Bapakku dan Perjalananku ke Luar Negeri
Cibinong, 1986
Awalnya suatu malam bapak pulang dari kerja seperti biasa di pabrik tekstil di Citeureup. Dia menunjukkan kepada kami sekeluarga sebuah brosur tentang kesempatan hidup di Amerika. Waktu itu saya masih duduk di TK nol kecil sehingga belum tahu Amerika itu negara apa dan dimana. Kata bapak amerika itu negara paling maju di dunia dan mereka berbahasa Inggris. Lantas saya terbayang lucunya bapak, ibu, saya dan adik-adik harus berbahasa Inggris di rumah, di sekolah, di warung, di mana saja. Lalu saya berpikir, dimana saya akan membeli es mambo kacang hijau kesukaan saya, apakah Pok Bat atau Bang Enjam akan ikut migrasi ke Amerika?
“Nek Amerika ki maju, awake dewe pindah wae “, kata saya dalam bahasa Jawa yang mana sudah biasa saya gunakan sejak kecil meski tinggal di Cibinong yang mayoritas berbahasa Betawi-Sunda. Lalu bapak menjelaskan bahwa untuk pindah ke Amerika itu kami sekeluarga harus melewati serangkaian tes dan dalam brosur itu dicantumkan bahwa anak-anak para imigran, yang berarti saya, kelak harus ikut dalam wajib militer.
Begitulah mulanya American Dream menyentuh kehidupan keluarga kami. Entah brosur yang dibawa bapak saya sore itu benar atau sesat yang pasti saya merasa beruntung tetap menjadi warga Indonesia sampai saat ini. Jikalau keluarga saya dulu benar pindah ke Amerika kemungkinan besar saya sudah dikirim ke Afghanistan atau Irak sebagai wajib militer. Dan kalaupun saya bisa pulang dengan nyawa utuh, saya akan pulang dengan menghadapi kondisi negara saya(Amerika) yang tengah hancur perekonomiannya.
Yogyakarta, 1990-an
Setahun semenjak kepulangan kami sekeluarga ke Yogya, bapak tidak kunjung mendapatkan pekerjaan, beruntung jahitan ibu saya sangat diminati ibu-ibu di sekitar rumah yang mana banyak diantara mereka adalah istri orang penting sehingga punya badan tak beraturan akibat pola makan yang tak beraturan pula. Ibu saya selalu tahu bagaimana membuat wanita berbadan “sulit” merasakan baju yang dikenakannya pas.
Bisa dibilang kehidupan kami sangat pas-pasan pada waktu itu dan untuk beberapa tahun ke depan. Namun demikian beruntunglah saya karena tidak dididik untuk menerima nasib hidup susah. Kehidupan saya yang susah bisa diubah jika saya mau berusaha. Dan usaha pertama yang saya lakukan adalah…bermimpi. Saya suka sekali membuka-buka atlas melihat urat-urat jalan di seluruh dunia membayangkan saya menyusurinya. Kelas tiga SD ketika teman-teman yang lain masih menghafal nama-nama kecamatan di kota Yogyakarta, saya sudah tahu persis dimanakah Vladivostok dan Johannesburg.
Saya kerap-kali menceritakan impian dan keinginan saya ke luar negeri ke bapak dan ibu saya dan sudah barang tentu mereka tidak bisa mengajak saya ke luar negeri seperti anak-anak orang kaya. Tapi bapak saya tidak hilang akal, dia mengunjungi salah satu kerabat kami yang berkuliah di UGM jurusan hubungan internasional. Kepada saudara itu bapak meminta alamat korespondensi kedutaan dan perwakilan asing di Jakarta. Kebetulan juga ayah dari kerabat kami itu pernah jadi juru masak di KBRI Moskow.
Dan dimulailah perjalanan saya ke Moskow, Uni Sovyet kala itu, …. Ah tentu saja tidak. Keluarga kami cukup miskin terlebih bapak saya tidak kunjung memiliki pekerjaan tetap sehingga untuk piknik ke Baturaden pun perlu menabung setahun. Yang bapak saya lakukan adalah membeli selusin kartu pos yang mana kalau tidak salah waktu itu harga satuannya Rp 100 dan jika membeli selusin cukup Rp 1000. Tak lupa juga perangko Rp 150-an yang berlaku untuk pengiriman kartu pos ke mana saja ke seluruh Indonesia.
