Lewat Asuransi, Negara Menjamin Kita

Negara ini memang payah sistem transportasinya, kita semua tahu itu dan akan stress sendiri jika terlalu sering mengomentarinya. Kereta yang masih belum bisa mengangkut semua manusia komuter, metro mini yang srudak-sruduk sesuka hati, busway yang entah berapa jam lagi lewat kita tidak tahu, belum lagi angkot yang rawan pemerkosaan. Itu pun di Jabotabek yang termasuk paling bagus sistem transportasinya. Di kota lain jangan tanya lah, ada saja sudah sujud syukur.

Kereta yang ada pun banyak berubah jadi los pedagang asongan dan tempat beroperasinya segala macam peminta-minta termasuk “anak nyapu”. Anak nyapu adalah remaja yang menyapu gerbong kereta selama perjalanan untuk meminta uang kebersihan pada penumpang. Biasanya mereka sudah membawa sampah sendiri sehingga berkesan kerja keras menyapu banyak sampah. Gagang sapu dibuat pendek, sengaja menyapu tanpa gagang, atau menyapu dengan tangan dan kertas semen supaya bisa menunduk-nunduk atau ndlosor di lantai kereta dan terlihat memelas.

Seorang pedagang asongan di stasiun Sudimara berkara pada temannya, “Ada Anak Nyapu jatoh barusan di Pondok Ranji”.

Pedagang 2 menimpali, “Ketabrak Kereta?”

Pedagang 3 menyambar, “Kagak sih katanya. Kalo ampe ketabrak kereta mah jadi bubur tuh bocah”

Pedagang 2 bercerita, ” Gua pernah juga tuh jatoh di peron Tapsion Kebayoran, bletak, kaga retak sih. Ama petugas ditanya ada karcis apa kagak. Nah gua tunjukin. Gua dibawa ke Fatmawati diobatin gratis”.

Benar! Sejelek-jeleknya angkutan umum di Indonesia ternyata kita benar-benar diasuransikan. Mau naik kereta Rp 1.500 atau naik Pesawat Rp 1.500.000 keduanya sama-sama diasuransikan. Demikian juga katanya kalau kita naik Metromini kabarnya kita diasuransikan. Pernah saya ngobrol dengan tukang prospek (broker) asuransi swasta ternama, dia bilang kalau kita naik Metromini dan kecelakaan akan ditanggung juga oleh asuransinya, kalau naik sepeda motor malah tidak.

Beberapa saat yang lalu istri saya batuk-batuk hingga seminggu lebih. Dia beli obat batuk di apotik seharga Rp 20.000 tidak sembuh juga. Karena rumah kami dekat puskesmas (padahal karena saya memang sedang miskin dan pengangguran), dia pergi ke puskesmas untuk berobat. Ternyata sekarang berobat di Puskesmas gratis berikut obat-obatnya asalkan membawa fotokopi KTP Tangerang Selatan. Ternyata kini kalau kita sakit sudah dijamin oleh pemerintah kota. Obat puskesmas yang tampak murahan itupun ternyata lebih manjur daripada obat mahal dari apotik, batuk istri saya sembuh.

Tidak hanya di Tangerang Selatan, dulu di Kota Yogyakarta kami ditarik Rp 15.000 untuk membuat KTP. Katanya biaya KTP itu berikut asuransi kesehatan yang berarti keringanan berobat di Puskesmas dan RSUD kota di Wirosaban. Pemerintah kota Yogyakarta memang peduli walaupun belum gratis, kurang tahu kalau sekarang sudah gratis juga. Semoga demikian.

Saya pernah membuat KTP DKI tahun 2008, biayanya Rp 300.000 (entah ini resmi atau tidak). Dengan KTP semahal itu saya tidak tahu akan mendapatkan fasilitas apa kalau saya sakit. Mungkin inilah celah yang dibaca oleh Jokowi sehingga dia meluncurkan program kartu Jakarta Sehat. Dengan modal itu dia memenangkan pemilihan gubernur DKI 2012. Jaminan kesehatan kian menjadi hal penting sebagai parameter keberhasilan pemerintahan.

