Berilah Kami Rejeki pada Hari Ini

Hari ini 6 tahun yang lalu saya mulai hari pertama saya bekerja di kantor setelah lulus kuliah beberapa bulan sebelumnya. Semenjak itu belum pernah benar-benar berhenti, hanya berpindah-pindah tempat kerja. Senang rasanya bisa makan dan hidup dari hasil bekerja sendiri sampai keterusan kecanduan duit. Kalau misal anda mengamati tulisan-tulisan saya sebelumnya tampak saya ini pro-duit sekali bahkan tidak jarang yang secara implisit orang-orang menyebut saya tamak. Saya tidak ingin meluruskan apa pun pandangan orang, hanya saja saya punya pemikiran lain soal duit.

Awalnya adalah berbalas status di twitter  bersama kawan-kawan lama yaitu Sidik, Oming, dan Momon. Kami membicarakan rejeki dan hubungannya dengan kekekalan energi. Setelah beberapa hari saya renungkan memang energi dan rejeki agak beda. Energi bersifat tetap dan hanya dapat dipindah atau dialih-wujudkan. Sementara itu rejeki selalu diciptakan, baik dengan ekstraksi terhadap alam, pembiakan tanaman dan hewan, atau efisiensi sistem kerja, namun keberadaanya tidak pernah dirasakan cukup oleh manusia.

Sedikit berpikir kenapa saya bertahan begitu lama dalam perburuan uang semata, ke manakah tujuan hidup sebenarnya? Tidakkah cukup saya memakan kebutuhan saya dalam sehari saja? Seperti falsafah para pengojek yang biasa pulang setelah mendapat duit cepek. Apakah karena saya tidak pernah berdoa Bapa Kami sehingga tidak pernah mencukupkan rejeki pada hari ini?

Buddhist monk accepting food in his begging bowl during alms - lonely planet

Sistem manusia tempat saya hidup di dalamnya telah sedemikian kompleks. Jaminan kesehatan, pendidikan, pergaulan, perjodohan hingga per-gadget-an menciptakan berbagai kebutuhan baru yang sebelumnya tidak pernah ada. Sayangnya saya mengamininya dan dengan bahagia turut serta dalam arus perburuan harta gaya manusia baru.

Andai saya lebih sederhana, mungkin lebih bisa membahagiakan diri sendiri dan orang banyak.

Sekadar perenungan akhir tahun.

Tangerang Selatan, 20 Desember 2011

Ditulis di bawah pengaruh anggur Four Seasons yang pahit dan asam yang dibeli di duty free airport Delhi.

Tagged , , ,

4 thoughts on “Berilah Kami Rejeki pada Hari Ini

  1. DEWI says:

    waah… ga berasa yah…. udah 6 tahun yang lalu…
    Inget banget gw kenalan ama lo dan oming di kantin SBP :)

  2. AnakYangMasihDiDunia says:

    Ada kata kata klasik “Ada yg tdk bisa dibeli dengan uang”

    Tapi ada juga istilah “money talks”

    mana yg benar..hanya usia dan pengalaman yg bisa menjawab….

  3. Yang jelas ki, nek lebih sederhana uripe lebih nggak ngaya. Lha kebutuhane ya sithik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 207 other followers