Malas Bekerja

Posted Rabu,18 Maret 2009 by antondewantoro
Categories: Non-Category

Tags: , ,

Sekitar tiga tahun yang lalu suatu pagi dini hari sekitar pukul 3 saya sempat menulis di blog (waktu itu masih blog friendster) mengenai segenap sumpah serapah saya terhadap pekerjaan saya yang menuntut saya tetap di kantor sampai dini hari. Pada intinya saya memepertanyakan untuk apa saya bekerja sampai sekeras itu? Demi keuntungan siapa? Namun akhirnya saya sadari itu adalah pekerjaan terbaik yang pernah saya kerjakan dan membawa saya menuju petualangan ke tempat jauh.

Kini saya kembali meratapi pekerjaan saya yang sekarang yang sebenarnya tidaklah terlalu berat namun saya merasa amat tidak nyaman melakukannya. Mungkin karena saya dihadapkan pada budaya kerja bangsa Cina yang sama  sekali lain dibanding bangsa-bangsa lain yang pernah saya temui, tapi bisa juga karena saya yang memang sekarang ini menjadi terlalu manja.

Bicara soal malas menghadapi pekerjaan dan segenap rasa tidak cocok dalam menghadapinya tentu tidak akan ada habisnya. Namun ada satu tolok ukur yang biasanya benar yaitu motif ekonomi “semua tindakan manusia itu berdasarkan insentif”. Jika saya malas bekerja mungkin saya kurang bisa melihat insentif yang lebih besar daripada apa yang saya dapatkan sekarang. Dalam bahasa yang lebih eufemis saya belum memiliki cita-cita luhur dalam bekerja. Orang lain mungkin menjadikan kebutuhan anak menjadi semangat dalam bekerja, ada juga yang kejar tayang harus segera menikah, ada juga yang ingin membeli rumah, ada lagi yang lebih mulia seperti membantu pendidikan adik-adik. Saya punya adik, saya juga merasa ingin menikah dalam waktu dekat, ingin punya rumah, dan berbagai kebutuhan lain. Tapi mengapa saya tetap tidak semangat dalam bekerja? Mungkin memang dasar saya memang pemalas.

Berat ki poro rawuh

Bapakku dan Perjalananku ke Luar Negeri

Posted Jumat,5 Desember 2008 by antondewantoro
Categories: Non-Category

Tags: , , , , , , , , ,

Cibinong, 1986
Awalnya suatu malam bapak pulang dari kerja seperti biasa di pabrik tekstil di Citeureup. Dia menunjukkan kepada kami sekeluarga sebuah brosur tentang kesempatan hidup di Amerika. Waktu itu saya masih duduk di TK nol kecil sehingga belum tahu Amerika itu negara apa dan dimana. Kata bapak amerika itu negara paling maju di dunia dan mereka berbahasa Inggris. Lantas saya terbayang lucunya bapak, ibu, saya dan adik-adik harus berbahasa Inggris di rumah, di sekolah, di warung, di mana saja. Lalu saya berpikir, dimana saya akan membeli es mambo kacang hijau kesukaan saya, apakah Pok Bat atau Bang Enjam akan ikut migrasi ke Amerika?

“Nek Amerika ki maju, awake dewe pindah wae “, kata saya dalam bahasa Jawa yang mana sudah biasa saya gunakan sejak kecil meski tinggal di Cibinong yang mayoritas berbahasa Betawi-Sunda. Lalu bapak menjelaskan bahwa untuk pindah ke Amerika itu kami sekeluarga harus melewati serangkaian tes dan dalam brosur itu dicantumkan bahwa anak-anak para imigran, yang berarti saya, kelak harus ikut dalam wajib militer.

Begitulah mulanya American Dream menyentuh kehidupan keluarga kami. Entah brosur yang dibawa bapak saya sore itu benar atau sesat yang pasti saya merasa beruntung tetap menjadi warga Indonesia sampai saat ini. Jikalau keluarga saya dulu benar pindah ke Amerika kemungkinan besar saya sudah dikirim ke Afghanistan atau Irak sebagai wajib militer. Dan kalaupun saya bisa pulang dengan nyawa utuh, saya akan pulang dengan menghadapi kondisi negara saya(Amerika) yang tengah hancur perekonomiannya.

Yogyakarta, 1990-an
Setahun semenjak kepulangan kami sekeluarga ke Yogya, bapak tidak kunjung mendapatkan pekerjaan, beruntung jahitan ibu saya sangat diminati ibu-ibu di sekitar rumah yang mana banyak diantara mereka adalah istri orang penting sehingga punya badan tak beraturan akibat pola makan yang tak beraturan pula. Ibu saya selalu tahu bagaimana membuat wanita berbadan “sulit” merasakan baju yang dikenakannya pas.

Bisa dibilang kehidupan kami sangat pas-pasan pada waktu itu dan untuk beberapa tahun ke depan. Namun demikian beruntunglah saya karena tidak dididik untuk menerima nasib hidup susah. Kehidupan saya yang susah bisa diubah jika saya mau berusaha. Dan usaha pertama yang saya lakukan adalah…bermimpi. Saya suka sekali membuka-buka atlas melihat urat-urat jalan di seluruh dunia membayangkan saya menyusurinya. Kelas tiga SD ketika teman-teman yang lain masih menghafal nama-nama kecamatan di kota Yogyakarta, saya sudah tahu persis dimanakah Vladivostok dan Johannesburg.

Saya kerap-kali menceritakan impian dan keinginan saya ke luar negeri ke bapak dan ibu saya dan sudah barang tentu mereka tidak bisa mengajak saya ke luar negeri seperti anak-anak orang kaya. Tapi bapak saya tidak hilang akal, dia mengunjungi salah satu kerabat kami yang berkuliah di UGM jurusan hubungan internasional. Kepada saudara itu bapak meminta alamat korespondensi kedutaan dan perwakilan asing di Jakarta.  Kebetulan juga ayah dari kerabat kami itu pernah jadi juru masak di KBRI Moskow.

Dan dimulailah perjalanan saya ke Moskow, Uni Sovyet kala itu, …. Ah tentu saja tidak. Keluarga kami cukup miskin terlebih bapak saya tidak kunjung memiliki pekerjaan tetap sehingga untuk piknik ke Baturaden pun perlu menabung setahun. Yang bapak saya lakukan adalah membeli selusin kartu pos yang mana kalau tidak salah waktu itu harga satuannya Rp 100 dan jika membeli selusin cukup Rp 1000. Tak lupa juga perangko Rp 150-an yang berlaku untuk pengiriman kartu pos ke mana saja ke seluruh Indonesia.

Bapak mengajari saya bagaimana menulis alamat dan pesan singkat di balik kartu pos serta bagaimana cara menempel perangko dan memasukkannya ke bis surat di perempatan Khe Gie (sekarang lebih dikenal sebagai perempatan Maga). Kartu pos tersebut kami gunakan untuk menyurati kedutaan-kedutaan besar di Jakarta. Di belakangnya saya menuliskan pesan singkat untuk meminta brosur, buku, atau segala bentuk informasi mengenai negara tersebut. Wajarnya, permintaan semacam ini dilayangkan dengan surat dalam amplop tertutup, namun perangko untuk surat kala itu Rp 300 sementara kartu pos hanya Rp 150. Jika ditambah harga kartu pos yang kurang dari Rp 100 per lembar, kami masih bisa berhemat beberapa rupiah sehingga anggaran rokok bapak saya tidak terlalu terganggu dengan kegiatan korespondensi anaknya.

Beberapa minggu kemudian kegiatan itu membuahkan hasil. Kedubes Jerman Barat mengirimkan majalah berjudul Scala yang berbahasa Indonesia. Saya masih ingat betul artikel tentang kota Hansa, Pabrik Audi, dan sebuah bangunan gothic yang fotonya tak jemu-jemu saya pandangi. Majalah itu segera jadi “buku” kesayangan saya setelah atlas.

