Tuesday,22 July 2008

Sebelah Kita di Perjalanan

Ketika kita bepergian menggunakan angkutan umum biasanya kita dipaksa berduaan dengan orang yang benar-benar asing di sebelah kita. Seketika orang itu menjadi bagian tak terpisahkan dari kita karena seringkali memang sialnya kursi dibuat amat sempit sehingga si dia nempel terus ke kita kadang selama ber jam-jam.

Seringkali saya kurang memperhatikan teman sebelah saya karena saya sibuk membaca atau aktivitas lainnya namun beberapa ada yang cukup menarik untuk dilewatkan begitu saja tanpa mengobrol. Kebanyakan orang-orang yang saya temui itu menyenangkan, hampir tak ada yang benar-benar menjengkelkan atau bahkan membikin masalah. Orang-orang itu antara lain adalah:

1. Ibu-ibu merokok [kereta bisnis]

Pertama kali saya pergi sendirian ke Jakarta adalah untuk wawancara kerja. Pulangnya saya ambil kereta bisnis yang tinggal satu-satunya belum berangkat. Sebelah saya adalah ibu-ibu setengah tua yang selalu merokok, memesan makanan hanya dari restorasi dan seringkali mengeluh akan berbagai hal. Bukan cuma sekali saya bertemu wanita perokok, tapi yang satu ini benar-benar mengesankan bahwa dia dulunya kurang beres.

2. Mas-mas Sumatra [bis kota]

Waktu itu saya SMP di Jogja, sering pulang sekolah menggunakan bis kota. Pernah berjumpa seorang mas-mas (mungkin abang atau uda tepatnya) dengan logat Sumatra entah bagian mana bercerita terus dengan semangat soal kuliahnya, ceweknya, bisnisnya, dan keluarganya di Sumatra. Akhirnya dia menwarkan rokok pula kepada saya. Kalau saya yang 26 tahun ini diperlakukan begitu tentu asik sekali merokok bersama tapi dulu saya anak SMP lha kok diajak curhat ngalor-ngidul urusan orang dewasa plus ditawari rokok.

3. Gadis Solo [kereta eksekutif]

Dekat-dekat hari paskah saya pulang ke Jogja dengan Argo Dwipangga jurusan Solo. Sebelah saya adalah mbak-mbak asal Solo dengan gayanya yang super halus. Sempat dia bilang kalau dari pagi belum sarapan tapi selama di kereta dia hanya makan buah dan buah terus, jatah makan pun hanya disentunya sedikit. Entah kenapa mbak ini sebenarnya tidak terlalu cantik tapi gaya halusnya itu memang Solo banget sehingga berkesan.

4. Gadis Kampung Sebelah [bis kota ]

Pulang sekolah SMP dulu paling sering pakai jalur 2 yang mana di Pojok Beteng Wetan saya harus berganti jalur 15 supaya bisa turun pas di depan rumah. Tapi entah kenapa sering ada barengan cewek dari sekolah saya juga yang memang lumayan manis meskipun teman saya Andre pernah bilang kakinya seperti gebuk maling. Nah kalau pas bareng cewek itu apalagi kalau sebelahan saya tidak berganti jalur 15 melainkan terus ikut jalur 2 sampai Prawirotaman. Kami harus melanjutkan jalan kaki sehingga ada kesempatan ngobrol meskipun sedikit karena rumahnya dekat tempat kami turun sementara rumah saya masih beberapa ratus meter lagi ke arah barat. Demi sebuah obrolan menyenangkan dengan cewek kampung sebelah saya rela ekstra jalan kaki panas-panas.

5. Bapak-bapak Pegawai Pelabuhan Tanjung Priok [bis malam]

Suatu ketika saya naik bis malam Lorena dari Jogja ke Jakarta, sampai di Jombor naik seorang bapak agak tua yang ramah. Bis lewat jalur selatan dan melintasi kampung Sedayu. “Riyin kula nek apel dugi riki lho mas, numpak vespa dalane blethok-blethok nganti koplinge pedhot“, kata si bapak dalam bahasa kromo asal-asalan. Sayangnya akhirnya gadis yang dulu beliau apeli itu memilih juragan colt angkutan pasir karena sama-sama beragama Katolik daripada dirinya yang beragama Islam. Lalu lagu Ebiet G. Ade diperdengarkan oleh sopir dan si bapak itu tampak sekali kalau tenggelam dalam nostalgia masa lalu. Ternyata romantika puluhan tahun silam gampang sekali ya terkenang lagi.

