Merencanakan Masa Depan
Dalam film Forrest Gump, hidup itu bagaikan sekotak coklat, kita tidak akan pernah bisa merasakannya sebelum membuka dan memakannya. Bagi saya, hidup itu bagai naik kereta senja utama, kita kadang tidak bisa memperkirakan siapa rekan seperjalanan kita. Kali ini rekan saya cukup istimewa, seorang bapak-bapak yang dilihat dari tampangnya sederhana saja, namun ternyata beliau luar biasa. Mas Wiji begitu saya menyebutnya, seorang bergelar master IT dari sebuah universitas di Malaysia. Status kami sama-sama karyawan swasta namun soal pengetahuan dan pengalaman beliau ini jauh lebih berisi dan yang pasti gemar berbagi meskipun saya waktu itu statusnya adalah orang asing yang baru saja dikenal.
Dia adalah penumpang yang membayar penuh namun tidak kebagian tiket duduk, kebetulan bangku di sebelah saya kosong, dan duduklah dia di samping saya. Awalnya kami saling diam cukup lama, dari Jakarta sampai lewat daerah Cikampek, saya pun asyik membaca novel Misteri Soliter pemberian adik saya. Kereta penuh sesak, penumpang kebanyakan kelaparan karena biasanya dari tempat kerja langsung mengejar kereta , namun cuma ada penjual nasi goreng restorasi dan pop mie-kopi yang kelarisan. Awalnya saya dan Mas Wiji ingin memesan pop mie untuk sekadar ganjal perut namun ternyata sudah habis, akhirnya dia memesan kopi dan saya tetap setia dengan air botolan yang entah benar aqua atau bukan. Tampaknya rekan seperjalanan saya ini ingin merokok semenjak tadi namun khawatir kalau menganggu sekitar, saya pun ikut mengeluarkan rokok untuk menemaninya dan meminjam koreknya. Dari sinilah cerita panjang lebar mengenai berbagai hal dalam pekerjaan dan kehidupan dimulai.
Khusus menyangkut kehidupan, ada hal yang cukup menggelitik saya yaitu kenyataan bahwa saya pada umumnya kurang merencanakan jalan hidup saya.Hidup saya ini bagaikan Srimulat yang mengalir begitu saja ndlewer-ndlewer tanpa skenario yang jelas. Padahal hanya skenario yang baiklah yang bisa mengubah cerita menjadi sebuah film yang baik. Bahkan menulis sebuah wacana singkat pun perlu kerangka karangan bukan?
Berencana bisa menghemat banyak hal. Karena memperkecil peluang gagal, maka berencana akan menghemat waktu untuk mengulangi pekerjaan akibat kesalahan. Beberapa hal bahkan mungkin tidak bisa diperbaiki setelah sekali saja dibuat dengan salah. Berencana bisa menghemat tenaga, waktu dan pikiran sehingga secara umum menghemat sumber daya hidup kita sendiri sehingga sisanya bisa kita nikmati dengan lebih santai untuk hal-hal yang benar-benar kita sukai.
Hal pertama yang lupa saya rencanakan adalah kelanjutan dari pendidikan saya. Memang dengan gelar S1 ini saya sudah bisa mendapatkan pekerjaan layak sesuai bidang kuliah saya dulu. Hal-hal yang dulu belum saya kuasai selama kuliah bisa sambil lalu saya pelajari sembari bekerja. Namun saya yakin dengan meninggikan jenjang pendidikan saya maka saya akan dapat melihat dunia dengan lebih luas. Akan ada ide baru dan relasi baru jika saya mau meluangkan waktu untuk belajar lagi. Belajar bukan semata-mata untuk mengejar karir tapi belajar untuk mengagumi kecantikan sang pengetahuan itu sendiri.
Mengenai keluarga saya memang memiliki sebuah rencana namun baru sebatas rencana untuk menikah. Bagaimana kami akan menjalaninya, akan beli rumah dimana, bagaimana pembagian tugas dengan pasangan, bagaimana menuju kesejahteraan, masih jauh di luar perencanaan saya. Padahal ini sangatlah penting untuk menjaga kelangsungan dan kelanggengan hidup berumah tangga. Banyak pasangan yang bubar jalan karena tidak memiliki perencanaan yang matang.
