Resensi Film: The Raid, Di Timur Matahari dan Soegija

Setelah gagal menonton Di Bawah Lindungan Ka’bah , saya tetap mendukung film Indonesia dan berusaha menonton setiap kali ada orang bilang bahwa film itu adalah film Indonesia yang bagus. Berikut ini tiga film Indonesia yang belakangan ini saya tonton. Selera film saya mungkin agak kurang valid karena menurut saya Transformer itu busuk tapi Forest Gump dan The Lord of The Ring adalah luar biasa, namun sebisa mungkin resensi yang saya bikin di sini adalah objektif.

1. The Raid – Redemption (Gareth Huw Evans)

Kabarnya film ini masuk Sundance Festival, namun saya tidak mau serta merta bilang ini film bagus karena ada “padi-kapas” nya.  Terus terang saya bukan fans berat film silat dan kekerasan dan  yang akan berdecak kagum untuk teknik tendangan mematikan dari Iko Uwais yang sempurna. Namun demikian film ini bukan hanya mencuri perhatian tapi juga berhasil merampok kesadaran saya sepenuhnya selama 100 menit. Ketegangan yang tiada jeda membuat saya lupa sepenuhnya kalau sebelum masuk saya sempat membeli sebotol Aqua. Saya yakin banyak juga yang seperti saya, saking terpakunya sampai lupa minum. Kalau ada yang bilang film ini khayal semata saya malah ingin bilang kalau film ini amat realis karena bercerita tentang adanya polisi-polisi pemberani namun juga selalu ada oknum “orang dalam” yang menggagalkan tugas suci kepolisian dalam memberantas kejahatan. Dan apakah yang lebih realis dari tokoh penjahat Indonesia yang diperankan dengan sangat baik oleh Ray Sahetapy yang memakai celana pendek, bersandal jepit, dan memakan Indomie goreng (atau mungkin Mie Sedap).
[SKOR : 9] 

2. Di Timur Matahari (Ari Sihasale)

Saya kenal Tiom dari cerita adik saya Tyas yang pernah bekerja sebagai dokter di sana. Dari cerita yang saya dengar Tiom adalah tempat yang sangat indah. Keindahan Tiom itu pula yang digambarkan dengan baik oleh tim Alenia Film di film Di Timur Matahari. Tidak hanya berhenti mengambarkan keindahan alam, lelucon cerdas khas Mop Papua banyak muncul di sela-sela film membuktikan bahwa lucu itu bukan dominasi orang Jawa semata seperti kata dosen saya. Kerumitan hidup orang Papua yang digambarkan di sini membuktikan bahwa mereka sangat jauh dari apa yang disebut primitif, mereka hanya memiliki masalah yang berbeda dengan kita yang di Jawa. Bahkan di sini tampak kalau orang Jakarta tidak berdaya menghadapi permasalahan mereka. Sembilan puluh sembilan persen film ini sangat menawan kecuali ending yang absurd. Namun demikian pada kehidupan nyata memang mengakhiri perang antar suku di Papua adalah hal yang amat sulit, sesulit membikin ending yang lebih baik daripada sekelompok anak kecil bernyanyi di tengah perang lalu tiba-tiba damai datang dari langit. Anda sebaikya menonton film ini kalau ingin merasa terharu, terhibur, sekaligus belajar soal Papua.
[SKOR: 9.5]

3. Soegija (Garin Nugroho)

Pada ibadat prapaskah di rumah kami, diputarlah cuplikan film Soegija dan kami umat Katolik disarankan untuk menonton film tentang Uskup Jawa pertama yang diangkat sebagai pahlawan nasional Indonesia ini. Agar objektif saya minta pendapat kawan saya yang Muslim dan dia bilang, film ini punya musik dan gambar yang amat bagus, tapi itu saja, selebihnya membingungkan. Seperti biasa film Garin Nugroho terlalu puitis dan mengawang-awang untuk dicerna oleh orang kebanyakan. Perjuangan diplomatis Rama Kanjeng Soegija malah gagal digambarkan di sini. Kalau saja tidak ada narasi dari Kronik Pak Besut, kami penonton tidak tahu bahwa Rama Kanjeng-lah yang berjasa membantu Bung Karno dalam diplomasi terhadap Belanda dan menggunakan pengaruhnya di Vatikan untuk membantu perjuangan Indonesia. Kisah cinta Mariyem baik dengan pacar pejuangnya atau dengan fotografer Belanda yang dimaksudkan sebagai pemanis dalam film malah mengaburkan fokus. Lelucon yang berusaha diangkat oleh Butet Kartaredjasa maupun bocah mrongos yang buta huruf harus saya nyatakan gagal, saya tidak bisa ketawa secara lepas tuh. Kekecewaan dalam menonton film ini serupa dengan kekecewaan saya saat menonton film Garin yang lain seperti Daun di Atas Bantal. Mungkin Garin harus diruwat dan ganti nama menjadi Garing bin Boring Nugroho, ah sudahlah, memang sulit kok membuat kisah hidup seorang Romo Pastur supaya tampak menarik di layar lebar.
[SKOR: 7]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s