6. Mas-mas Kebelet Kawin [bis malam]

Seorang mas-mas usia di atas 30 namun bertampang awal 20-an pernah menjadi sebelah saya di Kramat Jati jurusan Jogja-Jakarta. Dengan logat Purwokertonya dia seringkali menelpon kekasihnya. Saya sih tidak memperhatikan karena sibuk mendengarkan Mulan Jameela dari hape tapi tiba-tiba si mas nyeletuk, ” Bulan Juli besok saya Merid, Mas (kok semua orang pake istilah “merid” [married] ya, sok Inggris!). Saya ke Jogja lagi ngurus surat-surat di tempat mbakyunya cewek saya. Kita baru sebulan ketemu tapi karena umur saya udah 30 lebih dan cewek saya juga udah 29 kita langsung mau merid. Sayangnya orang tua saya kurang setuju karena ada perbedaan status. Saya kan kerja kantor sementara cewek saya cuma baby-sitter.” Nah loh, yang nomer 5 tadi beda agama sekarang beda status, Indonesia banget.

7. Gadis dari Angola [pesawat]

Pulang dari Johannesburg saya ambil Singapore Airlines demi merasakan apa yang dikatakan orang yaitu maskapai dengan layanan paling ramah, dan memang benar. Sebelah saya wanita dari Angola yang selalu menggigil, memakai kain khas negaranya sebagai selimut plus selimut dari pesawat. Kepada pramugara dia memesan teh sekaligus dua cangkir untuk mengusir dingin barangkali. Memang waktu itu sedang musim dingin di Afrika Selatan tapi saya yang asli negara tropis pun tidak terlalu menggigil. Ternyata wanita ini bertujuan ke Guangzhou China. Dia bekerja untuk LSM (NGO ) di China. Ternyata ada juga ya orang Angola jadi aktivis LSM di negara sebesar dan semaju China. Selama ini mungkin kita cuma mengira Afrika terutama Angola hanya menjadi objek penderita aktivitas per-LSM-an.

8. Pegawai Ayam Goreng Suharti [kereta bisnis]

Pria di sebelah saya itu semula saya kira marinir atau reserse menilik dari badannya yang tegap dan potongan cepak. Ternyata dia adalah pegawai rumah makan Ny. Suharti di daerah Mampang. Dari dia saya tahu bahwa rumah makan Suharti ada dua jenis yaitu yang bergambar foto adalah milik Ny.Suharti sendiri sementara Ny.Suharti bergambar ayam adalah milik mantan suaminya. Kok bisa ya sudah bercerai masih pakai nama istrinya?

9. Gadis “Penginjil” dari Kutoarjo [kereta bisnis]

Natal 2005 saya pulang ke Jogja setelah bekerja seminggu di Jakarta. Bukan karena Natal alasan utama saya pulang, namun karena baju dan barang2 yang saya masih banyak tertinggal di Jogja. Karena tiket kereta langsung ke Jogja habis kala liburan natal, saya ambil Sawunggalih Kutoarjo yang bisa saya lanjutkan dengan bus ke Jogja. Gadis sebelah saya cukup manis dan ramah, di tangannya ada Alkitab ukurang sedang yang kadang-kadang dia baca. Mangetahui saya orang Katolik segeralah dia berdakwah. Tidak mengganggu sih sebenarnya, tapi mengapa di mana pun termasuk di atas kereta, saudara-saudara kaum Protestan suka menceramahi orang Katolik yang memang kondang buta Alkitab. Untung dulu SD saya dan teman-teman pernah juara cerdas-cermat Alkitab jadi bisa nyambung sedikit.

10. Ibu-ibu yang Bersaudarakan Pegawai Astra [kereta eksekutif]

Saya tidak terlalu memperhatikan sebelah saya karena sibuk membaca buku kumpulan esai Y.B Mangunwijaya tentang pendidikan. Tiba-tiba ibu-ibu di sebelah saya menanyakan apakah saya kuliah di Jogja. Saya jawab, “Oh mboten, kula rumiyin wonten UGM, lajeng ceker-ceker (cari duit) wonten Jakarta, lha sakmenika saweg nganggur“. “Lha mbok cobi ngalamar wonten Astra, kula wonten adik wonten Astra,” kata si Ibu. Dan dia menjelaskan gaji dan segala benefit bekerja di Astra dengan antusias termasuk kesempatan mendapatkan kredit mobil dengan harga murah. Memang saya akui betapa hebat HRD Astra dalam memikat calon karyawan, sampai-sampai punya adik di Astra memberikan kebanggan tersendiri. Masyarakat kebanyakan menganggap perusahaan itu sebagai salah satu lahan paling basah untuk bekerja. Anak UGM kebanyakan juga cuma tahu perusahaan minyak selain tentu saja Astra sebagai tempat favorit untuk bekerja.

11. Ibu-ibu Pegawai Departemen Agama [kereta bisnis]

Kebetulan kursi di ujung gerbong di set berhadapan. Saya adalah satu-satunya laki-laki di situ, lainnya ibu-ibu yang kesemuanya bekerja di Departemen Agama pusat. Mereka bercerita banyak sekali hal khas ibu-ibu mulai dari tips paling jitu menghilangkan sakit kepala, memasak lemper, sampai jam berapa kereta dari Bekasi ke jakarta tidak terlalu sesak. Yang paling berkesan adalah bekal makanan mereka yang menggunung seolah perjalanan berlangsung seminggu penuh. Beberapa kali saya ditawari namun saya tolak dengan alasan kesopanan, padahal pengen juga. Lalu salah satu dari ibu itu mengupaskan telur rebus dan menawarkan kepada saya. Dan dengan alasan kesopanan pula saya terima. (Loh piye to, sopan itu menerima atau menolak?) Garis batas antara sopan dan tidak sopan kadang sulit digambar, yang pasti telur rebus memang salah satu favorit saya.

12. Mas-mas dari Nagan Kulon [kereta eksekutif]

Sejak mengantri pembelian tiket di Gambir orang ini bicara terus berkomentar akan banyak hal dan saya hanya jawab “Nggih” tapi orang ini tak bisa berhenti mengoceh. Satpam stasiun berkeliling menanyakan jurusan pada antrian orang yang memang tidak maju-maju “Jogja atau Malang?”, kata satpam. Ketika satpam tiba di samping saya dan saya jawab “Jogja” dia menarik saya dan berkata “Mau tiket Gajayana harga Malang?”, kata satpam. “Mau! Dua ya pak,” kata mas-mas di belakang saya memotong. Jadilah saya naik kereta ke Jogja dengan harga Malang bersama mas-mas ceriwis dari Nagan Yogyakarta. Sampai di Stasiun Tugu Jogja masih tengah malam karena Gajayana memang harus bergegas jika ingin tiba di Malang pagi-pagi. Bersama mas-mas ceriwis tadi pula kami menyewa colt untuk menuju rumah karena memang preman stasiun tidak mengijinkan taksi resmi ber-argo masuk stasiun lewat tengah malam sampai pagi. Dan begitulah saya tiba di rumah dengan tiket pseudo-calo, bersama mas-mas ceriwis, dengan colt plat hitam.

Masih banyak sebenarnya pasangan saya di perjalanan, namun mungkin akan terlalu membosankan kalau saya ceritakan semuanya disamping memang beberapa sudah saya lupakan.

Kadang saya berharap sebelah saya adalah gadis manis yang menarik hati dan berlanjut ke perkenalan lalu kopi darat dan seterusnya atau seorang dengan ide bisnis menarik sehingga bisa bekerja sama di kemudian hari. Tapi bagaimanapun dekatnya teman seperjalanan kita mereka umumnya tetaplah orang asing. Jadi cukup cerita saja lah yang kita ambil dari mereka, selebihnya lupakan.

Anda punya cerita tentang teman perjalanan untuk dibagi? Silakan taruh di komentar.