Secara nasional, pemerintahan SBY periode I dipuji  karena program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) yang intinya berobat gratis bagi warga miskin. Saya rasa SBY akan semakin dikenang baik kalau di periode II ini memperluas jaminan kesehatan untuk semua kalangan tanpa pandang bulu miskin, menengah atau kaya. Golongan menengah itu kasihan, karena tidak dijamin oleh jamkesmas namun kadang terlalu berat untuk membayar sendiri perawatan kesehatan premium sekelas golongan kaya. Sementara asuransi swasta, terutama unit-link belum tentu adil dalam memberikan klaim perawatan kesehatan karena mereka berorientasi profit semata. Semoga presiden baru 2014 nanti tidak melupakan golongan menengah dengan memberi fasilitas kesehatan yang layak. Toh pembayar pajak terbesar di negeri ini saya yakin adalah golongan menengah yang kian hari kian tumbuh.

Belajar dari Amerika, Barrack Obama sempat ketar-ketir dengan isu jaminan kesehatan ini hingga mempersingkat kunjungan kenegaraan lalu pulang untuk mengurus ini. Akhirnya beliau mengeluarkan Patient Protection and Affordable Care Act untuk mengurangi jumlah warga amerika yang tidak terjamin dalam asuransi kesehatan. Begitu pentingnya isu asuransi kesehatan ini sehingga menjadi salah satu hal yang dipertaruhkan dalam kampanyenya tahun ini melawan Mitt Rommey.

Sebagai warga kita sedikit banyak boleh bergembira karena negara kita ternyata tidak terlalu menelantarkan rakyatnya. Setidaknya jaminan dari negara berupa asuransi itu benar-benar ada.

Tips Naik KRL Commuter

Naik motor di Jakarta terpapar banyak asap, tidak baik untuk kesehatan paru-paru. Naik mobil hampir selalu terjebak macet berjam-jam, tidak baik untuk kesehatan jiwa. Naik taksi, walau kena macet juga tapi enak disupirin, sayangnya tidak baik untuk kesehatan finansial. Yang terbaik diantara yang terburuk adalah naik kereta, bebas macet walau jadwal datang tidak tentu dan hampir selalu penuh sesak.

Berikut ini beberapa tips yang mungkin bisa membuat anda makin nyaman naik KRL:

1. Berangkatlah ke Stasiun Sepagi Mungkin

Anda tidak akan pernah tahu kapan persisnya kereta akan datang. Tidak seperti MRT di negara lain yang datang setiap 5 menit, KRL commuter Jabodetabek datang sesuka hati dan kadang kalau lagi ngambek suka-suka mereka membatalkan perjalanan. Jadwal memang ada, tapi you know lah jadwal bikinan orang Indonesia itu bagaimana :) Perjuangan biasanya tidak berhenti sampai naik KRL, dari stasiun tempat anda turun biasanya masih harus berjuang lagi naik ojek, bus kota, atau taksi. Anda akan lebih tenang jika sampai tengah kota Jakarta lebih pagi.

2. Jangan Ketiduran

Di dalam kereta tidak ada petunjuk pengeras suara tentang stasiun apa yang akan dituju berikutnya. Kalau belum hafal stasiun-stasiun yang akan dilewati anda jangan sampai ketiduran dan bablas. Kalau masih siang ada kereta arah balik, tapi kalau itu kereta malam yang terakhir, Walahualam. Tetaplah waspada,  naik KRL cuma sebentar kok.

3. Bawa Anak dan Barang Bawaan Seminimal Mungkin

Kalau anda memang perlu membawa anak atau  barang banyak usahakan naik KRL tidak di jam sibuk. Di jam sibuk selain kereta penuh, orang akan turun rasa toleransinya sampai titik terendah. Saya sendiri pernah dimaki-maki seorang bapak karena naik kereta pas penuh-penuhnya tapi ransel saya tidak saya taruh di rak atas. Setiap kali penumpang tambahan naik di stasiun berikutnya dia bilang, ” Mas ini sih, ranselnya gak ditaruh rak, kan itungannya jadi dua orang”, pandangan matanya sambil mencari dukungan penumpang lain untuk mempersalahkan saya. Saya memang salah tapi letak rak untuk menaruh tas agak jauh dari posisi berdiri saya jadi saya diam saja sambil menahan malu sekaligus geram. Sesampainya di Palmerah sambil turun saya sikut saja si bapak nyiyir tadi, sekadar tanda kemarahan saja. Cemen ya saya tidak berani debat, ah yo ben yang penting puas.

