkan ada lagu hip hop Flobamora – tentu menjadi tidak valid lagi.

Masyarakat sepertinya mudah terbuai akan ide pemekaran wilayah yang sejatinya tidak membawa manfaat secara langsung. Mas Askori asli Banyuwangi,driver kami di Kupang yang istrinya dari Sumba, percaya bahwa pemekaran kabupaten Sumba Barat Daya akan membawa dampak positif bagi keluarganya. Demikian pula pedagang gado-gado asal Solo di kota Ruteng sangat antusias dengan dibentuknya kabupaten Nagakeo yang jauh dari tempat dia berdagang. Bahkan mertua saya, asli Manggarai Flores, yang sejak tahun 70an hijrah ke ibukota turut mendambakan dibentuknya propinsi Flores.

Kebingungan saya alami akibat pemekaran wilayah yaitu sewaktu membuat SKCK (Surat Keterangan Catatan Kepolisian). Di Polsek Ciputat petugas yang ramah menerangkan bahwa untuk hirarki kepolisian Ciputat masuk ke wilayah kerja Polres Jakarta Selatan walau secara politik Ciputat masuk Kota Tangerang Selatan yang merupakan pecahan dari Kabupaten Tangerang yang beribukota nun jauh di Tigaraksa. Hal ini bagus karena saya cukup pergi ke Polres Jaksel di jalan Wijaya, tidak perlu puluhan kilometer ke Tigaraksa. Namun agar polres mau mengeluarkan SKCK, harus ada pengesahan dari kecamatan.

Kecamatan Ciputat dimekarkan menjadi Ciputat dan Ciputat Timur dan saya masuk ke wilayah Ciputat yang kecamatannya ada di seputaran Serua bukan di sekitar Pasar Ciputat. Perlu waktu hampir 3 jam untuk menemukan kantor itu, informasi dari petugas Kelurahan Serua Indah membawa saya ke kantor Ciputat Timur padahal Serua Indah masuk ke Ciputat dan berdekatan dengan kantor kelurahan itu, informasi dari Kelurahan Jombang tempat saya tinggal kurang jelas karena hanya pakai kanan-kiri kanan kiri sementara saya asal Jogja biasa pakai Utara – Selatan jadi hanya membuat saya bingung karena saya tidak akrab dengan jalanan Ciputat, akhirnya informasi dari tukang tambal ban asli Wonosari (saudara se-plat AB yang sama-sama biasa pakai Lor-Kidul) yang kiosnya di Perempatan Duren Ciputat lah yang tepat membawa saya ke kantor kecamatan yang  benar.

Dari situlah saya berpikir, apa sih kegunaan kantor pemerintahan bagi masyarakat kalau bukan untuk perijinan macam SKCK, HO (Hijin Oesaha, aslinya Hinder Ordonantie), KTP, KK, dan sebagainya? Perijinan itu tidak dilakukan masyarakat setiap hari bahkan belum tentu sebulan sekali, jadi petugas kelurahan, kecamatan, kabupaten dan seterusnya sejatinya berada pada idle mode dalam 70% waktu kerjanya. Kenapa pula harus dipecah lagi dalam koridor pemekararan wilayah? Jadi makin santai bukan?

Ciputat memang banyak penduduknya namun tentu bisa ditangani satu kantor kecamatan tanpa perlu membikin kecamatan baru. Kabupaten Manggarai di NTT wilayahnya memang luas namun jumlah penduduknya mungkin hanya beda tipis dari kecamatan Ciputat, jadi kenapa harus dipecah tiga.

Oleh karena itu logika terbalik dari mantan Gubernur Sutiyoso mengenai Megapolitan yang meliputi  Jabodetabek ditambah Puncak dan Cianjur adalah cerdas dan efisien. Asal muasal propinsi DKI semula adalah penggabungan wilayah. Jakarta yang asli hanyalah Kota (Beos) selebihnya wilayah Jawa Barat. Namun karena bentuk kota yang melebar ke Tajung Priok, Gambir-Menteng, Kota Kebayoran dan Meester Cornelis(Jatinegara) jadilah DKI sekarang. Menyusul Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi menjadi bagian metropolitan. Namun secara politik Jawa Barat, dan kini juga Banten, tidak mau melepaskan wilayah tersebut ke DKI karena urusan retribusi daerah yang besar dari Bodetabek. Dengan demikian ketika ide Megapolitan digulirkan, Jawa Barat langsung dengan keras menghardiknya. Efisiensi karena penggabungan wilayah tidak bisa dicapai karena kepentingan jatah preman.

Padahal kota-kota kelas dunia yang besar muncul akibat penggabungan wilayah. New York misalnya, wilayahnya membelah tiga negara bagian Amerika yaitu… (saya lupa) yang digabung dalam satu metropolitan dan dikepalai oleh satu walikota saja. Demikian pula Wilayah Persekutuan Kuala Lumpur yang semula meliputi dua negara bagian kini diatur secara komprehensif oleh Dewan Bandaraya Kuala Lumpur. Greater Delhi yang terdiri atas wilayah kota New Delhi yang lama dan negara bagian Haryana kini menjadi satu wilayah khusus ibukota.
Penggabungan wilayah, bukan pemcahan atau pemekaran, terbukti justru membuat pemerintah menjadi efisien.

