Jamasan Pusaka Malam Satu Suro di Rawalele

Salah satu buku yang sangat memengaruhi saya adalah Bilangan Fu karya Ayu Utami. Dalam buku ini sedikit digugat mengenai kebenaran mutlak monotheisme dan penitik-beratan hari akhir agama Samawi (Yahudi, Kristen, dan Islam). Sebagai aleternatif dihadirkan kearifan lokal kuno berupa animisme. Animisme di sini dihadirkan dalam bentuk provokasi untuk lebih mencintai alam dan kekinian. Agak rumit memang, namun buku ini membantu saya menjejakan pikiran saya di tanah di mana asal-usul saya bermula.

Sewaktu bekerja sebentar di Pretoria kemarin saya sempat keceplosan berujar kepada rekan satu tim saya Nkosinathi Magagula, yang Kristen banget, bahwa saya percaya pada benda seperti mata air, batu, keris, dan lain-lain. Reaksinya cukup keras,

Man, Jesus had died for you in order to save you … and now you worship on a stone?

“I see it as an alternative. It relieves me“, jawab saya terlalu jujur

I should pray for you, no no no…I must preach you…bla…bla…bla…“,

dia nerocos terus dari istirahat siang sampai jam pulang kantor. Keesokan harinya dia membawakan saya sejumlah buku Kristen dan memerintahkan saya membaca semuanya agar saya terselamatkan. Yah, salah ngomong deh. Memang dalam diri saya sedang terjadi pergulatan batin antara Katolikisme dan Animisme, sejauh ini tidak ada yang benar mutlak dan salah mutlak. Biasanya orang akan langsung menandai orang macam saya sebagai manusia mencla-mencle, saya tidak peduli.

Kepercayaan bahwa benda maupun fenomena alam memiliki kekuatan spiritual disebut animisme. Animisme umumnya dianggap usang. Sejak  ribuan tahun yang lalu posisinya telah digeser oleh agama baik yang politheis maupun monotheis. Namun animisme membawa berkah tersendiri. Ketika kita menghormati pohon kita tidak akan sembarangan membabat hutan. Ketika kita menghormati mata air kita tidak akan mencemarinya. Kemudian ketika saya menghormati keris, maka saya menghormati leluhur pendahulu saya yang dulu memegang keris itu.

Seperti terlihat di gambar, keris itu tidak tergolong keris rupawan. Ujung warangkanya mulai berkarat dan bagian tosan aji (bilah keris) sudah amat tipis, sepertinya karena termakan usia. Hal ini membuat saya sedikit percaya cerita bapak kalau keris ini dibuat oleh Empu Supa, salah satu empu terakhir di Kerajaan Majapahit, yang berati usia keris ini minimal 500 tahun. Tapi mengingat Empu Supa juga pembuat keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabukinten yang amat terkenal itu, saya jadi agak ragu dengan kebenaran mengenai pembuatnya. Konon keris ini adalah bagian dari pusaka keraton Yogyakarta. Kakek dari kakek buyut kami dipasrahi keris ini oleh Ngarsa Dalem Sri Sultan Hamengkubuwono II yang tidak lain adalah ayahnya sendiri. Cerita yang ini lebih masuk akal.

Waktu itu tahun 1950-an, pemberontakan DI/TII yang dipimpin oleh Kartosuwiryo sedang berkecamuk di Jawa Barat. Kakek saya adalah petugas pemangku hutan yang wajib berpatroli di seputaran Garut hingga Pangalengan. Pegawai republik yang masuk hutan adalah sasaran empuk penculikan DI/TII. Kakek bersama kerisnya selalu selamat keluar masuk hutan kala itu. Setelah kakek meninggal di tahun 1970-an, keris ini dipegang oleh nenek hingga saat dia meninggal di tahun 2005. Keris kemudian dipegang oleh bapak.

Setelah saya menikah dan pindah ke rumah sendiri bapak ingin memberikan keris itu kepada saya untuk membantu saya menjaga diri. Reaksi ibu dan istri saya kompak, dengan alasan repot karena harus merawat, mereka tidak setuju saya memboyong keris itu dari Yogyakarta ke Rawalele-Ciputat. Setelah beberapa kali pulang kampung akhirnya saya bersikeras untuk membawa keris itu. Hal ini saya lakukan bukan karena saya merasa tidak mampu melindungi diri dengan tangan kosong namun lebih karena ingin memiliki keterhubungan dengan sejarah keluarga.

Demi memiliki keterhubungan sejarah itu pula, pada peringatan Tahun Baru Hijriyah (Malam Satu Suro) yang jatuh pada tanggal 15 November 2012 kemarin, saya beranikan diri untuk melakukan jamasan pusaka sendiri. Entah metode saya benar atau tidak namun saya yakin niat saya benar. Saya memandikan keris itu bukan dengan harapan ada makhluk yang berkenan menunggu namun karena ingin merasa bertanggung jawab atas warisan luhur budaya. Karena itulah saya mencucinya sendiri walaupun sebenarnya ada ahli khusus pencuci keris di Rawa Belong dan Jatinegara. Prosesi ini ternyata cukup menyenangkan dan menenangkan bagi saya. Bagi anda yang ingin mencoba sendiri mencuci pusaka warisan keluarga bisa disimak di tulisan berikut ini.

Leluhur saya mungkin kurang beruntung karena tidak terlahir sulung dan tidak bisa menjadi Sultan Hamengkubuwono III. Namun demikian tiap keluarga pada hakikatnya punya kerajaannya masing-masing dan tiap generasi punya kewajiban memahsyurkan kerajaan itu. Bagi saya kerajaan saya di Yogyakarta sudah tergusur, hanya tersisa sebidang sempit tanah. Kerajaan saya yang baru sedang dibangun di sini, di Rawalele. Kemudian mengenai keris ini, saya harap suatu saat bisa mewariskannya kepada penerus saya sebagai pengingat baginya untuk memahsyurkan kerajaanya sendiri.

