3,1415926535 8979323846 2643383279 5028841971
Pi (∏), secara geometris mudah dijelaskan, yaitu nilai yang kita dapat ketika panjang keliling lingkaran (circumference) dibagi garis tengah lingkaran (diameter). Namun berapakah nilai itu tepatnya ketika kita diminta menuliskan dalam bilangan? Apakah nilai itu setara dengan 22 dibagi 7? Bukan. Apakah nilai itu 3,14? Bukan juga. Jika suatu lingkaran memiliki diameter 1 m maka keliling lingkarannya pastilah Pi meter. Angka yang saya tuliskan pada judul di atas pun hanya pendekatan yang dianggap sudah cukup mewakili nilai Pi yang sebenarnya. Superkomputer yang canggih saat ini pun belum bisa menjamin secara tepat nilai Pi. Namun ada saja yang kurang kerjaan mengahafal nilai itu seperti Akira Haraguchi yang bisa menghafal nilai Pi sampai 10.000 di belakang koma. Carl Sagan meramalkan jika suatu saat nanti nilai Pi benar-benar bisa ditemukan secara tepat, maka segala kode yang dari Sang Pencipta yang tersembunyi dalam setiap ciptaan akan terkuak pula. Wah, sesuatu yang sepele bisa jadi ngoyoworo sampe ke ramal-meramal.
Dalam format tanggal Amerika, 3/14 atau tanggal 14 Maret versi Indonesia dirayakan sebagai hari Pi sedunia oleh para ilmuwan. Cukup masuk akal jika tanggal itu dianggap mewakili pendekatan kasar konstanta Pi yaitu 3,14. Kira-kira hari Pi sedunia dirayakan dengan lomba pakai baju kebaya dan masak-masakan enggak ya?
Matematika seringkali membawa kita ke wilayah yang kelihatan sangat abstrak dan sulit dicerna seperti lukisan Affandi, dilihat sulit, dikunyah lalu dicerna juga sayang karena harganya mahal, mendingan dijual saja. Betapa pusingnya dulu ketika kuliah melihat integral rangkap 3, bilangan imajiner yang dihubungkan dengan trigonometri, aljabar Boolean, sampai sesuatu yang sifatnya terapan matematika seperti ilmu komputer dan pemograman. Semua itu sangat sulit bagi saya.
Saya yakin juga banyak diantara anda yang merasa kesulitan dalam matematika dan langsung membela diri dengan mengatakan bahwa matematika teoritis tidak banyak dipakai di dunia kerja, asal tahu politik perusahaan selamatlah karir kita.
Begitulah matematika, tampak sulit dan untuk diterapkan di dunia nyata tampak jauh lebih sulit sehingga banyak orang menyerah untuk mengenalnya lebih dalam termasuk saya. Seringkali saya mengalami kesulitan mengikuti pelajaran matematika. Semenjak SMA saya adalah pelanggan nilai terbawah matematika tiap kali ulangan sehingga guru wali kelas saya di kelas 2 yang kebetulan juga guru matematika menyarankan saya mengambil IPS saja. Untung saja kesadaran saya sedikit tersentak dan saya berjanji akan lebih rajin mengenal matematika dan meminta guru wali kelas memasukkan saya ke kelas IPA. Kuliah pun saya ambil teknik sehingga pasti banyak berurusan dengan matematika. Alhasil, memang saya sepertinya lamban dalam berfikir logis dan struktural yang menjadi prasayarat belajar matematika.
Namun mungkin juga selama ini yang saya lihat hanya matematika dengan cara sulit. Seperti contoh Pi di atas, saya cenderung melihat Pi sebagai konstanta yang angkanya tak habis-habis daripada sesuatu yang sederhana seperti keliling lingkaran dibagi diameter.
Matematika adalah perwujudan perjuangan manusia untuk menyederhanakan segala fenomena alam di sekitarnya dalam notasi. Dengan notasi-notasi itu kita bisa melakukan pemodelan dan merekayasa pemodelan itu untuk mengoptimalkan hasil. Gampangnya begini, kalau ada orang mau buka usaha bikin donat dan sudah tahu berapa perbandingan tepung, telur,ragi, dan gula, maka untuk menghitung modal usaha untuk membikin 1000 donat dalam sehari si pengusaha bisa melakukan hitungan matematis di atas kertas tanpa perlu menghadirkan bahan baku terlebih dahulu untuk ditakar satu persatu. Untuk keperluan ekonomi dan teknik yang lebih rumit, matematika punya peranan yang lebih besar dalam menentukan suksesnya usaha manusia. Dengan perhitungan yang cermat, kerugian bisa diantisipasi, sistem berjalan lebih efisien, sumber daya bisa dihemat dan kehidupan manusia menjadi lebih mudah.
Jangan takut untuk terus belajar matematika betapapun sulit dan tampak tak berguna hal itu.
Selamat hari Pi sedunia.
Bukan Fi atau Vi lho ya, nanti bisa kena folusi dan penyakit volio kalau nyebut Pi sebagai Fi atau Vi.
Tags: Matematika, motivasi, Umum
You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.
Sabtu,15 Maret 2008 at 6:27 pm
aku agak terkejut juga dengan tulisanmu ini.
kalo di negara2 maju, orang2 yang akan maju sebagai kandidat pemimpin harus mampu membuat maket solusi atas permasalahan2 yang ada dengan perhitungan teknis dan matematis.
padahal itu bukan berada di wilayah matematika kan..melainkan lebih ke sosial-politik, hukum, dll.
betapa hebatnya matematika itu ya
. salut salut.
selamat hari Pi, 14 maret.
Selasa,18 Maret 2008 at 6:49 am
sblmnya salam kenal doeloe y,,,
benerny wktu buka blog ini lagi bingung…
soalny dosen ku tanya pi tu benernya apa??
tapi jawabannya ga cuma sekedar keliling di bagi diameter tok…
dosenku pengennya 1 lingkaran tu dibagi jadi bangun-bangun yang ga jelas… trus lama2 ketemu nilai pi….
la dari hal-hal g jelas itu matematika bisa jawab….
dan yang nulis comment ini pun jadi ga jelas………..
maaf…
cuma numpang mengeluarkan uneg2 akibat pi…
i’m d victim of pi………
Selasa,18 Maret 2008 at 7:40 pm
Hi Soelis,
Rumus keliling lingkaran (sebut saja ‘c’ untuk circumference dan ‘d’ untuk diameter) adalah
c = Pi x d.
Kalo di mistik (istilah ramal nomer)
Pi = c /d
yaitu keliling dibagi diameter.
Nah si pak dosen mungkin ikut mahzab yang rumit dimana lingkaran dipotong sama besar hingga tak berhingga bagian hingga ketemulah nilai Pi. Padahal gampangnya ya kalo sembarang lingkaran diameternya = 1 pasti kelilingnya = pi. Boleh di cek di wikipedia atau referensi yang lebih terpercaya dari wikipedia. Tapi di wikipedia cukup jelas dan masuk akal kok.
http://en.wikipedia.org/wiki/Pi
Rabu,19 Maret 2008 at 7:34 am
Hoalah mubeng2 sidane ajakan belajar matematika to……+_+
Selasa,8 April 2008 at 1:28 pm
blank! Ton, kamu membuatku minderrrrr…!!!(SMA lulusnya nyogok, nih)