Tuesday,22 July 2008

Ramalan Syafe’i

Vespa Excel yang saya beli 1 tahun yang lalu dari seorang karyawan divisi majalah Gramedia telah tiba kembali di Jakarta setelah 6 bulan saya ungsikan ke Yogyakarta meskipun tidak ada agresi militer. Motor itu tidak terlalu istimewa karena dibilang antik tentu saja tidak karena dibikin tahun 1994 namun bagaimanapun juga itulah kendaraan bermotor pertama yang saya beli dengan uang saya sendiri dan tunai Rp 2.750.000.

Tiba di kontrakan saya yang baru, Pak Syafe’i sang pengurus kontrakan langsung menanyakan plat nomornya. “Plat nomere piro, Mas? Tak etunge“, kata beliau. ” B 3172 RM”, jawab saya. Berpikir sejenak lalu Pak Syafe’i berkata,” Wah iku apik tenan, 3-1-7-2 artine Begja-Sandang-Pangan-Pangan, pantes rejekimu lancar terus“. Saya pun lantas jadi berpikir ulang mengenai rencana saya untuk balik nama motor itu menjadi plat AB sesuai KTP saya. Apakah jika nanti berganti nomor plat AB saya masih mendapatkan nomor hoki alias nomor cantik seperti sekarang? Seharusnya sebagai manusia Indonesia modern yang nilai PPKn nya selalu di atas 8 tidak mempercayai ramalan plat nomor yang bisa mempengaruhi nasib. Namun karena gencarnya iklan sms ramalan Ki Joko Bodo di TV, sedikit banyak menggoncangkan iman saya sebagai penganut Skeptisisme yang senantiasa logis dan mengesampingkan faktor-faktor irasional. Namun demikian selama ini toh memang nasib saya selalu baik, bisa jadi motor vespa itulah yang mendukung peruntungan saya mulai dari karir, asmara, hingga kesehatan.

Rumus ramal-meramal plat nomor ala Pak Syafe’i adalah sebagai berikut:

1 = Sandang

2 = Pangan

3 = Begja

4 = Lara

5 = Pati

——————-

6 = Sandang

7 = Pangan

8 = Begja

9 = Lara

0 = Pati

Misal 3172 berarti begja-sandang-pangan-pangan

4590 berarti lara-pati-lara-pati

Nah, boleh percaya atau tidak, yang pasti kalau anda bernasib sering apes bisa jadi plat nomor kendaraan, nomor rumah, nomor HP, nomor induk pegawai, atau apapun menyangkut nomor anda berada pada nomor kurang bagus.

Sementara perbincangan soal plat nomor selesai datang Pak No yang menemui Pak Syafe’i untuk mengambil jamu. Ternyata Pak Syafe’i ini menyediakan jamu dari kampung sebelah utara Menara Kudus yang telah didoakan secara khusus untuk keperluan penyakit tertentu.Untuk jasa penyaluran jamu asal kota Kudus ini Pak Syafe’i tidak mematok tarif khusus, sukarela saja. Jangan-jangan memang sakti Pak Syafe’i, gayanya sudah dukun banget.

Friday,18 July 2008

Siksa di Akhirat Versi Pak RT 11/RW VI, Kelurahan Pengadegan, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan

Syahdan, suatu ketika di hari dimana saya menjadi pengangguran, saya nongkong di warung bubur kacang hijau pojokan jalan Pengadegan Utara I.

Seorang yang berumur 40-an merayu nenek-nenek. “Pok _ _ _(aduh! saya lupa namanya), makin cantik aja, kayak cewek-cewek jaman sekarang”, kata si bapak 40-an. Si Nenek tampak malu-malu layaknya gadis remaja yang sedang termakan rayuan gombal (emang gombal sih). Setelah Si Nenek berlalu kepada saya si bapak-bapak bilang “Gitu Mas, biar udah nenek-nenek paling demen dirayu. Kalau udah dirayu tunggu aja deh nanti ada bubur ayam gratis”.

