Mari Bicara Nuklir

Beberapa saat yang lalu saya chatting dengan rekan saya Herwindo yang tiba-tiba getol mendukung pembangunan PLTN di Indonesia. Sepertinya isu pembangunan PLTN sudah bergulir sejak saya masih SD, namun sampai sekarang tak kunjung terdengar kabar kelanjutannya. Ide soal PLTN ini terus menggelitik saya sampai akhirnya saya gulirkan sebuah pertanyaan ke Yahoo! Answer mengenai keengganan masyarakat menerima PLTN dan bagaimana mengubah persepsi masyarakat agar mau mendukung PLTN.

Berikut ini petikan hasil bertanya di Yahoo! Answer yang saya terjemahkan dengan asal-asalan dari versi Inggrisnya yang lebih asal-asalan.

Jawaban terbaik hasil voting pengunjung Yahoo! Answer berasal dari orang bernama Craig H., entah siapa dan darimana asalnya beliau ini.

  • Hal-hal yang belum saya lihat dari jawaban-jawaban sebelumnya:

    1. “Orang-orang hijau” melihat nuklir sebagai alternatif baru beberapa tahun belakangan ini. (Dukungan aktivis lingkungan terhadap program nuklir belum berlangsung lama)
    2. Pada tahun 1970an, para pengacara yang disewa oleh aktivis lingkungan bahkan bekerja melebihi batas sehingga cenderung mematikan industri nuklir dan segala fasilitas umum yang mendukung PLTN. Mereka menununtut desain yang berlebihan, memaksa pembangunan ulang sistem yang telah berdiri, menambah lapisan pengaman dan redundansi, sehinga secara umum mengakibatkan biaya pembangunan PLTN setinggi langit. Beberapa perubahan ini memang membawa perbaikan pada desain, tapi yang paling jelas hal ini membuat para pengacara tersebut menjadi kaya raya.


    PLTN harus dan berusaha sekuat tenaga untuk menutup biaya pembangunan dan operasional yang tinggi disamping masih harus menghadapi pendapat masyarakat umum yang buruk soal PLTN bahkan hingga kini.

    Semenjak tahun 1970an, teknologi telah berkembang pesat dan masalah penting yang belum tertanggulangi hanyalah bagaimana mengolah limbah nuklir. Namun demikian saat ini sedang diusahakan desain reaktor baru yang dapat mendaur-ulang limbah radiokatif masuk kembali ke siklus kerja reaktor nuklir.

    Semoga membantu

***

Jawaban terbaik kedua berasal dari Crabby_blindguy3 yang memaparkan hal-hal berikut:

Jika anda ingin mengubah persepsi, anda harus mengenali sumbernya, dan saya yakin bukan berasal dari aktivis lingkungan.

Memang benar, Chernobyl memberikan pelajaran pahit kepada kita mengenai pentingnya faktor keamanan.Perlu diingat juga bahwa di tahun 1980an terjadi bencana kebocoran kimia di Bhopal yang bahkan membunuh lebih banyak orang. Namun hal ini tidak membuat pertumbuhan industri kimia melambat.

Perlu diingat pula bahwa di Amerika Serikat kami menghadapi kekuatan politik yang sangat konservatif dan anti lingkungan terutama sejak 2001. Para aktivis lingkungan tidak memiliki kekuatan politik yang bisa mendukung revitalisasi PLTN.

Mengapa (pembangunan kembali PLTN) tidak terjadi? Mari kita gunakan logika dan melihat kemana uang mengalir. Industri minyak dan batubara terus menerus mengeruk untung sehingga mereka bisa membeli kaum Republikan dan beberapa Demokrat untuk menjaga kantong mereka. Jika pembangunan kembali PLTN terjadi, niscaya mereka akan mulai kehilangan uang.

Inilah sumber dari persepsi negatif. Jika anda ingin mengubahnya, cari sumbernya. Semua isu ini tidak ditentukan oleh Sierra Club atau Green Peace, melainkan dari meja para direktur industri bahan bakar fosil.

***

Ada juga jawaban dari Pipit Pudjo yang sepertinya memang orang Indonesia. Jawabannya sebagai berikut:

  • Menurut saya ini bukan hanya masalah persepsi. Faktanya memang nuklir itu berbahaya meskipun memiliki manfaat. Pastikan PLTN dibangun jauh dari pemukiman seperti misalnya di pulau terpencil. Saya percaya nuklir adalah masa depan. Semoga beruntung.(hehehehe, yang ini komentarnya Indonesia banget)

Di saat Harga minyak dunia naik, seluruh dunia panik, masyarakat berdemo besar-besaran, dan sahabat saya Aryo memaparkan teori mengoplos Pertamax untuk mobil mewah. Tapi sepertinya jarang sekali yang memikirkan solusi alternatif seperti nuklir. Orang mendengar nuklir langsung serem mati berdiri seperti melihat hantu Suster N. Benarkah nuklir hanya bahaya dan bahaya saja. Mari bicara nuklir!

Eh tapi siapa pakar yang bisa bicara, jurusan teknik nuklir UGM yang mana satu-satunya di indonesia pun kabarnya akan/sudah ditutup.