Menyusul adalah sebuah buku kaya informasi dari kedubes Inggris bertajuk Britain in Brief. Buku tersebut bersampul ungu dan terdapatbanyak gambar di dalamnya. Karena saya waktu itu sangat belum bisa berbahasa inggris dan bahasa Inggris bapak saya sebatas “this is a chair” maka buku itu tidak bisa kami mengerti. Akhirnya bapak saya meminta saya mengirim surat (maksud saya kartu pos) lagi ke kedutaan Inggris di Jakarta yang menerangkan kalau saya ini anak kelas 3 SD dan ingin mempelajari soal Inggris. Tak lama berselang tibalah buku lain bersampul biru dengan gambar-gambar yang sama namun berbahasa Indonesia dan bertajuk Inggris Selayang Pandang. Saya lantas berpikir mengapa di versi inggris tidak ada kata English tapi Britain, apakah Inggris dan Britania itu sama.

Berikutnya yang menarik adalah sebuah brosur berlipat-lipat dari Swiss. Brosur itu berisi informasi tentang Swiss yang mana saya menjadi tahu kalau Swiss terdiri dari 26 kanton dan tiap kanton punya bendera masing-masing, dan bertanya-tanya mengapa 27 propinsi di Indonesia tak memiliki bendera. Pasti kalo propinsi di Indonesia punya bendera akan banyak logo segilima dengan padi dan kapas bertebaran sebagai lambang kemakmuran yang hanya di angan-angan. Yang menarik adalah jika brosur lipat itu direntang maka menjadi poster amat besar yang bergambar sebuah danau di Geneva.

Berikutnya datang dari kerajaan Belanda juga berupa brosur lipat dimana jika direntang, dibalik informasi tertulis ada peta belanda dengan gambar-gambar karikatur lucu yang membuatnya mudah diingat misalnya wilayah Belanda yang berada di bawah air digambarkan polder-nya dan orang berenang di aras air yang lebih tinggi dari daratan, kemudian kota seperti Eindhoven sebagai asal lampu philips digambarkan dengan manusia lampu.

Menyusul Amerika, Australia, Selandia Baru, Italia, Kanada, Chekoslovakia, dan Norwegia memenuhi dunia masa kecil saya dengan “perjalanan” ke luar negeri. Seingat saya tak satu pun negara Asia membalas kartu pos saya kecuali satu negara yaitu Irak. Irak mengirimi saya koran berbahasa Inggris berjudul Baghdad Observer. Namun karena Irak tidak terlalu menggugah minat saya, maka saya tak menyurati kembali untuk meminta edisi bahasa Indonesianya. Ketika setahun kemudian (1991) perang Irak-Amerika pertama dimulai barulah saya mengikuti perkembangan mengenal Irak sebagai si Jahat yang menyerbu Kuwait dan Amerika sebagai ‘polisi dunia’ wajib mengamankannya, yang mana kelak saya mengerti bahwa baik perang Irak yang dulu maupun yang sekarang hanya taktik politik Bush Tua dan Bush Junior yang merupakan blunder bagi Amerika.

Kuala Lumpur, 2008
Bertahun-tahun kemudian, masa kini, saya di sebuah hotel yang hanya berjarak beberapa lemparan batu dari menara kembar petronas Malaysia, menulis blog ini setelah membaca buku biografi Mark Twain. Mark Twain adalah tokoh yang dulu hanya saya kenal lewat karikatur di majalah Amerika yang dikirimkan hasil beburu dari kartu pos.

Saya tutup buku mengenai Mark Twain dan justru teringat pada Tuan Biswas tokoh di novel V.S. Naipaul. Mohun Biswas yang pecundang dan selalu kalah dalam hidup mengingatkan saya pada bapak saya. Bapak saya bisa dibilang juga orang yang selalu kalah dalam hidup, bahkan di rumah pun kalah pamor dari ibu saya, perangainya sulit dan memang bukan jenis rekan kerja yang disukai sehingga sulit mendapat pekerjaan tetap. Mohun Biswas pun begitu, tapi seperti tuan Biswas pula bapak saya menaruh perhatian penuh pada pendidikan anak-anaknya. Kadang saya berharap bapak saya adalah orang yang lebih tangguh dan bisa mengajari saya bagaimana menjadi pemenang, tapi saya kemudian menyadari bahwa dia sudah berusaha menjadi seorang bapak dengan segenap kekurangannya.

Oke, cukuplah bicara mengenai keluarga saya. Kini saatnya merancang perjalanan berikutnya… India… Azerbaijan… Bangladesh… Colombia…. Hmmm, ada duit nggak ya?

Pakaian Penjaga Toko Pakaian ituh…

Posted Rabu,13 Agustus 2008 by antondewantoro
Categories: Non-Category

Tags: , ,
Saya Ingin Beli Baju
Bukan ingin terangsang
dan kalau memang tujuannya memang ingin merangsang pelanggan…
tujuan itu tidak berhasil.
Mereka itu profesional yang mengerjakan tugsanya,
yaitu membantu pelanggan mendapatkan pakaian tepat
bukan merangsang to?
Saya suka wanita sexy,
tapi definisi sexy baju penjaga toko sepertinya sudah kedaluwarsa
dan sekali lagi, saya butuh baju bukan butuh terangsang
Desain pakaian penjaga toko pakaian sepertinya wajib diubah
Penjaga Toko Pakaian

Penjaga Toko Pakaian

Sebelah Kita di Perjalanan

Posted Selasa,22 Juli 2008 by antondewantoro
Categories: Non-Category

Tags: , ,

Ketika kita bepergian menggunakan angkutan umum biasanya kita dipaksa berduaan dengan orang yang benar-benar asing di sebelah kita. Seketika orang itu menjadi bagian tak terpisahkan dari kita karena seringkali memang sialnya kursi dibuat amat sempit sehingga si dia nempel terus ke kita kadang selama ber jam-jam.

Seringkali saya kurang memperhatikan teman sebelah saya karena saya sibuk membaca atau aktivitas lainnya namun beberapa ada yang cukup menarik untuk dilewatkan begitu saja tanpa mengobrol. Kebanyakan orang-orang yang saya temui itu menyenangkan, hampir tak ada yang benar-benar menjengkelkan atau bahkan membikin masalah. Orang-orang itu antara lain adalah:

1. Ibu-ibu merokok [kereta bisnis]

Pertama kali saya pergi sendirian ke Jakarta adalah untuk wawancara kerja. Pulangnya saya ambil kereta bisnis yang tinggal satu-satunya belum berangkat. Sebelah saya adalah ibu-ibu setengah tua yang selalu merokok, memesan makanan hanya dari restorasi dan seringkali mengeluh akan berbagai hal. Bukan cuma sekali saya bertemu wanita perokok, tapi yang satu ini benar-benar mengesankan bahwa dia dulunya kurang beres.

2. Mas-mas Sumatra [bis kota]

Waktu itu saya SMP di Jogja, sering pulang sekolah menggunakan bis kota. Pernah berjumpa seorang mas-mas (mungkin abang atau uda tepatnya) dengan logat Sumatra entah bagian mana bercerita terus dengan semangat soal kuliahnya, ceweknya, bisnisnya, dan keluarganya di Sumatra. Akhirnya dia menwarkan rokok pula kepada saya. Kalau saya yang 26 tahun ini diperlakukan begitu tentu asik sekali merokok bersama tapi dulu saya anak SMP lha kok diajak curhat ngalor-ngidul urusan orang dewasa plus ditawari rokok.

3. Gadis Solo [kereta eksekutif]

Dekat-dekat hari paskah saya pulang ke Jogja dengan Argo Dwipangga jurusan Solo. Sebelah saya adalah mbak-mbak asal Solo dengan gayanya yang super halus. Sempat dia bilang kalau dari pagi belum sarapan tapi selama di kereta dia hanya makan buah dan buah terus, jatah makan pun hanya disentunya sedikit. Entah kenapa mbak ini sebenarnya tidak terlalu cantik tapi gaya halusnya itu memang Solo banget sehingga berkesan.

4. Gadis Kampung Sebelah [bis kota ]

Pulang sekolah SMP dulu paling sering pakai jalur 2 yang mana di Pojok Beteng Wetan saya harus berganti jalur 15 supaya bisa turun pas di depan rumah. Tapi entah kenapa sering ada barengan cewek dari sekolah saya juga yang memang lumayan manis meskipun teman saya Andre pernah bilang kakinya seperti gebuk maling. Nah kalau pas bareng cewek itu apalagi kalau sebelahan saya tidak berganti jalur 15 melainkan terus ikut jalur 2 sampai Prawirotaman. Kami harus melanjutkan jalan kaki sehingga ada kesempatan ngobrol meskipun sedikit karena rumahnya dekat tempat kami turun sementara rumah saya masih beberapa ratus meter lagi ke arah barat. Demi sebuah obrolan menyenangkan dengan cewek kampung sebelah saya rela ekstra jalan kaki panas-panas.

5. Bapak-bapak Pegawai Pelabuhan Tanjung Priok [bis malam]

Suatu ketika saya naik bis malam Lorena dari Jogja ke Jakarta, sampai di Jombor naik seorang bapak agak tua yang ramah. Bis lewat jalur selatan dan melintasi kampung Sedayu. “Riyin kula nek apel dugi riki lho mas, numpak vespa dalane blethok-blethok nganti koplinge pedhot“, kata si bapak dalam bahasa kromo asal-asalan. Sayangnya akhirnya gadis yang dulu beliau apeli itu memilih juragan colt angkutan pasir karena sama-sama beragama Katolik daripada dirinya yang beragama Islam. Lalu lagu Ebiet G. Ade diperdengarkan oleh sopir dan si bapak itu tampak sekali kalau tenggelam dalam nostalgia masa lalu. Ternyata romantika puluhan tahun silam gampang sekali ya terkenang lagi.

6. Mas-mas Kebelet Kawin [bis malam]

Seorang mas-mas usia di atas 30 namun bertampang awal 20-an pernah menjadi sebelah saya di Kramat Jati jurusan Jogja-Jakarta. Dengan logat Purwokertonya dia seringkali menelpon kekasihnya. Saya sih tidak memperhatikan karena sibuk mendengarkan Mulan Jameela dari hape tapi tiba-tiba si mas nyeletuk, ” Bulan Juli besok saya Merid, Mas (kok semua orang pake istilah “merid” [married] ya, sok Inggris!). Saya ke Jogja lagi ngurus surat-surat di tempat mbakyunya cewek saya. Kita baru sebulan ketemu tapi karena umur saya udah 30 lebih dan cewek saya juga udah 29 kita langsung mau merid. Sayangnya orang tua saya kurang setuju karena ada perbedaan status. Saya kan kerja kantor sementara cewek saya cuma baby-sitter.” Nah loh, yang nomer 5 tadi beda agama sekarang beda status, Indonesia banget.

7. Gadis dari Angola [pesawat]

Pulang dari Johannesburg saya ambil Singapore Airlines demi merasakan apa yang dikatakan orang yaitu maskapai dengan layanan paling ramah, dan memang benar. Sebelah saya wanita dari Angola yang selalu menggigil, memakai kain khas negaranya sebagai selimut plus selimut dari pesawat. Kepada pramugara dia memesan teh sekaligus dua cangkir untuk mengusir dingin barangkali. Memang waktu itu sedang musim dingin di Afrika Selatan tapi saya yang asli negara tropis pun tidak terlalu menggigil. Ternyata wanita ini bertujuan ke Guangzhou China. Dia bekerja untuk LSM (NGO ) di China. Ternyata ada juga ya orang Angola jadi aktivis LSM di negara sebesar dan semaju China. Selama ini mungkin kita cuma mengira Afrika terutama Angola hanya menjadi objek penderita aktivitas per-LSM-an.

8. Pegawai Ayam Goreng Suharti [kereta bisnis]

Pria di sebelah saya itu semula saya kira marinir atau reserse menilik dari badannya yang tegap dan potongan cepak. Ternyata dia adalah pegawai rumah makan Ny. Suharti di daerah Mampang. Dari dia saya tahu bahwa rumah makan Suharti ada dua jenis yaitu yang bergambar foto adalah milik Ny.Suharti sendiri sementara Ny.Suharti bergambar ayam adalah milik mantan suaminya. Kok bisa ya sudah bercerai masih pakai nama istrinya?

9. Gadis “Penginjil” dari Kutoarjo [kereta bisnis]

Natal 2005 saya pulang ke Jogja setelah bekerja seminggu di Jakarta. Bukan karena Natal alasan utama saya pulang, namun karena baju dan barang2 yang saya masih banyak tertinggal di Jogja. Karena tiket kereta langsung ke Jogja habis kala liburan natal, saya ambil Sawunggalih Kutoarjo yang bisa saya lanjutkan dengan bus ke Jogja. Gadis sebelah saya cukup manis dan ramah, di tangannya ada Alkitab ukurang sedang yang kadang-kadang dia baca. Mangetahui saya orang Katolik segeralah dia berdakwah. Tidak mengganggu sih sebenarnya, tapi mengapa di mana pun termasuk di atas kereta, saudara-saudara kaum Protestan suka menceramahi orang Katolik yang memang kondang buta Alkitab. Untung dulu SD saya dan teman-teman pernah juara cerdas-cermat Alkitab jadi bisa nyambung sedikit.

10. Ibu-ibu yang Bersaudarakan Pegawai Astra [kereta eksekutif]

Saya tidak terlalu memperhatikan sebelah saya karena sibuk membaca buku kumpulan esai Y.B Mangunwijaya tentang pendidikan. Tiba-tiba ibu-ibu di sebelah saya menanyakan apakah saya kuliah di Jogja. Saya jawab, “Oh mboten, kula rumiyin wonten UGM, lajeng ceker-ceker (cari duit) wonten Jakarta, lha sakmenika saweg nganggur“. “Lha mbok cobi ngalamar wonten Astra, kula wonten adik wonten Astra,” kata si Ibu. Dan dia menjelaskan gaji dan segala benefit bekerja di Astra dengan antusias termasuk kesempatan mendapatkan kredit mobil dengan harga murah. Memang saya akui betapa hebat HRD Astra dalam memikat calon karyawan, sampai-sampai punya adik di Astra memberikan kebanggan tersendiri. Masyarakat kebanyakan menganggap perusahaan itu sebagai salah satu lahan paling basah untuk bekerja. Anak UGM kebanyakan juga cuma tahu perusahaan minyak selain tentu saja Astra sebagai tempat favorit untuk bekerja.

11. Ibu-ibu Pegawai Departemen Agama [kereta bisnis]

Kebetulan kursi di ujung gerbong di set berhadapan. Saya adalah satu-satunya laki-laki di situ, lainnya ibu-ibu yang kesemuanya bekerja di Departemen Agama pusat. Mereka bercerita banyak sekali hal khas ibu-ibu mulai dari tips paling jitu menghilangkan sakit kepala, memasak lemper, sampai jam berapa kereta dari Bekasi ke jakarta tidak terlalu sesak. Yang paling berkesan adalah bekal makanan mereka yang menggunung seolah perjalanan berlangsung seminggu penuh. Beberapa kali saya ditawari namun saya tolak dengan alasan kesopanan, padahal pengen juga. Lalu salah satu dari ibu itu mengupaskan telur rebus dan menawarkan kepada saya. Dan dengan alasan kesopanan pula saya terima. (Loh piye to, sopan itu menerima atau menolak?) Garis batas antara sopan dan tidak sopan kadang sulit digambar, yang pasti telur rebus memang salah satu favorit saya.

12. Mas-mas dari Nagan Kulon [kereta eksekutif]

Sejak mengantri pembelian tiket di Gambir orang ini bicara terus berkomentar akan banyak hal dan saya hanya jawab “Nggih” tapi orang ini tak bisa berhenti mengoceh. Satpam stasiun berkeliling menanyakan jurusan pada antrian orang yang memang tidak maju-maju “Jogja atau Malang?”, kata satpam. Ketika satpam tiba di samping saya dan saya jawab “Jogja” dia menarik saya dan berkata “Mau tiket Gajayana harga Malang?”, kata satpam. “Mau! Dua ya pak,” kata mas-mas di belakang saya memotong. Jadilah saya naik kereta ke Jogja dengan harga Malang bersama mas-mas ceriwis dari Nagan Yogyakarta. Sampai di Stasiun Tugu Jogja masih tengah malam karena Gajayana memang harus bergegas jika ingin tiba di Malang pagi-pagi. Bersama mas-mas ceriwis tadi pula kami menyewa colt untuk menuju rumah karena memang preman stasiun tidak mengijinkan taksi resmi ber-argo masuk stasiun lewat tengah malam sampai pagi. Dan begitulah saya tiba di rumah dengan tiket pseudo-calo, bersama mas-mas ceriwis, dengan colt plat hitam.