Rupaya Si Nenek dan Si Bapak adalah dua warga Pengadegan asli yang mungkin memang Betawi asli. Si bapak ternyata adalah ketua RT 11 yang mana masih di bawah RW yang sama dengan saya yaitu RW VI dengan Ketua RW nya adalah mantan bapak kos saya yaitu Pak Haji Nurdin, BSc. Sementara itu Si Nenek, semenjak pak RT belum lahir sudah jualan bubur ayam di pojokan jalan Pengadegan Utara I.

“Waduh, kalo dipikir-pikir gimana tuh ya dia di Akhirat (merujuk pada Si Nenek). Berapa ribu ayam aja udah mati di tangan dia, udah gitu digoreng, abis digoreng dicuwilin kecil-kecil, udah kayak kasus mutilasi di Pejaten, malah parahan yang ini kan, dipotong jadi berapa aja tuh ayam. DI Hadist tuh ada aturannya Mas, ada HIsab-nya gimana kalau manusia menyiksa hewan, jangankan manusia yang menyiksa, semut gigit kita aja ada Hisabnya, begitu juga sebaliknya.” Kata Pak RT.

Yeee si bapak, giliran proses kematian ayam bawa-bawa agama, tapi bubur ayamnya doyan juga, pake rayu nenek-nenek lagi. Tapi memang hal itu mungkin juga sih, kehidupan itu bukan kuasa kita untuk membikin tapi seringkali kita mencabut kehidupan itu. Seberapa berhakkah kita mengambil kehidupan?

Jadi ingat Dukun AS yang baru saja dieksekusi mati akibat perbuatannya 10 tahun yang lalu membunuh 40 wanita lebih. Seberapa berhakkah Dukun AS sampai mencabut 40 nyawa lebih tapi juga seberapa berhakkah lembaga hukum kita hingga menjatuhkan hukuman mati. Semuanya tidak berhak atas nyawa yang tidak bisa mereka bikin, Meskipun demikian saya termasuk yang setuju hukuman mati ada di negeri ini (heheh, maaf bapak Paus saya beda pendapat dengan anda), sebab secara logis memang ada orang-orang yang harus kita hentikan langakah brutalnya (seperti Dukun AS) demi melindungi nyawa orang lain yang lebih banyak. Perkara hitung-hitungan di Akhirat, saya rasa itu kembali ke kepercayaan anda masing-masing karena tentu salah jika saya memaksakan pandangan saya.

Daripada pusing soal nyawa ayam yang dimutilasi, saya penasaran juga sama bubur ayam si Nenek. Bubur ayam ini bisa jadi salah satu bubur ayam asli Betawi yang masih bertahan dengan kemasan yang sama dan lokasi jualan yang sama. Barangkali bisa ditandingkan dengan Gudeg Pincuk Mbok Sadhem di Pakuncen Yogyakarta yang sudah 150 tahun lebih. Saatnya mencoba bubur asli, mudah-mudahan mak nyuss.

Friday,11 July 2008

Dimanakah Pasar Terpanjang di Dunia?

Judul di atas lazim kita temukan di kolom National Geographic di koran Kompas. Tapi saya tidak berbicara soal itu dan tulisan ini tidak berdasar bahan acuan melainkan pengamatan lapangan semata.

 

Pernah suatu ketika, dan saya sudah agak sangat lupa dari mana sumbernya, dalam sebuah artikel ditulis bahwa Malioboro adalah pasar terpanjang di dunia. BENARKAH? Sudahkah diakukan pengukuran secara seksama panjang pasar-pasar di dunia ini sehingga Malioboro layak disebut sebagai pasar terpanjang di dunia?

Tidak usah jauh-jauh studi banding ke luar negeri untuk membandingkan dimensi panjang pasar-pasar yang ada di dunia ini. Coba ke utara sedikit saja lalu berbelok ke barat (cara menunjuk arah orang Jogja yang sering dicemooh orang Jakarta padahal ini standar internasional lho) ke Stasiun Tugu Yogyakarta. Naiklah kereta Senja/Fajar Utama jurusan Jogja-Jakarta, disinilah wisata ke pasar yang mungkin terpanjang di dunia akan kita temui. Pasar sepanjang 512 km pulang-pergi dimulai dari sini. Komoditas yang dapat anda jumpai adalah sebagai berikut:

1. Banci Ewer-Ewer, ruas Jogja-Wates diisi oleh para pengamen yang menjajakan suara dengan tamborin (kecrekan) dan gitar taliban (senar atau tali dari ban direntang). Mereka berdandan bencong dan entah menirukan alat musik apa atau sekadar menunjukkan ciri mereka, di akhir bait lagu selalu mengucapkan ” Serrr..wer-ewer-ewer-ewer…” Tingkah polah mereka mengundang tawa karena lagu-lagu pilihannya yang kocak mulai dari Dangdut sampai lagu wajib nasional.