Faktanya, Indonesia sudah tidak mampu lagi mengekspor minyak sehingga Presiden SBY memikirkan untuk keluar dari OPEC. Artinya, Indonesia mulai miskin minyak. Kita harus memikirkan transportasi masal bertenaga listrik yang terpusat dimana listrik tersebut disuplai oleh PLTN seperti Jepang misalnya.  Jadi kita bisa mengurangi penggunaan sepeda motor atau mobil untuk bepergian dengan jarak yang agak jauh. Ah, tapi mana ada orang yang sudah “sukses” kerja  di  Jakarta sudi berdesakan di KRL, …susah cah.

Sudahlah mari kita demo BBM saja, toh dengan berdemo reporter TV jadi ada kerjaan disamping meliput perselingkuhan artis dangdut dengan gubernur, pedagang aqua keliling jadi kebanjiran rejeki, dan yang pasti negara lain melihat Indonesia itu lucu…Ih kamu lucu deh, gemesin banget.

Explore posts in the same categories: Non-Category

Tags: , , ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

4 Comments on “Mari Bicara Nuklir”

  1. rama Says:

    asal infrastruktur fisiknya jangan dikorup aja. harusnya tebal 10mtr dikorup jadi 5mtr ya jebol lah… :-)

  2. kurnia Says:

    Jadi pengen ikut ngomong. Panjang nggak pa ya Ton!

    Baru saja Batam mengalami krisis listrik. Tiap hari, paling tidak listrik mati selama 6 jam. Industri-industri kelimpungan. Koran lokal banyak memuat berita ini itu merugi karena listrik yang byar pet. Banyak pula yang terancam gulung tikar. Teman saya mengumpat-ngumpat sepanjang hari.

    Krisis ini disebabkan oleh terhambatnya pasokan gas alam ke PLTG. Terhambat…bukan berarti gas alam kita habis. Saya sulit membayangkan jika gas alam habis bis…

    Tapi gas alam dan minyak bumi akan habis. Dan sampai sekarang belum ada energi pengganti yang memungkinkan selain nuklir. Berbagai alasan muncul untuk menolak nuklir.

    Lebih mahal. Ya, modal awal energi nuklir memang mahal. Setelah itu tidak lagi, beda dengan pembangkit-pembangkit lainnya.

    Nuklir berbahaya. Ya, nuklir berbahaya. Namun saya rasa dengan teknologi penyimpanan yang telah ada sekarang, kita tak perlu takut akan radiasi limbah nuklir. CO, CO2, sulfur, dan abu di atmosfer akibat penggunaan bahan bakar fosil lebih berbahaya daripada limbah yang terbungkus rapat dan dipendam jauh2 di bawah permukaan bumi. Dan media penyimpanan ini…, ada orang Indonesia yang memiliki hak patennya.

    Masalah ketakutan akan terulangnya tragedi chernobyl? Saya coba analogikan dengan pesawat. Secara logika pesawat adalah sarana transportasi paling berbahaya. Begitu jatuh, habislah sudah. Tapi kenapa resiko kematian penumpang pesawat lebih kecil dari sarana transportasi lainnya? Jawabnya sederhana, karena prosedur keamanan pesawat jauh lebih tinggi. Ini juga menjawab pertanyaan kenapa pemerintah ingin membangun PLTN di daerah Jepara, bukan di “pulau terpencil” seperti yang dikatakan Pipit. Pembangunan PLTN juga memperhitungankan resiko bencana alam, seperti banjir, gempa, gunung berapi, dan sebagainya. Semua resiko ini ditekan sekecil-kecilnya.

    Masih banyak energi alternatif lainnya yang lebih ramah lingkungan. Ini benar juga, ada tenaga ombak, sinar matahari, angin, sampah, air, panas alam, biogas, dsb. Energi alternatif terbarukan ini memang ramah lingkungan dan sangat cocok diterapkan di daerah terpencil. Di kota-kota besar? sayang sekali negeri kita tak punya sumber daya alam yang mencukupi untuk itu. Membantu bisa, mencukupi tidak.

    Jurusan Teknik Nuklir UGM memang sudah tidak ada Ton! Yang ada Jurusan Teknik Fisika Program Studi Teknik Nuklir. Ini hanya masalah nama, karena ada prodi baru bernama fisika teknik dan ilmu fisika ini lebih luas daripada teknik nuklir. Karena itu dianggap lebih layak jika nama jurusannya memakai nama fisika. Ilmu nuklir masih terus dibutuhkan walau tak ada PLTN, di rumah sakit, industri, pertanian, selalu dibutuhkan insinyur nuklir walau dalam jumlah sangat sedikit.

    Wah, wah, komenku seperti post sendiri. Maap!


  3. Ada orang Batankah? Kebetulan kedua orangtua saya bekerja di BATAN Yogyakarta.. Saat saya menanyakan tentang PLTN, mereka langsung menyerocos panjang lebar dengan berbagai macam kata yang tidak saya mengerti.. Maklum, Professor…


Comment: