Rekayasa Mimpi Berlapis ala Inception

Ingatan usia tiga tahun saya merekam kuat sebuah mimpi yang saya dapat sewaktu tidur siang. Mimpi itu tentang bermain dengan soang (angsa) peliharan Pok Imah tetangga kami di Cibinong. Ibu saya kerap melarang saya untuk melakukan berbagai hal seperti hujan-hujanan, minum es mambo, dan bermain dengan soang peliharaan Pok Imah, takut disosor katanya. Tapi siang itu hingga sekarang saya masih ingat mimpi tentang bermain dengan soang-soang itu diiringi lagu berirama SKJ yang ceria. Tatkala terbangun memang soang-soang itu ada tepat di luar jendela sedang ramai meracau dan salah satu tetangga yang agak jauh memang kebetulan sedang mencoba loudspeaker untuk hajatan dengan berbagai lagu. Mimpi dan kenyataan memang mudah terhubung jika kita tertidur lelap di pagi atau siang hari.

Namun di malam hari pun bukan tidak mungkin mimpi kita terhubung dengan kenyataan. Halaman belakang rumah kami yang dimiliki Pak Karso seorang dukun dari Purworejo memang ternal angker. Saya beberapa kali antara sadar dan tidak mendengar suara gedebuk diikuti ringkik menyerupai kuntilanak dari halaman belakang kami dan keesokan harinya bapak saya menemukan durian jatuh dari pohonnya. Pernah suatu malam saya merasa bermimpi lagi mendengar suara gedebuk dan tawa cekikikan itu lagi tapi lalu berlanjut dengan kegaduhan di alam nyata. Rupanya Pakde Warto paman saya dari Delanggu yang sedang menginap mendeteksi adanya makhluk halus di belakang rumah kami. Ketika dikejar dia menghilang di dekat pohon duren. Dia pun membawa duren jatuh malam itu juga. Sepertinya memang makhluk halus itu hanya bermaksud menyusupi mimpi saya dengan pesan “Duren matang, silakan ambil”. Tapi sayang setelah Pakde Warto mengejarnya, saya tidak pernah mendapat mimpi soal itu lagi.

Inception, sebuah film yang ditulis dan disutradarai oleh Christoper Nolan sebenarnya hanyalah sebuah film sederhana mengenai penanaman sebuah ide di alam bawah sadar seseorang. Ini bukanlah film fiksi sains mengenai teknologi yang rumit atau perjalanan ke galaksi lain namun hanya perjalanan ke dalam benak seseorang di saat tidur. Penjelajahan ke mimpi orang lain di saat tidur seperti yang dilakukan oleh makhluk belakang rumah saya ternyata bisa menjadi sebuah bisnis bagi sebuah Dream Team (arti sebenarnya) yang dipimpin oleh Dom Cobb (Leonardo di Caprio). Dengan masuk ke alam mimpi orang tertentu mereka bisa menjual ide dan pemikiran ke pihak-pihak yang membutuhkan. Namun ide ini pun ternyata meracuni Mal (Marion Cotillard) istri Dom yang lebih bahagia hidup di alam mimpi hingga bunuh diri dan menghalangi langkah suaminya untuk kembali ke dunia nyata menemui anak-anak mereka.

Suatu ketika seorang pengusaha sekaligus pengendali mimpi dari Jepang (Ken Watanabe) yang menjadi pesaing Dom menawarkan bantuan untuk mengakhiri semua kesalahan ini dengan melakukan tugas terakhir yaitu merekayasa mimpi dari seorang penerus tahta bisnis. Bukannya mencuri ide dari mimpi, namun Dom kali ini ditugasi untuk menanam ide di benak putra mahkota. Perlawanan saat dream team masuk ke mimpi layer pertama dari sekelompok orang tak dikenal, hingga ke lapisan mimpi-mimpi berikutnya perlawanan muncul secara lebih personal hingga ke diri Dom sendiri yang masih dihantui oleh istrinya.

Film ini nampaknya adalah versi ‘mudah’ dari buku “The Interpretation of Dreams” dari Sigmund Freud. Tanpa perlu tahu banyak tentang dasar psikologi kita akan belajar dari film ini bahwa alam bawah sadar memang berisi sebuah ide yang amat personal yang terkunci rapat namun memengaruhi tingkat kesadaran di atasnya. Meskipun ide dasar ini disembunyikan di bawah kesadaran berlapis, namun pengaruhnya nyata terasa di dalam lapis kenyataan hingga kita tidak bisa dengan pasti membedakan mana yang maya dan yang nyata.

Film bagus ini mungkin bisa mengingatkan kita akan The Matrix namun saya pribadi merasa lebih mudah menerjemahkan gagasan film Inception ini tanpa perlu berpikir tarlalu rumit seperti saat menonton The Matrix. Namun betapa pun bagus film ini, orang akan dengan cepat akan melupakannya karena menurut saya tidak ada sesuatu pun yang cukup spesial untuk dikenang dari film ini selain idenya. Gambar dan efek visual di film ini tidak jor-joran dan semata-mata bertujuan memperjelas alur cerita seperti halnya perspektif sebuah kota impian yang dapat dilipat atau pencegatan di jalan raya menggunakan kereta barang.

Saya sarankan anda segera saja mengunjungi bioskop terdekat untuk sedikit berpikir dan mengambil hikmah dari film bernaskah cerdas ini.

Advertisement
Tagged ,

5 thoughts on “Rekayasa Mimpi Berlapis ala Inception

  1. [...] Yogyakarta. Di situ ada pohon duren dimana terdapat kuntilanak dan soang milik Pok imah dari kisah “inception” yang pernah saya tulis [...]

  2. Meilanny says:

    Paling sering banget mimpiku jadi kenyataan…yang paling ditunggu ngimpiin saham yang mo naik or turun hehhee….yang paling diinget tentang BUMI dulu pas mo turun udh dikasih tanda2 alam tetep ngeyel ga mo jual…kadang malah sebel dapet mimpi yang aneh2

  3. Wahyu, jadi pingin nonton. Tapi ya sudahlah, belum bisa karena baru di Papua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 207 other followers