4. Hand Sanitizer?

Gunakan antiseptik tangan bila perlu, setidaknya cuci tangan setelah turun dari kereta. Tanpa bermaksud obsesif kompulsif namun hampir pasti gantungan tangan di kereta tidak pernah dibersihkan padahal dalam sehari tidak terhitung berapa ribu tangan yang sudah memegang.

5. Wanita? Gunakan Gerbong Khusus

Sedih sebenarnya bagi saya kehilangan pemandangan wanita cantik tapi ya sudahlah. Demi keamanan, wanita yang bepergian sendirian hendaknya menggunakan gerbong khusus di bagian paling depan dan paling belakang. Lagipula katanya gerbong itu wanita relatif tidak bau. Memang diantara ratusan manusia isi gerbong selalu saja ada yang tidak sadar bau badannya breng-brengan, pede naik kereta tanpa mandi dan pakai obat ketek, dan itu biasanya pria.

6. Bawa Parfum

Sesampainya di kantor tidak ada salahnya semprotkan wewangian agar “bau besi” dari kereta tidak tertinggal. Ketika pulang juga tidak ada salahnya sekali lagi menyemprot parfum sebelum naik kereta. Menyenangkan orang lain itu amal ibadah bukan?

7. Baca Buku

Membaca dari iPad atau Tablet kesannya terlalu pamer, sementara BB…ah kuno. Buku kesannya lebih humble tapi intelek. Buku bisa jadi alasan menghardik tukang ngobrol di sebelah kita, dan di sisi lain -percayalah- Pria yang membaca buku itu tampak menarik di mata wanita. Yang tidak setuju boleh protes. Sementara membaca koran tampak om-om dari kampung banget apalagi kalau belinya Pos Kota dan matanya nyangkut di kolom “Nah Ini Dia” melulu. Saya juga sering beli koran di kereta dan menyesal, bukan karena malu dianggap om-om tapi karena tidak pernah sempat membentangkan tangan lebar-lebar untuk membaca, kereta sempit cuy.

8. Dahulukan Penumpang yang Keluar !

Biasanya di Tanah Abang kejadianya, penumpang yang mau keluar tidak bisa karena didesak masuk oleh mereka yang mau naik. Kejahatan sosial itu dilakukan hanya demi dapat secuil tempat duduk selama 40 menit (Tn.Abang-Serpong). Kalau yang diperebutkan itu kursi DPR pantas lah kalau sampai ngotot-ngototan begitu. Saya heran campur geregetan dengan kenyataan ini, karena pelakunya bukan cuma mereka yang kurang pendidikan tapi juga yang pernah sekolah di luar negeri dan bekerja di kantor paling berwibawa di Sudirman. Indonesia banget deh pokoknya kelakuan yang satu ini.

9. Prioritaskan Wanita Hamil, Penyandang Cacat dan Lansia

Ini sih standar di mana-mana. Tapi banyak yang pura-pura tidak tahu akan adanya norma umum ini. Jujur saya pun pernah beberapa kali kurang peduli dan memberikan hak kursi kepada mereka yang lebih membutuhkan. Saat ini saya masih belajar untuk lebih peduli, semoga anda juga :)

10. Ikut Muter Langsiran

Jika anda wanita hamil, lansia, penyandang cacat atau sekadar ingin bisa duduk, ikutlah naik kereta sampai stasiun ujung dulu sampai habis penumpang baru kemudian bersama-sama turut ke Jakarta agar dapat duduk. Jika anda pria jomblo bisa jadi ini hari keberuntungan anda karena dapat kenalan cewek hasil dari memberikan tempat duduk. Tapi kalau sudah dikasih kursi si cewek balas dengan nomer telpon (atau pin BB) palsu ya mungkin memang muka anda yang harus dipermak. Maaf.

11. Gunakan Loop Line Kalau Punya Waktu

Harapannya diterapkan sistem loop-line adalah terintegrasinya sistem kereta jabodetabek sehingga kita bisa turun di stasiun mana pun di dalam kota Jakarta tanpa harus berganti moda transportasi. Kereta api memang bebas macet tapi bukan berarti pasti cepat. Sebagai contoh kalau kita dari Tanah Abang ingin menuju Senen atau sebaliknya, kalau ikut kereta loop-line menempuh jarak 20 km sementara kalau naik taksi atau ojek cukup 5 km saja. Perlu diketahui juga, kereta yang melayani loop line hanya kerete dari Depok-Bogor sehingga dari Serpong, Tangerang atau Bekasi harus ganti kereta, waktu tunggunya seringkali lama.

12. Selalu Punya Alternatif Lain

Naik kereta memang enak tapi belum bisa seratus persen diandalkan. Dalam setahun minimal tiga kali kereta sama sekali tidak jalan seharian. Di samping itu kadang kita terlambat sampai stasiun dan kereta berikutnya jalan dua jam lagi. Jadi anda harus punya cadangan angkutan untuk menuju Jakarta dan sebaliknya.

Selamat menikmati KRL dan mari kita berdoa agar jumlah jalur maupun kereta terus ditambah. Amin

Sumber: http://mylittlebow.blogspot.com/2012/07/nightmare-train-hiiiiyyyy.html

 

 

 

How to Travel with Gautrain

The difference between my first visit to South Africa, on 2008 and the recent one this year 2012, is the remarkable Gautrain. As a foreigner I somehow feel safe to use this method of transportation in a country which has big concern on security issue.
Image

Not only safe but Gautrain also comfortable, fast and timely, although a bit too costly. As comparison Indonesian KRL only cost 0.7 USD per single trip, LRT Kuala Lumpur is 0.8 USD for maximum distance, Delhi metro only cost 0.4 USD per trip, Gautrain cost 4.5 USD for trip between Sandton in Johannesburg and Hatfield in Pretoria excluding the shuttle bus fare. However if you have no car to roam around Gauteng, this Gautrain helps a lot.

Here is some tips if you have plan to take Gautrain and don’t know how to use it:

1. Go right away to nearest station
First you need to buy the Gautrain Gold Card. There are card dispenser machines in each Gautrain station including those in O.R. Tambo Airport. Load/Reload card in the same machine as desired, but for airport ride you need to load about R200. You can also obtain and reload the gold card from certain outlets such as Spar
Image

2. Don’t hop into the bus without Gold Card loaded with minimum R20
This is the bus rule, but the bus driver might give you some tolerance since they are mostly seems friendly and they desperately need friend due to most Gautrain Bus only loaded not more than 5 passenger each trip even in the busiest hour. However, I am not suggesting you to try it since some of South African can be very strict in following rules.
Image

3. Park your car
Tired of heavy clogging traffic along Pretoria – Johannesburg every peak  hour every day? Why don’t you park your car at nearest Gautrain station and enjoy the train ride instead. My Indonesian friend had enough with this long commuting traffic for 15 year between Pretoria East to Sandton. Once he tried Gautrain from Centurion, he use it daily ever since.

4. The speed limit now is 160 km/h
You don’t have to worry all time checking between you speedometer and speed cameras along the N1 highway, because your speed limit is not 60 or 120 km/h by car but now 160 km/h by train
Image

5. It’s only a few minutes ride, why desperately eat and drink?
Eating, drinking, and chewing gum will be fined R700 on Gautrain ride.

6. Is all station safe?
Most of stations are located in the relatively secure area such as busines district or large shopping mall. Unfortunatelly the exchange station in Marlboro situated very near to Alexandra which security reputation is doubtful. Security guard and cameras are everywhere but to be careful all time is a must.

7.No Bus on weekend
Oh shame, but this is the situation

Have pleasant journey!

for more info, visit : http://www.gautrain.co.za/

Kenapa Harus Ada “Jakarta” di SEA GAMES Palembang 2011?

Hehehe, kesannya kok saya sinis banget sama Jakarta. Tapi pertanyaan saya serius, kenapa Palembang dengan segala kelengakapannya tidak mau berusaha tampil mandiri sebagai penyelenggara tunggal hajatan Sea Games ke 26 tahun 2011.

 

Logo SEA GAMES

Dua ratusan hari lagi menuju pelaksanaan SEA GAMES, langit Palembang sudah diwarnai dengan bendera negara-negara peserta SEA GAMES. Kota ini sudah siap-siap tak sabar bagaikan mempelai wanita menyambut hari pernikahan.

 

Kota ini memang belum sempurna tapi sudah berusaha menunjukkan kemajuan infrastruktur. Jalur kereta api sudah dibangun, jalan-jalan sudah diperlebar, sudah ada angkutan massal seperti busway, dan Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II sudah tampil cantik berkelas Internasional meskipun toiletnya di hall kedatangan masih bau bukan main. Memang persoalan kecil seperti seringnya terjadi penjambretan dan sulitnya mencari taksi masih membuat orang enggan mengunjungi kota pempek ini. Namun seiring dengan makin terbukanya Palembang ke mata dunia maka seharunya kota ini menjadi makin ramah terhadap pendatang.

 

Kota mana pun di Indonesia pada dasarnya bisa menjadi kelas dunia asalkan mereka menjadi aeropolis, kota yang memiliki lapangan terbang standar dunia. Dubai dan Kuala Lumpur adalah contoh dua kota yang menjadi besar karena memiliki lapangan terbang yang amat memadai. Maskapai lokal perlu digalakkan agar lebih banyak penerbangan langsung menuju kota tersebut. Saat ini kota di Indonesia yang menjadi hub bagi rute penerbangan barulah Jakarta dan Denpasar. Palembang dan Makasar tentunya harus bisa menjadi hub berikutnya karena letak dan potensi ekonomi daerah itu.

Kembali ke SEA GAMES, selamat wahai kawan-kawan di Palembang. Kalian sudah setengah langkah lebih maju. Semoga lain kali lebih mantap.

 

Berikut ini Link-link lain yang membahas SEA GAMES di Palembang, silakan disimak:

http://lemabang.wordpress.com/2009/07/13/palembang-tuan-rumah-sea-games-2011/

http://ariefz45.wordpress.com/2011/01/16/garuda-menjadi-logo-sea-games-2011-jakarta-palembang/

http://donniku.wordpress.com/2010/11/30/sea-games-2011-indonesia-harus-menang/

Tips Bepergian Jauh Menggunakan Bis Malam Antar Kota dan Travel

Bepergian jauh selama masih di dalam pulau Jawa sebenarnya paling pas menggunakan kereta api. Namun karena keterbatasan jalur, armada, serta ulah calo dan petugas, ketersediaan tiket kereta menjadi barang langka. Bis bisa jadi pilihan berikutnya dan hargan tiketnya pun umumnya lebih murah daripada kereta api.

Karina - Lorena

Pertama, saya ingin berbagi pengalaman menaiki bis antar kota:

  1. Waktu, pastikan anda punya cukup waktu untuk melakukan perjalananan dengan bus. Kondisi jalan tahun 2010 dengan 2005 sudah amat berbeda, dulu Jakarta – Jogja hanya butuh waktu 12 jam saja dengan bus sekarang ini 15-20 jam sudah biasa. Dengan waktu 12 jam saat ini anda baru akan sampai kota Semarang saja, dan kondisi ini kian hari kian parah saja. Bandingkan dengan kereta api yag makan waktu hanya 8-9 jam.
  2. Rekomendasi Bis, karena bis dikelola secara partikelir maka standar layanan tiap PO (perusahaan otobis) bisa jadi amat berbeda meskipun dengan tarikan harga tiket yang serupa. Pengalaman terakhir adalah naik bis dari Jakarta ke Semarang dengan bis jelek dan banyak penumpang komplain karena mendapatkan nomor kursi ganda. Terpaksa bus itu saya ambil juga karena tidak ada pilihan lain lagi. Jangan khawatir, kalau anda pemula dalam dunia per-bis-an banyak teman yang siap merekomendasi. Silakan saja buka link berikut:  http://www.bismania.org/
  3. Datang Awal, datanglah sedikit lebih awal dari jadwal yang tertera di tiket. Bis bisa jadi datang lebih awal di terminal, agen, atau halte tempat anda naik dan tidak mau menunggu anda terlalu lama kalau anda telat. Tapi jangan terlalu awal juga karena perhentian bis umumnya bukan teman yang aman dan nyaman untuk tinggal berlama-lama.
  4. Naik di Hentian Terakhir, Sebelum keluar dari kota keberangkatan, bus umumnya berputar-putar dulu untuk menjemput penumpang di sejumlah terminal dan agen. Hal ini bisa memakan waktu hingga 4 jam sendiri untuk kota semacet Jakarta. Kadang bis punya pool pemberangkatan terakhir misalnya untuk PO Sumber Alam ada di Pondok Ungu, Bekasi dan PO Sinar Jaya di Cibitung, usahakan naik dari tempat ini jika memungkinkan.
  5. Duduk Dekat Sopir, Baik di baris kanan maupun kiri, bangku belakang sopir persis biasanya jadi rebutan karena lebih lega dan dekat dengan TV. Posisinya yang dekat dengan sumbu roda justru membuat lokasi ini cukup stabil sehingga kemungkinan mabuk perjalanan bisa diminimalisir. Namun kalau pas dapat sopir yang ugal-ugalan anda akan disuguhi pemandangan langsung aksi nekat sang sopir di jalanan. Hindari duduk di kursi deretan panjang paling belakang terutama kalau anda gampang mabuk darat. Selain guncangan di belakan lebih kencang, kadang bau toilet bisa bocor dan membuat mual.
  6. Jangan Merokok, Bus AC memang sudah lazim digunakan sejak 20 tahun yang lalu, yang mana seharusnya tidak ada orang yang merokok sama sekali selama perjalanan karena kacanya rapat. Tapi masih ada saja yang coba-coba merokok di dalam bis di luar smooking room (jika ada). Biasanya justru kondektur bis pelakunya. Peringatkan saja. Saya pun kadang merokok tapi keberatan juga kalau ada orang yang merokok tidak pada tempatnya.
  7. Bawa Makanan, umumnya bis akan berhenti beberapa kali di restoran yang sudah bekerjasama dengan PO bersangkutan. Namun seringkali restoran yang menjadi tujuan tidak menyediakan makanan yang bahkan bisa disebut layak. Pernah saya mendapatkan pelayanan dan makanan yang menurut saya hanya pantas untuk diberikan di penjara. Bawalah makanan secukupnya yang sesuai selera anda dari rumah tapi jangan makan banyak-banyak atau anda akan mudah mual.

***

Kadang tiket bis pun bisa habis terutama saat liburan panjang sehingga saya mencari alternatif terakhir yaitu travel. Sebenarnya naik travel tidak terlalu buruk terutama jika anda adalah cowok yang sedang berburu pasangan. Banyak cewek yang gemar naik travel ternyata. Hanya saja kadang perjalanan dengan travel bisa lebih lama dari bis karena tidak hanya menjemput di terminal-terminal tapi untuk jarak jauh justru menjemput dari rumah ke rumah.

Berikut ini adalah perbandingan perjalanan antara travel dan bis antar kota:

  1. Antar Jemput, travel lebih nyaman karena dijemput di rumah dan diantarkan ke tujuan akhir (kecuali travel Bandung dari agen / pool). Sementara, bis hanya berhenti di terminal, agen, atau pool.
  2. Kemanan dan Kenyamanan, Karena armadanya kecil penumpang travel akan mengalami lebih banyak guncangan ketimbang bis apalagi kalau naik travel ke arah Jawa Tengah yang mana diwajibkan lewat jalur Subang-Cikamurang yang selalu berlubang parah. Jika terjadi kecelakaan maka bis akan relatif lebih aman karena badannya yang besar.
  3. Pengamen dan Pedangang, seketat-ketatnya bis antar kota tetap saja pengamen dan pedagang asongan bisa lolos ke atas bis, cukup mengganggu terutama kalau mereka naik di saat kita berusaha tidur. Anda akan terbebas dari masalah ini jika naik travel.
  4. Pilihan Restoran, kelebihan lain naik Travel, sejauh pengalaman saya, selalu diberhentikan di restoran yang relatif lebih bagus daripada pilihan restoran bis.

Jadi pilih mana? Yang jelas usahakan naik angkutan umum untuk bepergian jarak jauh. Lebih aman dan lebih ekonomis, kecuali kalau anda memang sedang ingin memamerkan mobil kreditan anda ke seisi kampung.

Selamat bepergian!