2. Penjual Makanan,Minuman dan Bantal dari Restorasi KA, mereka sebenarnyalah yang paling berhak berjualan di kereta api meskipun makanan dan minuman dijual agak kemahalan. Yang menurut saya tidak adil adalah persewaan bantal, mengapa bantal-bantal itu harus disewakan dan tidak jadi fasilitas langsung PT KAI untuk penumpang kereta bisnis.

3. Gelaran Koran, koran bekas ini dijual tentu bukan untuk bahan bacaan, apalagi mengingat minat baca yang rendah pada masyarakat kita. Bagi penumpang yang ingin tidur di bawah selama perjalanan dan lupa mempersiapkan alas, maka koran ini bisa menjadi alas yang baik, relatif bersih, dan hangat.

4. Pop Mie, Kopi, Energen, Jahe Wangi, ini sepertinya adalah jenis pedagang terbanyak populasinya di kereta api Jogja-Jakarta. Mereka membawa minuman sachet dan Pop Mie dalam keranjang beserta termos air panas. Penjual jenis ini paling rajin berkeliling dan membuat telinga terasa bising sehingga kita susah tidur di kereta.

5. Lanting/Klanting, mulai Kutoarjo sampai Purwokerto akan naik pedagang camilan berasal dari singkong yang dibentuk cincin dan digoreng. Dalam bayangan saya makanan ini tentu keras dan kurang nikmat jadi meski cukup sering ketemu pedagang ini namun belum pernah sekali pun saya membeli.

6. Rokok, Permen, Tissue, seperti pedagang serupa yang biasa kita jumpai di jalanan, mereka berdagang juga di atas kereta dengan harga yang sedikit lebih mahal.

7. Dompet, Ikat Pinggang, dan Topi Kulit, biasanya pedagang jenis ini beroperasi di siang hari. Saya sempat membeli dompet seharga Rp 5.000 dan awet hingga sekarang meskipun bentuknya sama sekali tidak indah, yang penting toh isinya tebal (banyakan uang 1000-an sih).

8. Batik Pekalongan, sambil di kereta mau cari daster, kemeja, celana, semua ada. Jenis pedagang ini biasanya berdagang di kereta siang (Fajar Utama).

9. Pecel, dari Purwokerto biasanya pedagang ini naik. Rasa pecelnya khas ditambah irisan bakwan. Beberapa pedagang melengkapi juga dengan bunga berwarna merah yang disebut combrang. Pecel dikemas dalam pincuk daun pisang dan untuk memakannya kita diberi dua buah tusuk sate yang bisa kita fungsikan sebagai sumpit atau penusuk.

10. Kripik Tempe dan Mendoan, makanan khas daerah Banyumas ini gencar dipasarkan di atas kereta dan rasanya cukup enak.

11. Telur Asin, ini adalah makanan favorit rekan saya Teguh meskipun hampir saja ia kena tipu pedagang telur asin. ” Mas telornya anget-anget, satunya 1.500 perak kalo setengah lusin saya kasih 10.000 aja”, kata si pedagang. 

12. Ketan Panggang - Wingko, mungkin karena wingko Semarang yang terkenal merek Cap Kereta Api jadi banyak dijual di kereta.

13. Getuk Goreng, makanan asli Sokaraja (dekat Purwokerto) ini agak bereda dari getuk daerah lain. Komposisi gula merah jauh lebih banyak dari getuk biasa dan digoreng.

14. Sale Pisang, ada yang bilang sale pisang asli Bandung, ada pula yang bilang asli Brebes, tapi sale yang paling unik yang pernah saya makan adalah dari daerah Pacitan yang dibungkus daun bambu dan agak berjamur, tapi enak. Yang pasti makanan ini jamak dijumpai di kereta.

