Kami tidak pernah mendeklarasikan pendirian genk apalagi sampai mendaftarkan badan hukum ke pemerintah. Kami hanya sekumpulan pemuda berprestasi luar biasa yang sering kumpul bersama.
Siapakah kami?
Pertama tentu saya mau menyombongkan diri dulu. Saya adalah pemuda berprestasi. Mantan orang paling pintar di kecamatan Mantrijeron, Yogyakarta kalau ditilik dari nilai Ebtanas. Artinya diantara 42,227 jiwa populasi Mantrijeron saya termasuk salah satu yang paling pintar.Satu diantara puluhan ribu, Coooy. Tapi tunggu, teman-teman genk saya prestasinya lebih mencengangkan lagi. [skala kecerdasan 1 : 40,000]
Kawan saya ini paling rajin, rapi, dan teratur. Pantas saja dia adalah mantan orang paling pintar se Kabupaten Bantul kalau dilihat lagi dari nilai Ebtanas. Dengan populasi 911,503 penduduk, artinya diantara hampir sejuta orang Bantul dia termasuk salah satu yang paling pintar. [skala kecerdasan 1 : 1,000,000]
Yang satu ini masuk UGM melalui jalur pemilihan bibit unggul daerah (PBUD) dari provinsi Nusa Tenggara Timur. Artinya dia adalah salah satu yang paling pintar diantara 4,679,316 orang dari propinsi yang memiliki prinsip sagat nerimo yakni Nanti Tuhan Tolong (NTT). Kenyataannya dia memang kawan yang memiliki kecerdasan alami paling menonjol diantara kami kalau ditilik dari kecepatannya menemukan kunci dan melodi gitar. [skala kecerdasan 1 : 4,500,000]
Bagaimana rupa dan wujud seseorang yang pernah paling pintar diantara puluhan juta orang? Kawan saya yang sangat brilian ini kok bisa-bisanya disangka penjual DVD, bebek goreng, atau tambal ban oleh orang-orang yang kurang bertanggung jawab, dasar bangsa sinetron tidak bisa menghargai muka cerdas tapi ndeso. Padahal bayangkan saja anda ambil sampel acak 10 orang, dia hampir pasti yang paling pintar. Ambil 10 juta orang pun masih kemungkinan dia yang paling pintar, karena bahkan pernah terbukti dia adalah yang paling pintar diantara 32,380,687 orang di provinsi Jawa Tengah. Disamping memiliki kecerdasan alami dia juga pandai bergaul. [skala kecerdasan 1 : 32,000,000]
Tendensi Politik dan Agama
Kebetulan memang KTP kami Katolik semua namun seingat saya bahkan sekali pun kami tidak pernah ke gereja bersama-sama. Disamping malas ke gereja kami juga tidak terkait ormas keagamaan ekstrim atau pun sebaliknya ikut LSM yang memperjuangkan “kerukunan” beragama. Jadi bisa disimpulkan kami berkumpul karena latar belakang pendidikan, profesi, dan prestasi kami semata.
Prestasi dan Aktivitas Kami di Masa Kini
Kalau kami, pemuda berprestasi, sedang kumpul di Jakarta biasanya kami main Play Station (PS) dari siang sampai menjelang malam di kos Katak di Kawasan Antar Bangsa Mega Kuningan. Kemudian malamnya minum-minum di Jalan Jaksa dengan mengundang beberapa kawan lagi untuk meramaikan suasana. Khas pemuda kampung banget kan? Gakpapa, kami gembira kok menjalaninya.
Soal gaji juga jangan dibayangkan kalau mantan orang-orang paling cerdas ini punya gaji fantastis. Yang terbesar diantara kami saat ini ‘hanya’ mengantongi sekitar 300 Euro per hari dengan berbagai macam potongan dari agen penyalur tenaga kerja. WTF!
Kehidupan Pribadi
Memang saat ini beberapa (semua) diantara kami sudah memiliki pasangan yang cukup cantik dan baik. Namun kehidupan asmara sebelumnya sebagai pemuda berprestasi bisa dibilang cukup mengenaskan. Serangkaian penolakan kami alami, dasar wanita Indonesia kebanyakan nonton sinetron tidak bisa menghargai kami yang memiliki Beautiful Mind.
Apalagi kalau standar infotainment diterapkan di sini, kenyataan bahwa belum ada diantara kami yang pernah pacaran dengan pedangdut atau pesinetron maka bisa disimpulkan kami masih kalah jauh dari Bang Haji Rhoma Irama, Saipul Jamil, atau Aldi Bragi yang dangdut abis. Ter…Laa…Luuu
Kesimpulan
Masih banyak PR yang perlu kami kerjakan untuk tetap bisa menyandang gelar pemuda berprestasi.






















