Global Warming Up
Percayalah aku ingin ngomong soal global warming.
Aku percaya bumi memang dalam bahaya.
Tapi aku suka pakai plastik, pakai listrik banyak2, pergi kemana-mana pakai kendaraan bermotor.
Di kantor, mesin tissue makin gila saja, sekarang pake sensor otomatis, bener-bener ga afrika banget deh, aku padahal dah siap-siap untuk keperluan ke belakang lap pakai daun singkong sebelum ke Afrika, ternyata disini tak ada tanaman singkong. Di toilet tak ada mesin pengering, digunakanlah tissue yang keluar otomatis saat sensor didekati. Sekali keluar sekitar 40×30 cm dengan tebal 1.5 mm. Yang pertama-tama langsung teringat adalah ketika dahulu hari minggu ada demo dari gadis santa Ursula jakarta yang membagikan saputangan kain. Kata mereka yang berdemo, ini adalah saatnya untuk kita kembali ke saputangan. Penggunaan kertas tissue yang makin populer saat ini makin membuat hutan gundul karena tissue dibuat dari pulp alias bubur kayu. Flora langsung nyeletuk “loh tapi kan tissue bisa hancur di toilet”. Well honey, bukan itu masalahnya kalau kebanyakan pakai tissue itu bisa kena penyakit cikungunya
Hutan makin tipis, filter CO2 di muka bumi ini makin sedikit, penggunaan tissue yang makin kencang punya andil dalam memperparah kadar CO2 di udara. Tapi saya sendiri bingung bagaimana mengerem pemakaian tissue. Di afrika ini semua toilet berupa toilet duduk dimana penggunaan tissue wajib hukumnya. Mengelap dengan saputangan kain sepertinya menjadi opsi yang sangat repot dan tidak praktis terlebih pada umumnya saputangan biasanya harus dicuci setelah dipakai. Sementara itu, sulit sekali mencari kesempatan buang hajat di padang rumput bersama tuan singa dan paman gajah, ga afrika banget deh.
Beberapa waktu yang lalu saya bisulan sebanyak 3 kali di sekitar bibir, dan ketika pecah keluarlah sedikit demi sedikit namun sakit yaitu adalah cairan bernama nanah. Enggak elit banget ya penyakit kok bisul. Nah untuk mengelap nanah itu saya menggunakan tissue. Kalau di total untuk keperluan bisul saja saya menghabiskan hampir 2 gulung tissue. Mungkin itu cuma dibikin dari secuil bagian dari dahan pohon. Tapi jika ada 10.000 orang bisulan seperti saya di saat bersamaan maka saya yakin satu batang pohon habis untuk mengelap nanah. Bumi ini punya 4 milyar lebih manusia, sangat mungkin dalam sehari terdapat lebih dari 10.000 orang bisulan di saat bersamaan, belum lagi yang pilek, belum lagi yang sekedar gaya pakai mesin tissue dengan sensor otomatis seperti saya dan kantor saya. Yang pasti saya tidak mau bisulan lagi.
Dari toilet kita menuju kantin. Di kantin ada tulisan: CO2 SHORTAGE. The Coca-cola company South Africa bisa-bisanya pasang pengumuman kalau mereka kekurangan CO2 sebagai bahan baku utama minuman bersoda. Ketemu pirang perkoro jal, benar-benar tidak masuk akal.Dunia sedang sibuk mengurangi kadar CO2 di udara kok bisa-bisanya ada yang teriak kekurangan CO2. Jangan-jangan CO2 disini harus CO2 murni yang proses mendapatkannya perlu mesin canggih dengan skala atomik yang mana akan menggabungkan atom C dan O dst…dst…. Mungkin sekali proses untuk mendapatkan CO2 murni yang bisa dimasukkan ke minuman bersoda ini sendiri menyumbang banyak CO2 yang tidak murni ke udara, entahlah saya belum pernah lihat pabrik minuman bersoda.