15. Nopia, makanan ini seperti bakpia di luar tapi kosong di bagian tengah. Mirip endog gluduk atau mata kebo di JogJa yang berisi gula merah di pinggir tapi kosong di tengah.

16. Nasi “Rendang”, di wilayah Cirebon banyak penjual nasi bungkus berikut lauk mirip rendang daging sapi atau ayam namun dagingnya aneh. Harganya murah dan dilengkapi air panas yang dibungkus dalam plastik. Semula saya mengira air ini adalah bonus minuman, namun menurut rekan saya Ippin, air ini berfungsi menjaga nasi tetap terasa hangat meskipun sebenarnya nasi tersebut mungkin bukan nasi baru.

17. Mangga Indramayu, pada musimnya mangga Indramayu juga lazim dijual di atas kereta.

18. Pijat, pijat tunanetra tentunya. Pernah sekali tukang pijat yang bapak-bapak tua ini menghampiri saya dan tanpa saya minta langsung memijat bahu saya. Saya berkali-kali bilang “Enggak pak, saya nggak mau pijet, nggak capek”. Tapi bapak ini terus memijat saya sambil bergumam tidak jelas dalam bahasa Sunda yang tidak saya mengerti dan (maaf) gumaman itu keluar dari mulut yang sangat bau. Untung saja kereta tiba-tiba berhenti di sebuah stasiun kecil dan tiba-tiba bapak pemijat tak diundang tadi segera melompat turun kereta. Mungkin kalau pijatnya agak plus dan pemijatnya mirip Mulan Jameela saya akan dengan senang hati dipijat, tapi pengalaman dengan tukang pijat yang maksa ini cukup traumatis juga.

19. Penyapu tak Diundang, selain kereta eksekutif, tampaknya fungsi petugas kebersihan diprivatisasi oleh para penyapu non-karyawan kereta api. Tanpa kita minta mereka menyapu sampai mengganggu kenyamanan kaki kita yang tengah berselonjor dengan maksud meminta uang receh. Setiap kali para penyapu ini lewat entah kenapa saya selalu curiga dan lantas memeriksa apakah barang-barang saya masih utuh semua.

20. Pengumpul Botol Aqua, memasuki kota Jakarta banyak orang bersliweran di dalam kereta mengumpulkan botol. Namun yang membuat saya heran mengapa hanya botol air minum Aqua saja yang diambil. Air mineral merk lain, Nu Green Tea, Mizone, Fruit Tea, dll tidak diambil. Dan botol Aqua yang sudah penyok juga tidak diambil. Saya jadi curiga jangan-jangan botol tersebut dikumpulkan bukan untuk di daur ulang melainkan untuk diisi ulang dan dijual lagi sebagai Aqua Aspal. Namun saya tidak berani menarik kesimpulan pasti apalagi menyuruh anda memposting tulisan ini di milis…hoax banget nanti kesannya.

 

Itulah pasar sepanjang 512 Km. Belum lagi pasar kereta Jakarta-Surabaya sepanjang 1000 km lebih yang dagangannya hampir sama. Ada juga pasar sejenis yang daganganya agak beda yaitu pasar KRL Jabotabek sepanjang 60 km yang menjual antara lain minuman dingin dalam ember, koran edisi hari ini, kue jajanan pasar, tahu, jeruk, assesoris wanita, pulpen, bahkan seisi toko kelontong pun pisa digelar (digantung tepatnya), tak ketinggalan pengamen yang kadang-kadang membawa peralatan band nyaris komplit di kereta komuter ini.

Halo Malioboro, masih mau mengklaim sebagai pasar terpanjang di dunia? Ah sudah tidak penting lagi. Yang jelas saya kok prihatin dengan menjamurnya pedagang-pedagang tersebut di jalanan. Apakah bangsa kita memang cuma bisa mencari makan dengan berdangang di tempat yang tidak semestinya untuk berdagang? Tidak adakah cara lebih beradab dan produktif untuk mencari nafkah?