Sementara itu saya mungkin akan mencari keris-keris lain atau menambah koleksi dari sesuatu yang lebih praktis dan fungsional seperti pisau Leatherman kesayangan saya ini:

Keistimewaan Orang Jawa, Apa Ya?

Hari ini adalah pelantikan Gubernur/Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta berdasarkan Undang-Undang Keistimewaan Yogyakarta yang baru. Secara sinis izinkan hamba bertanya, “Apa sih Istimewanya?”. Jauh sejak zaman Mataram kuno orang Jawa sudah memiliki rajanya sendiri. Kenapa kali ini harus disahkan lagi oleh seorang presiden?

Rakyat menyambut dengan gegap gempita dengen arak-arakan di malioboro dan tumpengan bersama. Saya di sms oleh bapak saya kalau dia dan teman-temen sedang organ-tunggalan  di alun-alun kidul bersama teman-temannya SD untuk memeriahkan pelantikan ini.

Mayoritas masyarakat Jogja memang sangat nyengkuyung apa pun yang menjadi hajatan keraton termasuk pengukuhan keistimewaan ini. Tapi kalo boleh saya bertanya, apakah sesungguhnya keistimewaan itu? Pentingkah keistimewaan itu? Prestasi apa yang bisa kita raih dengan modal keistimewaan semacam itu?

Baiklah, saya tidak ingin menganggu masyarakat Jogja yang sedang berpesta keistimewaan. Ngomong-ngomong soal Jogja tentu kita semua setuju kalau Jogja adalah jantungnya peradaban Jawa. Walapun sempat mengungsi ke Jawa Timur setelah era Mataram Lama hingga Majapahit, namun akhirnya pusat budaya Jawa kembali ke tanah Mataram. Nah, ada sebuah masa yang menarik untuk dibahas yaitu ketika konon kabarnya orang-orang Jawa di bawah Majapahit mengusai wilayah yang lebih luas dari Nusantara pada masa kini. Kekuasaan Majapahit selain wilayah kepulauan Indonesia juga meliputi kepulauan Filipina, Malaka, hingga Champa yang kini dikenal sebagai Kamboja. Nama Gajah Mada, Sang Mahapatih yang mengucapkan sumpah Palapa, menjadi sangat termashyur karena prestasinya menyatukan Nusa-Antara.

Saya pun dari dulu percaya bahwa orang Jawa di era Majapahit adalah bangsa yang jaya. Namun sebuah studi dari National Geographic menyatakan sesuatu yang berlainan, Majapahit tidak pernah menguasai seluruh nusantara. Pada tahun 1945 M. Yamin sengaja mencitrakan bahwa Nusantara adalah jelmaan Majapahit di masa lalu sebagai alasan magis-emosional demi cita-cita terbentuknya negara kesatuan Republik Indonesia. Gajah Mada itu sendiri belum jelas kiprah dan prestasinya namun sudah terlanjur mashyur dan menjadi nama Universitas tempat saya pernah belajar. Wilayah asli majapahit tidak pernah lebih besar dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, tempat bermukimnya orang Jawa pada masa kini. Ini merupakan skandal ilmiah dalam sejarah yang membuat saya kecewa karena ternyata leluhur saya bukanlah bangsa yang besar.

Kalau dilihat dari kondisi saat ini dimana bangsa Indonesia, yang mayoritas Jawa, sangat jarang berprestasi saya rasa memang demikian juga keadaanya 500 – 1000 tahun yang lalu. Walapun jika kita tinjau orang-per-orang ada beberapa orang Jawa yang brilian namun dalam level kelompok atau bangsa kita jarang sekali menorehkan prestasi. Ranomi Kromowidjojo, keturunan Jawa yang memperoleh emas di London 2012, pun berada di bawah asuhan negeri Belanda bukan Indonesia / Jawa.

Begitulah keadaa leluhur kita dan kita kini yang jarang berprestasi namun selalu mengunggulkan keistimewaan. Kita selalu merasa adiluhung dan berbudaya tinggi tanpa bisa membuktikan banyaknya bukti budaya yang tinggi itu. Satu saja yang bisa kita banggakan dan jelas ada buktinya adalah Borobudur tapi itu dibangun tahun 825 M, sekitar selusin abad yang lalu. Apakah kita cukup puas hanya punya satu prestasi besar dalam kurun waktu sepanjang itu? Lalu kita berani menyebut diri “Istimewa”?

Sudahlah, tidak akan ada habisnya meratapi kondisi ini. Kita tidak boleh membiarkan keistimewaan kita sebagai orang Jawa menjadi ambigu karena kurang bukti. Alih-alih mencari bukti sejarah, kenapa kita tidak berusaha saja mencetak sejarah baru sehinga seribu tahun lagi orang akan mencatat bangsa kita adalah bangsa yang istimewa.

Orang Australia mengakui sejarah kelam leluhur mereka yang umumnya adalah orang buangan dan narapidana Inggris. Kini Australia menjadi bangsa bermatabat dan negaranya menjadi tujuan favorit pengungsi karena baiknya sarana dan peluang perbaikan nasib yang ada di sana.

Lupakan keistimewaan kita sebagai orang Jogja, sebagai orang Jawa atau sebagai orang Indonesia, karena memang susah membuktikannya. Lebih baik kita mengakui bahwa kita kini masih pecundang lalu mulai mengejar target-target prestasi baru sebagai bangsa.