Bapak mengajari saya bagaimana menulis alamat dan pesan singkat di balik kartu pos serta bagaimana cara menempel perangko dan memasukkannya ke bis surat di perempatan Khe Gie (sekarang lebih dikenal sebagai perempatan Maga). Kartu pos tersebut kami gunakan untuk menyurati kedutaan-kedutaan besar di Jakarta. Di belakangnya saya menuliskan pesan singkat untuk meminta brosur, buku, atau segala bentuk informasi mengenai negara tersebut. Wajarnya, permintaan semacam ini dilayangkan dengan surat dalam amplop tertutup, namun perangko untuk surat kala itu Rp 300 sementara kartu pos hanya Rp 150. Jika ditambah harga kartu pos yang kurang dari Rp 100 per lembar, kami masih bisa berhemat beberapa rupiah sehingga anggaran rokok bapak saya tidak terlalu terganggu dengan kegiatan korespondensi anaknya.
Beberapa minggu kemudian kegiatan itu membuahkan hasil. Kedubes Jerman Barat mengirimkan majalah berjudul Scala yang berbahasa Indonesia. Saya masih ingat betul artikel tentang kota Hansa, Pabrik Audi, dan sebuah bangunan gothic yang fotonya tak jemu-jemu saya pandangi. Majalah itu segera jadi “buku” kesayangan saya setelah atlas.
Menyusul adalah sebuah buku kaya informasi dari kedubes Inggris bertajuk Britain in Brief. Buku tersebut bersampul ungu dan terdapatbanyak gambar di dalamnya. Karena saya waktu itu sangat belum bisa berbahasa inggris dan bahasa Inggris bapak saya sebatas “this is a chair” maka buku itu tidak bisa kami mengerti. Akhirnya bapak saya meminta saya mengirim surat (maksud saya kartu pos) lagi ke kedutaan Inggris di Jakarta yang menerangkan kalau saya ini anak kelas 3 SD dan ingin mempelajari soal Inggris. Tak lama berselang tibalah buku lain bersampul biru dengan gambar-gambar yang sama namun berbahasa Indonesia dan bertajuk Inggris Selayang Pandang. Saya lantas berpikir mengapa di versi inggris tidak ada kata English tapi Britain, apakah Inggris dan Britania itu sama.
Berikutnya yang menarik adalah sebuah brosur berlipat-lipat dari Swiss. Brosur itu berisi informasi tentang Swiss yang mana saya menjadi tahu kalau Swiss terdiri dari 26 kanton dan tiap kanton punya bendera masing-masing, dan bertanya-tanya mengapa 27 propinsi di Indonesia tak memiliki bendera. Pasti kalo propinsi di Indonesia punya bendera akan banyak logo segilima dengan padi dan kapas bertebaran sebagai lambang kemakmuran yang hanya di angan-angan. Yang menarik adalah jika brosur lipat itu direntang maka menjadi poster amat besar yang bergambar sebuah danau di Geneva.
Berikutnya datang dari kerajaan Belanda juga berupa brosur lipat dimana jika direntang, dibalik informasi tertulis ada peta belanda dengan gambar-gambar karikatur lucu yang membuatnya mudah diingat misalnya wilayah Belanda yang berada di bawah air digambarkan polder-nya dan orang berenang di aras air yang lebih tinggi dari daratan, kemudian kota seperti Eindhoven sebagai asal lampu philips digambarkan dengan manusia lampu.
