Selangkah ke Nusa Tenggara Timur

Perjalanan baru selalu menantang. Pengalaman baru menanti di suatu tempat nun jauh di sana. Cita-cita bekerja di lapangan yang saya idam-idamkan sejak 5 tahun yang lalu kesampaian juga. 

Ceritanya sekalian nganyari Nikon pocket, gambarnya lumayan dan tinggal jepret, cocok untuk saya yang kurang berbakat memegang SLR mahal. Berikut ini cerita fotonya:

Dari Jakarta subuh, belum sarapan. Ma’em brongkos sama teh poci dulu saat transit di Juanda, Surabaya.

Tiba di Kupang nan gersang, ibukota Nusa Tengga Timur yang terletak di Pulau Timor bagian barat

Bunderan H.I. nya Kupang, sepertinya begitu karena bepergian ke arah mana pun hampir selalu lewat bunderan ini.

Menuju Labuan Bajo di Pulau Flores keesokan harinya dengan pesawat troublesome MA-60 bikinan Cina yang dioperasikan Merpati. Mari berdoa “Selamet…Selamet…Sego liwet anget-anget, Amin.”

Tiba dengan selamat di Labuan Bajo, kota terdekat dengan Pulau Komodo yang kemaren sempet ribut-ribut soal New7wonder. Padahal ya menurut saya daripada sibuk ngurusin poling SMS mendingan besarkan ini Bandara Komodo, perbanyak penerbangannya, dan perbaiki terminal terutama toiletnya. Semua orang yang keluar toilet mukanya seperti menahan muntah terutama ibu-ibu bule.

Hotel Jayakarta Labuan Bajo, sayang cuma survei coverage GSM indoor saja, tidak menginap di sini.

Sisi hijau Pulau Flores. Flores memang lebih hijau dibanding bagian lain provinsi NTT.

Bule jauh-jauh kemari hanya ingin motret sawah, yo gantian tak potret lah.

Angkot di kota Ruteng yang rata-rata “dilindungi” oleh Yesus atau Bunda Maria.

Proyek pembangkit tenaga panas bumi Ulumbu, konon kini sudah beroperasi menyuplai listrik ke seluruh Flores, makin stabil deh.

Jauh-jauh ke Flores ternyata kena macet , gara-garanya sama juga dengan macet Semanggi, perbaikan jalan yang tidak kelar-kelar.

Kota Bajawa yang sejuk dan rapi, pusat perdagangan kopi Flores di zaman Belanda

Terminal Bandara Hasan Aroeboesman di Kota Ende yang kasihan banget, lebih mirip tempat pelelangan ikan asin.

Orang Jawa-lah yang menguasai binsis per-warung-an di mana-mana.

Nampang dulu di Pantai Wailiti, Maumere

Tidak di KRL, tidak di angkot. Tidak di Jakarta, tidak di Maumere. Orang Indonesia hobinya naik ke atap. Sebenarnya salah siapa kalau kita mendapati angkutan umum di mana-mana tidak layak?

Saatnya pulang, siap-siap terbang dari Bandara Frans Seda Maumere.

Tunggu cerita foto berikutnya dari tempat-tepat yang berbeda.

Advertisement
Tagged , , , , ,

2 thoughts on “Selangkah ke Nusa Tenggara Timur

  1. DEWI says:

    bagus juga ton hasil jepretan kamera… boleh tau tipenya nikon yg mana? gw jg nyesel dulu beli kamera semipro yg ribet bawanya krn ukurannya agak besar. Eh malah klo jalan2 atau kesempatan dinas ke luar kota,males bgt bawanya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 207 other followers