Perlu dipikirkan suatu penyelesian sehingga jalanan baik itu Malioboro atau pun sepanjang jalur kereta api pulau Jawa bisa kembali ke fitrahnya sebagai jalan yang semestinya berfungsi utama hanya mengantarkan manusia ke tujuannya. Sementara itu pedagang bisa membatasi diri di pasar yang memang diperuntukkan untuk berdagang baik itu pasar becek ataupun mall. Lalu apakah predikat pasar terpanjang di dunia mesti kita junjung tinggi dan banggakan? Saya rasa kok tidak relevan lagi dibahas, malah kita malu mestinya.

Friday,11 July 2008

Krupuk Cantik

Selain krupuk bundar berjain-jalin yang biasa dijual mamang-mamang krupuk dalam dua kaleng alumunium raksasa yang dipikulnya kemana-mana, krupuk paling banyak kita jumpai adalah yang kecil berdiameter 3-8 cm berwarna merah jambu atau pink (warna merah jambu kini sudah tidak lazim disebut). Di Afrika pun bisa kita dapatkan Indonesian prawn croevets alias krupuk seperti jenis kedua dengan warna-warni yang lebih beragam. Krupuk yang pada dasarnya hampir tanpa nilai gizi tersebut memang melekat kuat sebagai penanda kebangsaan Indonesia selain tempe yang mana paten-nya akan/sudah direbut oleh Jepang.

Pertanyaan saya adalah, kenapa harus merah jambu (pink)? Penjual nasi goreng keliling di Jakarta memberikan ekstra krupuk merah jambu, mbak-mbak di kereta eksekutif Taksaka pun menyediakan krupuk yang sama, dan di kantin kantor pun dulu disediakan krupuk sejenis itu. Mengapa harus diwarnai? Mungkin karena kerupuk yang baik dan lezat biasanya dicampuri sari udang maka untuk mengimitasi udang tersebut diberilah warna merah jambu (pink), padahal warna krupuk udang yang asli adalah coklat. Coklatnya kurang cantik memang dibanding pink (pink is the colour of fashion, Aerosmith-PINK) tapi tentu saja kerupuk udang asli jauh lebih lekker daripada yang pink. Kerupuk pink hanya mengandung vetsin belaka untuk perasa gurih, bukan ekstrak kulit udang asli. Sari kulit udang saja dipalsukan, tapi cantik kan?

Akibat dari krupuk pink yang dimakan secara rutin itu akhirnya mendarah daging dalam mentalitas bangsa juga. Bangsa kita lebih suka melihat yang cantik-cantik daripada yang baik dan benar-benar mengandung sari udang. Dan cantik yang ditawarkan itu pun celakanya hasil bahan pewarna belaka bukan hasil penggorengan dari tepung yang baik dalam minyak yang baik pula. Sejak dini gadis-gadis memakai make up menor dan rambutnya disemir bagai londo celup, kadang tampak lebih cantik memang, tapi apa isi otak di balik rambut semir hi-lite tadi? Laki-laki pun makin gaul dengan celana hipster yang melorot, rambut ala nidji, kaos metal, pokoknya tampilannya brit-pop banget deh, tapi sekali lagi apa itu juga berarti baik dan benar.

Penting sekali memang menjadi cantik (atau ganteng). Saya pun lebih suka melihat wanita yang dress-properly daripada yang dandanannya tidak karuan. Tapi mengejar cantik semata itu bagai membangun rumah hanya mengutamakan genting keramik ber-glazuur tapi lupa fondasi. Pertama-tama yang harus dicapai adalah kebenaran, lalu kebaikan, barulah kecantikan begitulah tata urutan seharusnya.Namun manusia jaman sekarang suka membalik urutan tersebut, belum tahu mana yang benar, mana yang salah , yang penting tampak baik. Kalaupun sebenarnya tidak baik dipoles sana-sini supaya tetap kelihatan cantik.

Idealnya saya wajib menggugat dengan kondisi ini, dimana masyarakat semakin gaya tetapi otak makin kosong dan perasaan makin tumpul, tapi saya suka juga sih lihat mbak-mbak gaul dengan dandanan cantik dan seksi entah dia itu cerdas atau tidak, baik hati atau jahat. Yang cantik memang lebih enak dilihat meskipun rasa dan kandungan gizinya entahlah.