Menyusul Amerika, Australia, Selandia Baru, Italia, Kanada, Chekoslovakia, dan Norwegia memenuhi dunia masa kecil saya dengan “perjalanan” ke luar negeri. Seingat saya tak satu pun negara Asia membalas kartu pos saya kecuali satu negara yaitu Irak. Irak mengirimi saya koran berbahasa Inggris berjudul Baghdad Observer. Namun karena Irak tidak terlalu menggugah minat saya, maka saya tak menyurati kembali untuk meminta edisi bahasa Indonesianya. Ketika setahun kemudian (1991) perang Irak-Amerika pertama dimulai barulah saya mengikuti perkembangan mengenal Irak sebagai si Jahat yang menyerbu Kuwait dan Amerika sebagai ‘polisi dunia’ wajib mengamankannya, yang mana kelak saya mengerti bahwa baik perang Irak yang dulu maupun yang sekarang hanya taktik politik Bush Tua dan Bush Junior yang merupakan blunder bagi Amerika.
Kuala Lumpur, 2008
Bertahun-tahun kemudian, masa kini, saya di sebuah hotel yang hanya berjarak beberapa lemparan batu dari menara kembar petronas Malaysia, menulis blog ini setelah membaca buku biografi Mark Twain. Mark Twain adalah tokoh yang dulu hanya saya kenal lewat karikatur di majalah Amerika yang dikirimkan hasil beburu dari kartu pos.
Saya tutup buku mengenai Mark Twain dan justru teringat pada Tuan Biswas tokoh di novel V.S. Naipaul. Mohun Biswas yang pecundang dan selalu kalah dalam hidup mengingatkan saya pada bapak saya. Bapak saya bisa dibilang juga orang yang selalu kalah dalam hidup, bahkan di rumah pun kalah pamor dari ibu saya, perangainya sulit dan memang bukan jenis rekan kerja yang disukai sehingga sulit mendapat pekerjaan tetap. Mohun Biswas pun begitu, tapi seperti tuan Biswas pula bapak saya menaruh perhatian penuh pada pendidikan anak-anaknya. Kadang saya berharap bapak saya adalah orang yang lebih tangguh dan bisa mengajari saya bagaimana menjadi pemenang, tapi saya kemudian menyadari bahwa dia sudah berusaha menjadi seorang bapak dengan segenap kekurangannya.
Oke, cukuplah bicara mengenai keluarga saya. Kini saatnya merancang perjalanan berikutnya… India… Azerbaijan… Bangladesh… Colombia…. Hmmm, ada duit nggak ya?
Tags: indonesia, Irak, jalan-jalan, keluarga, luar negeri, malaysia, nasionalisme, pengangguran, Uang, wisata
You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.
Jumat,5 Desember 2008 at 2:18 pm
Hebathebat hebat ….. mimpi dan terus bermimpi … kerennnn …keluarga yang hebat, anak yang hebat, dan terutama salut untuk BAPAK HEBAT itu … karena darinyalah mas dapat bermimpi …. dari selembar brosur milik Bapakmu itu kan mas …
Keren … tahun kapan itu yah kira2?
Jumat,5 Desember 2008 at 2:19 pm
emmh tahun 1986 ding … ups sorry …
Kamis,11 Desember 2008 at 4:55 pm
Jadi, next destination will be….
ojo lali ngajak aku tho..
Kamis,18 Desember 2008 at 11:08 am
Mimpi yang jadi nyata!!!
Gw bisa gk ya mewujudkan mimpi2 gw?
Sabtu,3 Januari 2009 at 12:32 pm
Wah.. kaya film laskar pelangi ya..
mmg kita harus bermimpi dulu sblm mewujudkannya. Gmn mau terwujud klo bermimpi aja ga pernah, bener ga sih? sok tau ya.. hehehe.. Tapi kok ada yg kepenggal ya.. tiba2 udah di kuala lumpur.. penggalannya tolong diisi dong, justru itu mgkn yg bs jd inspirasi kita smua. nice posting
salam kenal ya..
Kamis,9 April 2009 at 10:04 pm
bapak “payah” mu itu sudah mengajari salah satu hal paling penting di dunia, ia mengajari anaknya buat “bermimpi”
Jumat,17 April 2009 at 11:26 pm
lama nggak mampir ke sini mas anton..
selalu ada yang unik dari blog ini. thanks
Jumat,2 Oktober 2009 at 3:29 pm
tulisane jan apek tenan mas…salam hangat saking tiyang bantul