Masing-masing dari kita tentu punya perencanaan dan gaya merencana sendiri-sendiri sesuai dengan tujuan hidup kita. Saya belum bisa memberikan sebuah contoh kasus dalam hal ini karena saya pun seorang yang masih payah dalam berencana. Yang pasti apapun tujuan anda yakinlah bahwa itu akan membawa pada kebahagiaan. Saya teringat sebuah iklan asuransi di Afrika dimana seratusan orang memulai lari dari titik yang sama dan menempuh arah tujuan yang berbeda –beda dan ketika sampai tujuan semuanya merasa tersenyum puas. Begitulah seharusnya dalam kehidupan kita, kita puas dalam mencapai tujuan kita masing-masing. Dan tak lupa dalam mencapai tujuan itu kita memerhatikan semua detil sekaligus melihat secara global dan berencanalah dengan baik.
Berikut ini beberapa hal yang saya sarikan dari hasil mengobrol dengan teman duduk saya di kereta:
1. Selalu Bayangkan Hal-Hal Baik
Bukan berarti pula kita tidak mempersiapkan hal-hal buruk. Namun dengan membayangkan hal-hal baik dan meyakininya, maka hal baik itu nisacaya akan datang sebagai berkah untuk kita. Saya pun tidak pernah membayangkan berada di titik dimana saya berdiri saat ini, namun karena pernah membayangkannya makan saya ada disini dan dimana tujuan berikutnya pun sudah mulai ada dalam pikiran saya.
2. Asumsikan Umur tidak Panjang
Ini berkaitan dengan sikap selalu waspada siap sedia. Asuransi bisa menjadi salah satu pilihan perencanaan yang mana jika kita mati setidaknya tidak terlalu merepotkan orang-orang yang kita tanggung karena akan mendapatkan sejumlah dana sebagai pertanggungan. Namun yang pasti banyak-banyaklah menabung sehingga ada yang bisa kita sisakan jika kita tiba-tiba dipanggil.
3. Bersiap juga Jika Diberkati Umur Panjang
Sebaliknya jika kita diberkati umur panjang kita pun harus siap sedia. Berumur panjang jangan sampai menjadi beban orang lain, siapkan dana secukupnya untuk pensiun.
4. Rencanakan dalam jangka panjang, menengah, dan pendek
Jangka panjang mungkin bisa jadi merupakan rencana kita hingga pensiun tapi bisa juga sekedar rencana lima tahunan (Program repelita jama Soeharto bisa dituru lho).
Rencana jangka menengah kita buat dalam satu tahun yang mana kita harus sudah tahu dengan jelas apa yang ingin kita kerjakan setahun kedepan. Rencana menengah bisa dipecah setiap tiga bulanan untuk dikaji ulang dan disesuaikan dengan perubahan kondisi lingkungan sekitar
Rencana jangka pendek adalah rencana mingguan yang bisa dijbarkan secara detil untuk menentukan tidakan kita secara harian.
5. Pandang ke atas, ke samping, dan ke bawah, harmonisasikanlah!
Kadang orang-orang di sekitar kita menghambat jalannya rencana kita. Kita perlu memandang ke segenap penjuru. Baik orang-orang yang lebih tinggi dari kita, lebih rendah, apalagi yang sejajar memiliki peranan penting dalam terlaksananya rencana kita. Hubungan yang harmonis diantaranya bisa memuluskan rencana kita.
Selamat Berencana!
Waduh, saking asiknya ngobrol saya sampai lupa menanyakan email rekan duduk saya tadi. Padahal lumayan kalaubisa lanjut diskusinya. Susah juga mencari rekan diskusi yang cukup menginspirasi. Ah, tapi sudahlah saya akan bertemu berbagai macam orang lagi dalam hidup ini dan semoga saya bisa membagikannya dengan lebih lengkap dan menarik kepada pembaca sekalian.
Tags: kegelisahan pribadi, keluarga, kereta api, kerja, perjalanan, tujuan hidup
You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.