Singkat kata hirarki dan strukturisasi politik di Indonesia masih sekadar kepentingan penguasa, sedikit sekali berdasar kepentingan masyarakat. Mereka yang jabatannya tidak bisa naik menggelontorkan ide pemekaran wilayah agar kelak bisa menjadi pejabat bupati di wilayah baru. Maka dari itu saya berharap gubernur Kalimantan Barat bisa terus mencegah dibentuknya Propinsi Kapuas Raya, demikian pula gubernur Aceh terpilih semoga bisa meredam keinginan segelintir orang untuk membentuk Propinsi Aceh Leuser Antara. Bukan apa-apa Pak, mahal biayanya bikin kantor baru, duitnya lebih baik untuk membangun jalan dan perbaikan gedung SD yang hampir roboh. Belum lagi pembentukan kantor pemerintahan baru hampir selalu berarti membikin sarang korupsi baru.

Mohon maaf kalau terlalu sinis dan logika saya kurang tepat. Semoga Berkenan.

Tagged , , , ,

What if I

  

What if I can copy myself as many as I can so that I can study any available subjects in universities?

What if I can copy myself so that I can work in many industries and accumulate the agregate business profit, salary and bonusses?

What if I can copy myself into different time zones so that I can deliver service the whole day 24/7?

What if I can copy myself into different role so that I can fully pursue my career, take care of my family, and being around with my best friends?

 

What if I can follow all available religion and nationalities so that I can have all the available holiday in the world?

Due to the fact that I am only using around 10% of my brain capacity, it means I am not thinking hard enough to get the things I want as the above.

Tagged , , , , ,

Perbedaan Waktu, Perpindahan Ibukota, dan Sinkronisasi Kemajuan

Kenapa negara kita selalu ketinggalan dalam hal kemajuan? Apakah karena warganya bodoh? Atau pemerintahnya yang terlalu korup? Saya rasa bukan keduanya.

Kalau anda akrab dengan teknologi digital tentu paham dengan sinkronisasi clock, yakni pewaktuan proses dengan serentetan pulsa elektrik yang memiliki periode tertentu agar sistem bekerja secara serempak. Sistem dapat bekerja lebih cepat kalau clock juga dipercepat dan sebaliknya.

Apa hubungannya dengan kemajuan? Saya rasa ada. Pemerintah cina sudah memikirkannya dengan baik yaitu dengan menseragamkan waktu di seluruh negeri yang terbentang luas itu. Harapannya agar mudah dikendalikan oleh Beijing. Tampaknya kebijakan itu cukup efektif melihat kemajuan Cina saat ini.

Saya pribadi merasakan saat bekerja di Bali agak susah berkoordinasi dengan Jakarta. Saat kami yang di Bali sudah siap bekerja mereka yang di Jakarta mungkin masih terjebak macet di Cawang atau bergelantungan di KRL. Sementara saat kami sudah bersiap pulang mereka yang di Jakarta masih menunggu 3 in 1 dan mencari-cari tugas untuk merepotkan kami yang ada di Bali. Perbedaan waktu satu jam pun sudah lumayan terasa merepotkan. Bagaimana kabarnya dengan koordinasi dengan Papua.

Malaya sewaktu merdeka menggunakan standar waktu paling timur mereka yakni Sabah dan diterapkan untuk seluruh negata. Ketika negara mereka pecah menjadi Malaysia dan Singapura, Semenanjung Malaya dan Singapura tetap menggunakan GMT +8 sebagai standar waktu. Tanpa bisa saya jelaskan dengan logika, nyatanya mereka kini selangkah lebih maju dibanding tetangga-tetangga segaris waktunya seperti Thailand, Vietnam, dan Indonesia yang ada di GMT +7

Jika Indonesia ingin maju mungkin bisa dipikirkan untuk pindah ibukota ke zona waktu GMT +8 yakni Waktu Indonesia Tengah. Jam yang sama dengan banyak kota penting dunia saat ini seperti Beijing, Singapura, Hongkong, dan Kuala Lumpur. Clocking sinkron, perangkat bekerja sempurna

Tagged , , , ,

Incredible India

What do you expect to see from a very famous country like India?

For sure Taj will come first, I did it too with this same silly pose as others do as well

…and India Gate

the next billion people of world’s population are from this region only

so Bajaj must be able to carry up to 12 people inside 

Despite of this density, people are very religious, pilgrimage take place almost everywhere

animal like cow, monkey, and many more are worshiped, they roam freely on street

many people become vegetarian, so mustard plantation like this become very important diet source

…but don’t worry for meat eater, this “Havemore” restaurant serve the best chicken dish in India, it lies downtown Delhi just few hundred metres from embassies complex

Technologically, India is stepping ahead, this defence exhibition at Pargati Maidan reveal some of it

this tol tag is fully automatic…and they claim the system was made in India, unlike e-toll card in Jakarta which still needs human supervision

The sophisticated and efficient Delhi Metro makes KRL Commuter Jabodetabek looks very-very silly. Their train runs every 5-10 minutes, here 50 minute delay is common. Thanks to Surinder Gulia (left) and Kaneshwaran (right) who join me on this ride.

Just like “3 idiot” movie, this Innova is our ride mostly during trip in India. This type of car is very common in along with Suzuki Maruti (called as Karimun in Indonesia), but no any Avanza seen here.

This tractor also very popular due to its versatility in carrying fertilizer up to kids to school. You can easily find these kind even in Delhi main road.

This high school boys not only wearing same uniform as in here, but also love to “nongkrong” sitting on street separator as we can see in any city of Indonesia. I feel homy.

Believe me, you can easily find Gudang Garam cigarette Made in Kediri – Indonesia in one of street vendor like this

Unlike those who mosty come to Jakarta, Indian people in India itself are very friendly, especially kids. They really make us feel like a real touris by waving their hand very enthusiastic.

 

Okay, from this window view of my Guest House room in Gurgaon I finish my journey report to India. Hopefully there will be exciting photos coming shortly in this blog. Bye for now. Cheers!

 

 

 

Tagged , , , , , , , , , ,
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 215 other followers