Saya jadi terus berpikir dan berpikir. Ternyata segala aktivitas manusia jaman sekarang menyumbang CO2. Sementara itu belum ada solusi tokcer satu pun. Penggunaan biofuel sepertinya tidak memberikan solusi, dan jika diteruskan yang terjadi justru manusia kekurangan bahan pangan karena dirubah jadi biofuel. Ada lagi para ahli dari UMY jogja yang mencoba solusi banyugeni yaitu mendapatkan bahan bakar dari air dengan memisahkan hidrogen dan oksigen tapi apakah proses pemisahan itu sendiri tidak menimbulkan polusi mengingat perlu energi yang besar karena kecenderungannya adalah H bertemu O membentuk air dan bukan sebaliknya. Beberapa ahli juga yakin bahwa sebelum minyak di perut bumi ini habis, bumi sudah kiamat duluan karena pencemaran sudah tidak terkontrol lagi dan kondisi bumi sama sekali tidak bisa pulih.
Krisis sebenarnya sudah sangat dekat. Jika kondisi ini dibiarkan terus begini, kita akan mencapai titik dimana kerusakan bumi tidak bisa dikendalikan lagi. Saat ini kita masih punya kesempatan tapi sepertinya kok gaya hidup kita makin mendukung pemanasan global. Semua orang ingin punya mobil, ingin punya kulkas, dan tidur pakai AC.
Bagaimana ya kondisi bumi 10 tahun mendatang? Kira-kira kalau saya punya anak bisa bernapas lega enggak ya? Anak saya apakah akan menjadi salah satu generasi terakhir di muka bumi bukan ya? I am not joking, ini bisa terjadi dan saya benar-benar khawatir. Yang pasti saya ingin mencapai puncak Kilimanjaro selagi masih ada es disana. Saya harus menyentuh es “abadi” sebelum keabadian itu dicairkan oleh pemanasan global.
Btw disini masih dingin euy, meskipun sudah ga’ sedingin bulan Januari. Bingung juga kenapa banyak yang bilang “Gimana Afrika, masih panas?” Tapi memang beberapa tahun ini katanya afsel makin dingin, tahun lalu malahan katanya sempet turun salju di beberapa bagian kota Johannesburg. Kata si Dedi ini justru efek pemanasan global, es kutub mencair, laut jadi makin dingin, daratan ikutan dingin. Oh mungkin ini cuma warming up saja, belum pemanasan yang sesungguhnya.
Tags: Afrika, Global Warming, Tissue
You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.
Kamis,13 Maret 2008 at 2:03 pm
walaupun setuju supaya kita mengurangi pemanasan global, tapi kalo untuk mengurangi pemakaian yang namanya tissue kayaknya susah banget deh..
apa lagi kalo lagi pilek…. bisa satu roll tissue habis dalam satu hari..
Apa bikin produk sapu tangan yang di rancang seperti tissue yang bisa sekali pakai langsung buang
Jumat,14 Maret 2008 at 1:11 pm
we’re like someone who stopped smoking in his dying bed…
it’s too late..
we’re going to die…
gaaaaaahhh…
seriously…earth will heal, people will get smart, and this global warming thing will pass. Nothing is as bad as it may seems
Jumat,14 Maret 2008 at 5:39 pm
global warming tiba2 menjadi issue yang demikian diperhatikan oleh banyak orang.. syukurlah, akhirnya manusia sadar.. bahwa bumi ini “capek” juga.
tapi bagaimana ya langkah nyatanya..kalau soal hemat, mengurangi emisi bahan bakar..rasa2nya kalo cuma dilakukan segelintir orang ga ngaruh deh.
entahlah. no idea.
Sabtu,15 Maret 2008 at 2:06 am
sorry ya.. aku tak bermaksud buat tulisan yang menyinggung..justru itu adalah pujian.
coba baca sekali lagi.
aku sudah bikin perbaikan. karena kamu benar, sudah selayaknya aku hati2, tidak terlalu berani.
trims.
Sabtu,15 Maret 2008 at 2:11 am
oya..barusan aku udah dapet jawabannya
dan menyenangkan. syukurlah.
Sabtu,24 Mei 2008 at 10:58 am
wah, inilah yang kubahas dalam essay ku
mudah-mudahan dengan mengurangi penggunaan tissue denagn saputangan bisa paling tidak mengurangi jumlah pohon yang ditebang untuk membuat bahan tissue tersebut
semoga kita juga bisa menggunakan kertas dengan bijak tanpa banyak menggunakannya untuk seseuatu yang sia-sia untuk menyelamatkan dunia dari global warming yang semakin parah, ha ha ha^_^