Masih banyak sebenarnya pasangan saya di perjalanan, namun mungkin akan terlalu membosankan kalau saya ceritakan semuanya disamping memang beberapa sudah saya lupakan.

Kadang saya berharap sebelah saya adalah gadis manis yang menarik hati dan berlanjut ke perkenalan lalu kopi darat dan seterusnya atau seorang dengan ide bisnis menarik sehingga bisa bekerja sama di kemudian hari. Tapi bagaimanapun dekatnya teman seperjalanan kita mereka umumnya tetaplah orang asing. Jadi cukup cerita saja lah yang kita ambil dari mereka, selebihnya lupakan.

Anda punya cerita tentang teman perjalanan untuk dibagi? Silakan taruh di komentar.

Ramalan Syafe’i

Posted Selasa,22 Juli 2008 by antondewantoro
Categories: Non-Category

Tags: , ,

Vespa Excel yang saya beli 1 tahun yang lalu dari seorang karyawan divisi majalah Gramedia telah tiba kembali di Jakarta setelah 6 bulan saya ungsikan ke Yogyakarta meskipun tidak ada agresi militer. Motor itu tidak terlalu istimewa karena dibilang antik tentu saja tidak karena dibikin tahun 1994 namun bagaimanapun juga itulah kendaraan bermotor pertama yang saya beli dengan uang saya sendiri dan tunai Rp 2.750.000.

Tiba di kontrakan saya yang baru, Pak Syafe’i sang pengurus kontrakan langsung menanyakan plat nomornya. “Plat nomere piro, Mas? Tak etunge“, kata beliau. ” B 3172 RM”, jawab saya. Berpikir sejenak lalu Pak Syafe’i berkata,” Wah iku apik tenan, 3-1-7-2 artine Begja-Sandang-Pangan-Pangan, pantes rejekimu lancar terus“. Saya pun lantas jadi berpikir ulang mengenai rencana saya untuk balik nama motor itu menjadi plat AB sesuai KTP saya. Apakah jika nanti berganti nomor plat AB saya masih mendapatkan nomor hoki alias nomor cantik seperti sekarang? Seharusnya sebagai manusia Indonesia modern yang nilai PPKn nya selalu di atas 8 tidak mempercayai ramalan plat nomor yang bisa mempengaruhi nasib. Namun karena gencarnya iklan sms ramalan Ki Joko Bodo di TV, sedikit banyak menggoncangkan iman saya sebagai penganut Skeptisisme yang senantiasa logis dan mengesampingkan faktor-faktor irasional. Namun demikian selama ini toh memang nasib saya selalu baik, bisa jadi motor vespa itulah yang mendukung peruntungan saya mulai dari karir, asmara, hingga kesehatan.

Rumus ramal-meramal plat nomor ala Pak Syafe’i adalah sebagai berikut:

1 = Sandang

2 = Pangan

3 = Begja

4 = Lara

5 = Pati

——————-

6 = Sandang

7 = Pangan

8 = Begja

9 = Lara

0 = Pati

Misal 3172 berarti begja-sandang-pangan-pangan

4590 berarti lara-pati-lara-pati

Nah, boleh percaya atau tidak, yang pasti kalau anda bernasib sering apes bisa jadi plat nomor kendaraan, nomor rumah, nomor HP, nomor induk pegawai, atau apapun menyangkut nomor anda berada pada nomor kurang bagus.

Sementara perbincangan soal plat nomor selesai datang Pak No yang menemui Pak Syafe’i untuk mengambil jamu. Ternyata Pak Syafe’i ini menyediakan jamu dari kampung sebelah utara Menara Kudus yang telah didoakan secara khusus untuk keperluan penyakit tertentu.Untuk jasa penyaluran jamu asal kota Kudus ini Pak Syafe’i tidak mematok tarif khusus, sukarela saja. Jangan-jangan memang sakti Pak Syafe’i, gayanya sudah dukun banget.